Kolom

Meningkatkan Cakupan Vaksinasi

Tjandra Yoga Aditama - detikNews
Senin, 07 Jun 2021 10:40 WIB
Pengantar: Sebagai ahli paru, Prof Tjandra Yoga Aditama boleh jadi tak dimusuhi kalangan industri rokok karena gigih memerangi bahaya merokok.. Sejak awal Oktober dia pensiun dari WHO.
Tjandra Yoga Aditama (Ilustrasi: detikcom)
Jakarta -

Berita menyebutkan bahwa pemerintah akan meningkatkan cakupan vaksinasi sesudah libur Lebaran ini. Dikabarkan, diupayakan untuk menyentuh 1 juta per hari di bulan Juni ini. Jumlah vaksin yang sudah tersedia kini juga sekitar 75 juta dosis. Kalau satu rakyat Indonesia mempergunakan dua dosis, berarti itu cukup untuk 37,5 juta orang, dan akan ada yang datang lagi di waktu mendatang.

Herd immunity

Tentu ada harapan agar kekebalan kelompok (herd immunity) akan dapat dicapai. Sebenarnya yang jelas vaksin diberikan sekarang untuk mendapat proteksi bagi yang sudah divaksin. Jadi, yang memang sekarang harus dilakukan adalah sebanyak mungkin masyarakat kita yang divaksin dalam waktu sesingkat mungkin agar makin banyak masyarakat kita yang mendapat proteksi terhadap masalah kesehatan akibat COVID-19.

Tentang waktu kapan herd immunity akan tercapai memang ada berbagai variabel yang akan mempengaruhi, setidaknya ada tiga hal. Pertama, karena memang jumlah vaksin di pasar dunia masih terbatas, maka harus ada penjadwalan yang jelas tentang jaminan pasti ketersediaan vaksin di dunia yg bisa didapat Indonesia, dan ini bukanlah hal mudah.

Hal kedua adalah implementasi di lapangan tentang kenyataan seberapa besar cakupan vaksin yang akan berhasil dilakukan di tanah air. Kita tahu bahwa makin banyak cakupan yang akan dilakukan tentu akan makin besar tantangannya dan makin kompleks manajemen pelaksanaannya.

Hal ketiga yang juga akan berpengaruh adalah seberapa besar nantinya dampak mutasi virus pada efektifitas vaksin. Kita tahu bahwa rumus yang menghitung berapa jumlah orang yang harus divaksin untuk mendapat herd immunity juga tergantung dari angka efektifitas vaksin yang dipilih. Jadi kalau efektifitas vaksin turun sebagai dampak mutasi, maka jumlah orang yang harus divaksin untuk mendapat herd immunity bukan tidak mungkin perlu dihitung ulang untuk kemungkinan di tambah.

Jadi, yang penting sekarang bukan hanya memprediksi kapan herd immunity akan tercapai, tapi lebih baik terus meningkatkan cakupan dari waktu ke waktu.

Lima Upaya

Untuk terus meningkatkan cakupan vaksinasi, setidaknya ada lima upaya yang dapat dipertimbangkan. Pertama, tentu bagaimana mendapat jaminan bahwa vaksin akan tersedia sepanjang tahun. Kalau asupan terhambat, maka tentu peningkatan cakupan tidak dapat digalakkan.

Kedua adalah upaya memperluas lokasi vaksinasi. Semua Rumah Sakit, Puskesmas, dan klinik yang sudah biasa melakukan vaksinasi pada anak selama ini dapat dioperasionalkan untuk menjadi tempat vaksinasi COVID-19, tentu dengan manajemen persiapan yang baik. Kalau ini dilakukan, maka akan amat mempermudah masyarakat yang akan di vaksin, bukan saja karena jumlah tempat di vaksin jadi lebih banyak, tapi juga akan lebih dekat dari rumah dan atau tempat kerja masyarakat.

Tentu akan baik juga kalau vaksinasi juga dilakukan di tempat umum seperti mall dan lain-lain, yang tampaknya sudah direncanakan juga.

Upaya ketiga adalah segera melonggarkan vaksin untuk semua usia di atas 18 tahun, tentu saja kalau hal pertama di atas tentang jaminan ketersediaan memang sudah terpenuhi. Nanti kalau sudah ada vaksin yang terbukti secara ilmiah baik untuk kelompok usia 12-18 tahun, maka pada mereka perlu segera diberikan juga.

Upaya keempat adalah pelayanan untuk Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) harus terjamin penuh. Kalau ada keluhan sesudah divaksin, maka perlu diberi prioritas pelayanan penting. Di sisi lain, juga baik kalau secara berkala disampaikan laporan keadaan KIPI secara rinci, baik untuk konsumsi masyarakat luas maupun juga dipublikasikan di jurnal ilmiah.

Upaya kelima adalah bila mungkin diberi kemudahan khusus bagi mereka yang sudah divaksin, sehingga selain dari dampak proteksi, masyarakat juga merasa nyata ada nilai tambah yang dirasakan sesudah divaksin.

Prof. Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Guru Besar FKUI

(mmu/mmu)