Kolom

Konten Hiburan dan Gaya Hidup "Food Waste"

Syena Meuthia - detikNews
Jumat, 11 Jun 2021 14:31 WIB
Mukbang Mie Seblak Esktra Sepiring Cabe Rawit ala Tanboy Kun
Foto ilustrasi: YouTube/Tanboy Kun
Jakarta -

Permasalahan lingkungan hidup di Indonesia menjadi aspek yang masih perlu menjadi pekerjaan rumah bersama. Salah satunya yang paling dekat dengan gaya hidup kita sehari-hari adalah makanan.

Berdasarkan laporan Food Sustainable Index 2018 terbitan The Economist Intellegent bahwa setiap penduduk Indonesia membuang sekitar 300 kg makanan per tahun. Penelitian tersebut menggambarkan bahwa Indonesia termasuk negara penyumbang sampah makanan cukup besar; kurang lebih 13 juta ton sampah makanan terbuang setiap tahunnya.

Setiap aktivitas rumah tangga pastinya menghasilkan sampah bekas makanan. Kebiasaan membuang makanan disebut dengan food waste ,merujuk pada sampah makanan yang siap konsumsi dan masih memenuhi gizi seimbang namun terbuang begitu saja.

Pola Konsumsi Berlebih

Salah satu faktor terjadinya food waste sebenarnya dipengaruhi oleh adanya pola konsumsi makanan masyarakat yang boros. Kondisi meningkatnya sampah makanan juga dipengaruhi oleh munculnya berbagai konten hiburan di media sosial yang membuat sesuatu dengan bahan dasar makanan.

Sebut saja konten hiburan yang dibuat oleh kreator TikTok asal Amerika Serikat dengan nama @wasildaoud melanggengkan hal tersebut. Dalam kontennya ia menampilkan dirinya membuat makanan dengan cara yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain, yaitu menggunakan bahan makanan dengan jumlah yang berlebihan dan dilakukan dengan membuangnya begitu saja tanpa ada takaran.

Akun TikTok dengan pengikut yang sudah hampir 3 juta tersebut mempertontonkan prilakunya membuang hampir berkilo-kilo makanan. Padahal bahan makanan tersebut masih layak dikonsumsi, tetapi ia lakukan semata-mata untuk sebuah konten hiburan yang sekedar ingin mendapatkan banyak viewers.

Kepopuleran video-video itu melandasinya untuk terus menyajikan hal serupa secara berulang-ulang. Bahkan ia tak segan mengunggah video setiap hari. Jika satu video membutuhkan hampir 1-5 kilogram, berapa banyak jumlah makanan yang sudah dibuang secara sia-sia setiap satu hari? Tak terhitung lagi bagaimana borosnya sampah makanan yang ia sumbang setiap bulannya untuk lingkungan demi untuk sebuah konten.

Mirisnya lag,i hal tersebut dilakukan saat masa pandemi, ketika banyak orang merasakan kelaparan karena kekurangan bahan makanan yang baik.

Tak hanya itu, konten hiburan yang merepresentasikan pola konsumsi makanan berlebih juga dihiasi dengan konten mukbang. Mukbang menjadi salah satu konten hiburan online yang banyak diproduksi juga oleh kreator TikTok. Tren tersebut awalnya berasal dari Korea Selatan. Istilahnya sendiri berasal dari kata "meok-da" atau makan dan "bang-song" atau siaran. Biasanya mukbang dilakukan dengan mencoba makanan dalam porsi superbesar.

Konten mukbang menjadi sangat digemari oleh penonton di Indonesia. Selama masa pandemi, content creator mukbang menjamur. Profesi tersebut menjadi sangat menjanjikan karena menghasilkan pundi-pundi rupiah dalam setiap video yang mereka produksi, sehingga membuat kreator TikTok di Indonesia juga berlomba-lomba melakukan mukbang dengan beragam ciri khasnya.

Kreator mukbang TikTok Siska Kohl asal Indonesia telah memiliki jumlah pengikut 6 juta lebih. Videonya amat populer lantaran menyajikan konten mencoba makanan dengan harga fantastis, bahkan dalam porsi yang sangat besar dan banyak.

Memang hal tersebut dilakukan oleh dirinya sendiri, tetapi konten yang mereka sajikan dapat mempengaruhi belasan juta orang di dunia. Bahkan penontonnya juga dapat melakukan hal serupa. TikTok yang menjadi platform populer selama masa pandemi, dilaporkan oleh Statista per Februari 2021 telah memiliki pengguna aktif hariannya secara global menembus angka 35,28 juta pengguna. Tak ayal, konten-konten di TikTok akan menghadirkan pengaruh cukup besar untuk kehidupan di masyarakat.

Karena jika melihat dokumen perusahaan TikTok tentang data audiens dan perilaku pengguna, pengaruh konten TikTok terhadap audiens sekitar 47 persen pengguna mengatakan bahwa mereka tergiur untuk membeli sesuatu setelah menonton konten di TikTok. Sementara 67 persen pengguna menyebut bahwa TikTok menginspirasi mereka untuk membeli barang yang sebelumnya tidak pernah direncanakan.

Merujuk dari data itu, kedua kreator tersebut membawa pengaruh terkait pola konsumsi makanan berlebih. Dari kedua contoh kreator asal Amerika yang telah memiliki hampir 100 juta lebih likes dan kreator asal Indonesia dengan 180 juta likes akan ada berapa juta orang di seluruh dunia yang mencobanya? Pengaruhnya akan berdampak pada jumlah sampah lingkungan yang terus meningkat untuk lingkungan hidup.

Dampak Lingkungan

Sampah makanan merupakan jenis sampah organik, yang menyumbang dampak bagi lingkungan karena dapat menimbulkan gas metana. Bahayanya lagi, ketika gas dihasilkan dari sampah organik yang tertumpuk terlalu banyak, akan menghasilkan ledakan.

Dalam ranah rumah tangga memang tidak dirasakan, namun yang perlu menjadi perhatian bersama adalah pengolahan sampah yang sesuai prosedur. Karena terkadang pengolahan sampah yang dilakukan oleh masyarakat petugas pengolahan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semata-mata hanya dicampurkan begitu saja. Hal ini juga akan berdampak pada kualitas dan kesuburan tanah.

Selain itu, pengaruh pola konsumsi makanan yang boros bisa mengakibatkan sistem produksi pangan yang juga akan berlebih. Pemahaman tersebut di masyarakat terkadang masih minim. Meningkatnya produksi pangan berkaitan erat dengan bagaimana asal makanan itu sendiri yakni diambil dari keragaman hayati yang terus dieksploitasi untuk memenuhi permintaan pasar dalam hal konsumsi pangan.

Produksi pangan berlebih menghasilkan efek pelik untuk lingkungan. Karena bukan hanya menghasilkan makanan, pastinya dalam produksi pangan juga memerlukan pembungkus. Sebagian besar pembungkus makanan di Indonesia masih menggunakan plastik. Kita ketahui bersama bahwa masalah plastik di Indonesia juga masih menjadi masalah untuk lingkungan hidup.

Syena Meuthia mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

(mmu/mmu)