Kolom Kang Hasan

Tanggung Jawab Gelar dan Jabatan Akademik

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 14 Jun 2021 09:38 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Apa makna gelar akademik yang melekat pada nama seseorang? Yang paling dasar adalah gelar itu menunjukkan bahwa ia pernah kuliah, melalui sejumlah proses pengujian, dan lulus. Makna lebih lanjutnya adalah ia punya sejumlah kompetensi. Tapi soal kompetensi ini lebih rumit. Pengujian terhadapnya tidak sekadar melalui selembar ijazah yang memberikan gelar tadi. Pengujiannya di lapangan.

Orang yang benar-benar memiliki kompetensi akan mendapat kesempatan bekerja, memakai kompetensi yang dimiliki. Di situ ia membuktikan kompetensinya. Yang tidak memiliki kompetensi hanya sekadar punya gelar di depan nama, tanpa ada makna lain.

Suka atau tidak, gelar-gelar akademik sudah terlalu banyak diberikan, terlalu mudah diperoleh. Kita sekarang mengenal istilah pengangguran terdidik. Ini sebutan untuk orang-orang dengan gelar sarjana tapi menganggur. Kata orang, itu karena kurangnya lapangan kerja. Tapi faktanya, lebih sering itu terjadi karena orang sekadar mendapat gelar saja, tanpa memiliki kompetensinya.

Menjual gelar sudah jadi bisnis besar sekarang. Terhadap orang-orang besar, gelar yang dijual lebih besar lagi. Gelar sarjana S1 tidak cukup. Bagi mereka disodorkan gelar yang lebih tinggi, master atau doktor.

Apa makna punya gelar doktor? Yang utama adalah kemampuan melakukan riset. Yang mau capek-capek kuliah biasanya orang-orang yang mau menekuni karier di bidang riset. Untuk menjadi doktor, seseorang juga harus memenuhi sejumlah syarat terkait riset, seperti publikasi di jurnal ilmiah. Kalau seseorang punya gelar doktor tanpa memiliki karya ilmiah yang patut, dan tidak menghasilkan karya ilmiah sesudah punya gelar itu, maka status dia mirip dengan sarjana pengangguran tadi.

Faktanya banyak orang yang berperilaku begitu. Gelar doktor dianggap sesuatu yang bisa membuktikan bahwa ia pandai atau intelek. Intelektualitas yang seharusnya dibuktikan dengan karya, atau setidaknya melalui pembicaraan cerdas, direduksi dengan selembar ijazah dan sebuah gelar di depan nama.

Lebih konyol lagi soal profesor. Sampai saat ini masih banyak orang mengira bahwa profesor itu adalah gelar. Bukan. Profesor itu jabatan. Untuk mencapai jabatan itu seseorang harus menjadi dosen dulu, mengajar dan menghasilkan karya ilmiah. Tapi ada saja orang-orang yang berharap mendapatkan itu tanpa perlu melewati prosesnya. Sekitar 10 tahun yang lalu pernah ada mantan menteri yang tiba-tiba minta diusulkan menjadi profesor setelah turun dari jabatan menteri.

Bagaimana dengan profesor tidak tetap? Sama saja. Profesor tidak tetap adalah jabatan yang diberikan kepada yang bukan dosen. Ia pun tak harus memiliki karya-karya ilmiah formal. Yang diharapkan dari dia adalah tacit knowledge, pengetahuan yang tidak terdapat dalam buku-buku teks. Poin terpenting pengangkatannya adalah apakah dia memang sanggup memikul tanggung jawab untuk menyebarkan pengetahuannya. Jadi bukan sekadar karena ia punya tacit knowledge.

Artinya, seseorang yang diangkat jadi profesor tidak tetap itu punya kewajiban untuk mengajar. Tentu saja sebelum itu ia harus punya kemampuan mengajar. Pemberi jabatan harus memastikan itu. Penerima jabatan juga perlu menyadari konsekuensi itu. Sekali lagi, profesor itu bukan gelar yang akan membuat bangga kalau dipasang di depan nama. Seharusnya jadi aib kalau ada profesor yang tidak mengajar. Itu sama saja dengan pembalap yang tidak (bisa) naik motor atau mobil.

Punya gelar dan jabatan akademis itu bisa jadi kebanggaan kalau kita memikul tanggung jawabnya. Kalau tidak, itu hanya akan jadi kosmetik yang memoles wajah badut. Cuma jadi alat penambah kekonyolan kita.

(mmu/mmu)