Kolom

Kembali Sekolah Tatap Muka yang Membingungkan

Poppi Marini - detikNews
Rabu, 09 Jun 2021 13:50 WIB
Suasana sekolah tatap muka hari pertama di SDN Pejaten Timur 01 Pagi Jaksel
Suasana kembali sekolah tatap muka di sebuah SD di Jakarta Selatan (Foto: Farih/detikcom)
Jakarta -
Beberapa waktu yang lalu, sekolah di daerah sudah mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka. Berbekal hasil survei yang menanyakan beberapa pertanyaan mengenai keadaan anak serta riwayat penyakit keluarga dan dibagikan ke semua orangtua murid di sekolah. Termasuk sekolah swasta tempat kedua anak saya sekolah. Keputusan untuk mengizinkan anak-anak sekolah tatap muka berada di tangan orangtuanya.

Dan, sekarang sudah memasuki bulan ketiga sekolah mengadakan belajar tatap muka dengan sistem membagi 30 orang murid menjadi dua shift yang masuk bergantian pada hari yang berbeda. Masing-masing shift hanya belajar 4 jam, tanpa istirahat untuk bermain. Jam istirahat yang sebentar itu hanya digunakan untuk menyantap snack yang dibawa dari rumah. Itu juga harus duduk di kursi masing-masing, dan tidak boleh bertukar makanan dengan teman yang lain.

Bisa dikatakan keadaan kelas saat belajar tatap muka itu bebas tapi terikat. Mulai belajar tatap muka dengan sistem membagi rombongan belajar menjadi dua shift ada kekurangannya. Dalam sehari mereka harus belajar beberapa pelajaran seperti biasa, hanya saja durasinya yang berkurang. Biasanya satu jam pelajaran memerlukan waktu 90 menit, namun kini hanya menghabiskan waktu 60 menit bahkan kurang.

Dan, biasanya anak-anak akan membawa setumpuk tugas yang tidak selesai mereka kerjakan karena kurangnya waktu. Seperti yang dikeluhkan anak pertama saya yang duduk di Kelas X, "Belajar di sekolah ternyata nggak lebih mengerti dibandingkan daring. Tugasnya banyak terus gurunya menjelaskan terlalu cepat karena waktunya dipangkas."

Selain membagi rombongan belajar menjadi dua shift, seminggu sekali sekolah juga mengubah jadwal masuk. Tujuannya agar setiap shift memperoleh kesempatan belajar tatap muka untuk semua pelajaran setiap bulannya. Contohnya, jika minggu pertama shift 1 masuk pada hari Senin, Rabu dan Jumat, maka minggu depan shift 1 akan masuk pada hari Selasa dan Kamis, sedangkan Sabtu anak-anak diliburkan.

Namun ternyata niatan sekolah agar anak-anak bisa mendapat kesempatan menerima semua pelajaran tidak bisa dilaksanakan dengan mulus. Buktinya memasuki tiga bulan belajar tatap muka ternyata, seperti dialami anak saya yang bungsu, hanya mendapatkan satu kali pelajaran pengenalan komputer. Belum terbayangkan bagaimana ujian kenaikan kelasnya nanti.

Pembelajaran Daring

Selama pembelajaran daring, anak-anak hanya diberikan tugas mengerjakan latihan ataupun prakarya. Kemudian hasilnya difoto atau direkam dan dikirimkan langsung ke guru pelajaran masing-masing untuk dinilai. Terkadang tugas yang diberikan disertai dengan video atau rekaman suara bernarasi pendek mengenai penjelasan tentang pelajaran yang diajarkan.

Sejak awal pembelajaran daring, jadwal pelajaran adalah tentatif; bisa berubah setiap hari tergantung kesiapan gurunya dalam memberikan rekaman penjelasan pelajaran. Hal ini menunjukkan kemampuan guru baik dalam bidang teknologi informasi ataupun mengajar satu arah masih sangat kurang.

Di Whatsaap grup kelas, orangtua mengeluhkan anak-anaknya yang kewalahan mengerjakan tugas dari sekolah. Dan guru hanya memberikan jawaban yang tidak memuaskan. Jawaban, "Kami hanya mengikuti peraturan sekolah dan itu sudah menjadi hasil rapat para guru," seperti sudah menjadi default answer yang dilontarkan para guru.

Memang mendidik anak bukan hanya tugas guru di sekolah, tapi jika tidak terciptanya kondisi yang saling mendukung menjadikan orangtua lepas tangan dan bersikap masa bodo. Yang terpikir oleh mereka, daripada anaknya stres dan menurunkan imun tubuh, lebih baik dia mengerjakan semampunya saja.

Ditambah lagi, kesulitan yang ditemui pada anak-anak karena sekolahnya menggunakan kurikulum 2013 (K13) yang lebih sulit untuk dimengerti pelajarannya dibandingkan sekolah yang masih menggunakan kurikulum Tingkat Standar Pendidikan (KTSP). Di K13 beberapa pelajaran digabungkan dalam satu sub tema, sehingga penjelasan yang dicantumkan sangatlah sedikit.

