Kolom

Kesejahteraan Komodo di Tangan Orangtua Asuh

Marianus Mayolis - detikNews
Jumat, 11 Jun 2021 15:53 WIB
Kesejateraan Komodo di Tangan Orang Tua Asuh
Jakarta -
Komodo (Varanus komodoensis) adalah spesies biawak besar yang terdapat di Pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Biawak ini oleh penduduk asli Pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora.

Komodo merupakan spesies terbesar dari familia Varanidae, sekaligus kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 meter dan beratnya bisa mencapai 100 kg. Komodo merupakan pemangsa puncak di habitatnya karena sejauh ini tidak diketahui adanya hewan karnivora besar lain selain biawak ini di sebarang geografisnya.

Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka menjadi salah satu hewan paling terkenal di dunia. Sekarang, habitat komodo yang sesungguhnya telah menyusut akibat aktivitas manusia, sehingga lembaga IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan.

Biawak komodo telah ditetapkan sebagai hewan yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia dan habitanya dijadikan taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, yang tujuannya didirikan untuk melindungi mereka.

Kesejahteraan Hewan

Saya membaca berita tentang 10 ekor komodo di Kebun Binatang Surabaya yang telah mendapatkan orangtua asuh, yaitu PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III. Mewakili orang NTT saya pun merasa bangga dan apresiasi kepada Bapak Edi Priyanto sebagai Direktur SDM Pelindo III yang memiliki gagasan tersebut, bahwa dengan kehadiran orangtua asuh bagi komodo dapat membantu pihak pengelola kebun binatang dalam meningkatkan kesejahteraan komodo.

Merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012, kesejahteraan hewan adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. Sedangkan menurut Undang-undang Nomor 6 Tahun 1967, kesejahteraan hewan ialah usaha manusia memelihara hewan, yang meliputi pemeliharaan lestari hidupnya hewan dengan pemeliharaan dan perlindungan yang wajar.

Kesejahteraan satwa (animal welfare) memiliki tiga aspek penting, yaitu welfare science, etika, dan hukum. Welfare science mengukur efek pada hewan dalam situasi dan lingkungan berbeda dan dari sudut pandang hewan. Kesejahteraan etika yakni mengenai bagaimana manusia sebaiknya memperlakukan hewan. Kesejahteraan hukum mengenai bagaimana manusia harus memperlakukan hewan.

Ada cara untuk menilai kesejahteraan satwa sesuai Pedoman Penilaian Lembaga Konservasi, terdiri dari 5 prinsip kebebasan yaitu: (1) Bebas dari rasa lapar dan haus, (2) Bebas dari ketidaknyamanan lingkungan, (3) Bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit, (4) Bebas dari rasa takut dan tertekan, (5) Bebas untuk menampilkan perilaku alami. Kelima faktor dari lima kebebasan saling berkaitan dan akan berpengaruh pada semua faktor apabila salah satu tidak terpenuhi dan terganggu.

Apabila lima faktor itu terabaikan, maka akan berdampak buruk pada kesejahteraan dan memicu stres. Stres akan mengakibatkan hewan rentan terhadap penyakit, menurunkan penampilan hewan, menurunkan produksi hewan, menekan sistem kekebalan tubuh, dan memberikan pengaruh buruk pada kesehatan manusia, serta hewan atau satwa tersebut mendekati kepunahan.

Dengan demikian saya berharap kejadian buruk di masa lalu tidak terulang. Yakni pada tahun 2010 terkait krisis keuangan yang dialami pengelola Kebun Binatang Surabaya yang berimbas pada tidak berfungsinya alat penyaring air sehingga yang air yang dikonsumsi tidak sehat dan membuat sakit serta kelumpuhan pada 6 ekor komodo. Dan, pada tahun 2014 ada kasus kematian bayi komodo.

Marianus Mayolis mahasiswa S2 Ilmu Lingkungan Undana-Kupang

(mmu/mmu)