Kolom

Dunia Digital dan Ekonomi Keganjilan

Rahmat Petuguran - detikNews
Kamis, 10 Jun 2021 14:49 WIB
screenshot video viral pemudik marah ketika ditegur petugas
Sebuah tangkapan layar dari salah satu video yang viral
Jakarta -

Kalau Anda pengguna media sosial aktif, tiga kehebohan di internet ini pasti sempat singgah di layar ponsel Anda. Pertama, perempuan berjilbab biru yang memaki polisi saat kendaraannya dihadang agar balik arah. Kedua, ibu paruh baya yang memaki kurir yang mengantarkan barang pesanannya dengan makian "blok, goblok". Ketiga, perempuan yang ngamuk dan membanting ponsel lantaran diminta polisi balik arah dalam perjalanannya ke Anyer.

Fakta bahwa ketiga video itu viral menunjukkan tingginya minat masyarakat (kita?) terhadap peristiwa-peristiwa ganjil seperti itu. Orang-orang yang marah di jalanan, yang bertengkar dengan sesamanya, atau yang baku hantam bahkan dengan orang yang tak dikenal ternyata menarik perhatian dan membuat kita terhibur.

Kita mungkin menyangkal bahwa kita terhibur oleh peristiwa-peristiwa itu. Sangkalan itu muncul karena kita tidak ingin diidentifikasi sebagai psikopat digital yang doyan menikmati keriuhan dan kekerasan di layar ponsel. Tapi kenyataan bahwa kita rela menghabiskan waktu dan biaya untuk menontonnya, itu membatalkan sangkalan yang kita buat.

Sebaliknya, kalau mau jujur, kita perlu mengakui bahwa tayangan-tayangan seperti itu memang menarik. Tontonan itu menarik karena memberi kita tempat pelarian dari kehidupan asli kita yang mungkin terasa monoton dan menjemukan. Seperti sirkus, tayangan itu memberi dunia yang mengasyikkan karena menyuguhkan peristiwa aneh dan ganjil yang ternyata "benar-benar" terjadi.

Kegemaran kita pada tontonan yang ganjil, aneh, dan berbau kekerasan juga terabadikan dalam frasa "sesuai harapan netizen". Ungkapan ini biasanya digunakan untuk menunjukkan "keganjilan yang diharapkan". Misalnya, pengendara motor urakan yang terjungkal, remaja banyak gaya yang jatuh saat beraksi di depan kamera, atau orang yang baku hantam setelah cekcok.

Kecenderungan kita menyukai keganjilan beraroma kekerasan mungkin saja bersifat alamiah. Kita memperoleh sifat itu dari leluhur yang menjadikan kekerasan sebagai bagian dari cara mengelola kehidupan: berkelahi, agresi, dan perang. Namun sifat alamiah itu selama ini direpresi karena kita hidup pada dunia baru yang mengagungkan perdamaian, kerukunan, dan harmoni.

Watak alami itu kembali keluar ketika hidup di dunia baru bernama dunia digital. Dunia baru ini memungkinkan kesukaan purbawi terhadap hal-hal aneh yang mengandung kekerasan muncul lagi karena sifatnya yang anonim dan tertunda. Ia bersifat anonim, atau setidaknya pseudo-anoni, karena kehadiran kita di dunia digital tidak terhubung langsung dengan diri identitas fisiologis kita. Ia juga bersifat tertunda karena konsekuensi sosial yang muncul di dunia digital tak serta merta diterima.

Dua sifat dunia digital itulah yang membuat kita sering merasa baik-baik saja melakukan keanehan-keanehan. Banyak orang berani menghina orang lain karena merasa aman, tidak akan menerima tonjokan atau tamparan karena penghinaan yang diujarkannya. Banyak orang juga berani berbuat aneh karena tidak langsung menerima olok-olok dari lingkungannya.

Sifat dunia digital seperti itu membuat diri purba kita, yang selama ini direpresi, kembali muncul. Kegilaan, keganjilan, dan kesukaan terhadap kekerasan muncul kembali. Awalnya mungkin muncul sedikit dan malu-malu, tapi belakangan semakin terbuka karena dinormalisasi oleh "ekonomi keganjilan" sebagai sesuatu yang wajar.

Komoditas

Ekonomi keganjilan adalah mekanisme pertukaran yang menjadikan keganjilan sebagai komoditas. Karena menjadi komoditas, keganjilan memiliki harga dan bisa diperjualbelikan. Semakin ganjil, semakin mahal harganya, semakin banyak pengorbanan yang diperlukan untuk menikmatinya.

Bentuk paling sederhana dari bekerjanya ekonomi keganjilan adalah ramainya akun-akun media sosial yang menawarkan keganjilan sebagai hiburan. Akun seperti ini diikuti puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan pengguna internet. Mereka menayangkan rekaman aneka peristiwa aneh dan ganjil dari mana-mana.

Di antara jenis keanehan-keanehan itu, keanehan yang berbau kekerasan jadi komoditas paling menguntungkan. Pertengkaran antara kurir dan pengguna layanan COD, perkelahian sesama pengguna jalan, dan kecelakaan selalu mendapat penonton terbanyak. Semakin aneh, semakin banyak penonton, semakin banyak keuntungan ekonomi yang didapat distributornya.

Mekanisme ekonomi itulah yang membuat keganjilan tak lagi menjadi sesuatu yang perlu disimpan rapat-rapat atau dihindari. Karena menjadi komoditas, perilaku ganjil bahkan sengaja diproduksi dan didistribusikan agar bisa dikonsumsi penikmatnya: kita.

Situasi itu kemudian menciptakan relasi timbal balik antara tontonan dengan perilaku penikmatnya. Tayangan ganjil bukan saja merepresentasikan keganjilan yang ada di masyarakat tetapi juga membentuknya.

Ekonomi keganjilan bukan saja membuat perilaku-perilaku ganjil menjadi tampak normal, tetapi memicu kelahiran perilaku ganjil lain. Itulah alasan yang membuat kita makin akrab dan toleran terhadap berbagai keganjilan di sekitar kita. Sesuatu yang dulu ganjil dan memalukan perlahan menjadi wajar.

Rahmat Petuguran dosen Universitas Negeri Semarang

(mmu/mmu)