Selama daring, orangtua "tanpa ilmu" mengajar mengandalkan Google dalam mencari jawaban, bukan mencari cara untuk menyelesaikan suatu soal. Karena mengajarkan anak usia SD lebih sulit dibandingkan usia yang lebih dewasa, jadi tak jarang anak-anak hanya sekadar menyelesaikan tugas tanpa mengerti maksud pembelajaran.

Oh, ya...satu lagi, nilai standar kelulusan untuk masing-masing pelajaran sebelum dan selama pandemi tidak berubah. Bayangkan saja, selama daring anak-anak sudah kesulitan dalam menerima pelajaran dan ketika ujian mereka "dipaksa" mendapatkan nilai sesuai standar minimal yang sama dengan jika pembelajaran tatap muka. Jika tidak mencapai nilai minimal, maka remedial adalah jalan keluarnya. Begitu beratnya sistem pendidikan di Indonesia.

Membutuhkan Persiapan
Peralihan dari belajar daring ke tatap muka ternyata membutuhkan banyak persiapan. Mengingat kendala yang ditemui setiap anak selama sekolah daring sangatlah beragam. Bukan hanya masalah gawai, jaringan internet yang tidak bersahabat atau pendampingan orangtua yang tidak bisa didapatkan oleh semua anak. Tetapi juga daya tangkap anak-anak terhadap pelajaran yang diberikan juga berbeda.

Bahkan ketika saya berkesempatan mendampingi anak dalam mengikuti pembelajaran mengenai hitungan pecahan melalui video call dengan gurunya, ada seorang murid yang mengikuti pembelajaran sambil berbaring. Alasannya karena ia tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh gurunya. Belajar matematika tanpa corat coret di papan tulis tentang cara menghitung adalah suatu kemustahilan untuk dapat dimengerti.

Melihat begitu banyaknya pelajaran yang tidak tuntas dan membingungkan selama pembelajaran daring, maka me-review pelajaran yang telah diberikan selama daring beberapa hari di awal pembelajaran tatap muka amat sangat dibutuhkan oleh murid. Adaptasi dengan teman-teman dan guru seperti layaknya anak-anak yang baru masuk sekolah pertama kali juga dibutuhkan demi kenyamanan mereka dalam belajar.

Melanjutkan pelajaran beserta tugas yang selalu dibawa pulang karena besoknya harus masuk bergantian.dengan teman yang lain hanya menambah kebingungan mereka. Bagaimana tidak, pelajaran yang lalu saja mereka masih belum mengerti, sudah diberikan tugas lanjutan dan harus diselesaikan. Hal seperti itu seakan-akan anak menjadi korban dari sekolah untuk mencapai tujuan akhir kurikulum mereka.

Dan, parahnya lagi, dampak dari kebingungan anak-anak itu mengakibatkan malasnya mereka ke sekolah dan dibuktikan oleh status Whatsapp gurunya hari ini yang mengeluhkan makin hari makin sedikit berkurang anak-anak yang masuk sekolah.

Tiga Opsi

Menghadapi pandemi ini, ada tiga opsi yang ditawarkan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim, yaitu tetap mengacu ke kurikulum nasional, menggunakan kurikulum darurat (biasanya bagi sekolah yang melakukan Pembelajaran Jarak Jauh), dan menyederhanakan kurikulum secara mandiri. Semua ini dikembalikan ke sekolah untuk menggunakan opsi yang mana tergantung dengan keadaan murid dan situasi di daerah masing-masing.

Cuma apakah ada evaluasi menyangkut keberhasilan ketiga opsi tersebut? Apakah ketiga opsi tersebut masih layak dijalankan mengingat pandemi ini mustahil akan selesai dalam setahun atau dua tahun? Dan, apakah kebingungan yang ditimbulkan selama pembelajaran baik daring ataupun tatap muka karena menggunakan salah satu dari opsi yang ditawarkan? Jika iya, maka banyak perbaikan yang harus diselesaikan.

Sampai saat ini belum ada suatu ukuran yang bisa menggambarkan ketiga opsi tersebut. Padahal tahun lalu sudah ada kelulusan perdana pada masa pandemi. Bagaimana dengan nilai? Apakah banyaknya siswa yang mendapatkan nilai di atas rata-rata bisa dijadikan penentu keberhasilan penggunaan kurikulum darurat? Bukannya berniat su'udzon, kebiasaan mencontek belum bisa dihilangkan dalam kehidupan anak sekolah. Ujian tatap muka saja guru bisa kecolongan, apalagi ujian melalui daring.

Beruntung akhirnya Ujian Nasional dihapuskan, kalau tidak berapa banyak lagi anak-anak yang akan mengulang duduk di kelas yang sama bukan karena kesalahan yang mereka lakukan.

Poppi Marini ASN di sebuah instansi vertikal


(mmu/mmu)