Jeda

Pembeli Tak Selalu Menjadi Raja

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 06 Jun 2021 11:00 WIB
impian nopitasari
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Saya tidak sengaja mendengar obrolan teman saya di media sosial tentang dia yang didatangi seorang pengemudi ojol yang memintanya membeli pizza yang terlanjur dibeli si bapak ojol. Ceritanya si bapak ojol ini mendapat pesanan go food, ketika sampai di tempat customer, dia ditolak dan customer tidak mau bayar dengan alasan pizza sudah dingin. Padahal pizza itu dingin karena pengemudi berteduh dulu dari hujan agar pizza tidak basah.

Bapak ojol itu sudah tidak bisa marah karena dia harus sesegera mungkin mencari solusi agar keluarganya tetap bisa makan. Uang Rp 100.00 baginya tentu bisa untuk makan selama beberapa hari. Teman saya akhirnya membeli pizza itu sambil mengomel ke customer yang tidak ada di hadapannya. "Kalau nggak mau dingin ya beli sendiri. Mentang-mentang pembeli selalu pengin diperlakukan seperti raja!"

Belum lama ini di media sosial heboh tentang seorang konsumen yang memaki-maki kurir karena barang yang datang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Memang tidak memungkiri terkadang ada penjual yang nakal. Kita membeli apa datangnya apa, kita membeli harga berapa diberi harga berapa, kita membeli berapa datangnya berapa, kita tidak membeli apa-apa kok ada barang datang (modus sistem COD). Pembeli tentu berhak marah, tapi langsung ke penjualnya.

Tindakan pembeli yang memarahi kurir tentu saja tidak tepat karena kurir hanya mengantar barang. Pembeli memang raja, tapi tidak harus bertindak semena-mena.

Sebagai pembeli kita tentu senang ketika mendapat pelayanan yang memuaskan dari penjual. Penjual berusaha sebaik mungkin kepada pembeli karena menganggap pembeli adalah raja. Tapi ternyata tidak selamanya penjual menganggap pembeli adalah raja. Berikut beberapa pengamatan saya terhadap warung-warung dan penjual yang tidak menganut mazhab pembeli adalah raja. Yang pertama adalah warung-warung di sekitar kos saya.

Saya mengamati warung yang ruame sekali ini penjualnya jauh dari kata ramah untuk tidak menyebutnya galak. Haha. Ada warung pecel yang murah meriah harganya dan tentu saja enak. Jangan harap kalian akan dilayani dengan penuh senyum ramah sayang-sayang mari kakak. Oh, tidak. Kalian tidak boleh membeli banyak-banyak baik pecel maupun gorengannya, dan harus mau antre. Tidak mau antri ya sana pulang saja, jangan beli.

Kalau kalian makan di tempat, jangan lama-lama ngobrol lama bagaikan di kafe atau mau diteriaki ibu penjualnya "Nek wis rampung ndang ngalih rasah kakehan jagongan. Genten liyane!" katanya, meminta pembeli kalau sudah selesai cepat pindah tidak usah kebanyakan ngobrol, gantian yang lain. Apakah pembeli-pembeli itu kapok? Tidak. Besok juga akan kembali lagi.

Ada lagi warung bakmi toprak yang rasanya cocok di lidah saya. Tapi sungguh mbak penjual ini semaunya sendiri kalau berjualan. Tidak peduli lagi musim yang cocok untuk buka warung, kalau dia malas ya tidak jualan. Sering pembeli dibuat kecewa ketika ingin membeli dan sampai warung disambut dengan tulisan "Maaf tutup. Lagi males," Haha malesin banget, kan? Tapi kalau si Mbak ini buka, tidak sampai sore sudah ludes dagangannya.

Warungnya selalu penuh. Tapi ya begitu, tidak setiap hari jualan. Mbak bakmi toprak ini tidak sendiri, ada tukang galon yang semazhab dengannya. Tukang galon ini langganan teman saya. Biasanya teman saya memesan melalui pesan WhatsApp. Tapi memang dia semaunya. Kalau lagi tidak ingin mengantar ya tidak mau ambil pesanan meski orderan sedang banyak. Suatu hari teman saya memesan satu galon dan dijawab dengan begini,

"Prei, Mbak. Lagi males," dengan santainya dia bilang sedang libur karena lagi malas.

"Niat dodolan tah ora awakmu ki sakjane? Gak butuh dhuwit tah?" teman saya bilang, niat jualan tidak sih sebenarnya, apa tidak butuh uang. Sambil jengkel tentu saja.

"Ya ora dodolan terus, Mbak. Mengko ndhak sugih," katanya. Ya nggak jualan terus, nanti jadi kaya.

Meski menjengkelkan dan teman saya sering mengatainya "bakul sarap", tapi tetap saja dia tidak berhenti berlangganan galon pada mas-mas itu. Saya pun heran kenapa pelanggannya tidak ada yang kabur ya? Saya adalah tipe yang suka dilayani dengan enak. Tidak harus yang berlebihan; sewajarnya saja penjual melayani pembeli.

Jadi tidak semata-mata makanan enak saya langsung bisa betah dibentak-bentak. Kalau memang sedang ingin sekali membeli makanan yang enak di warung itu, saya lebih memilih titip teman saya. Biar kalau dimarahi penjualnya, bukan saya yang jadi korbannya.

Saya pernah menemani teman saya yang ingin memborong sate ayam yang terkenal enak di kotanya. Saya pikir penjualnya akan senang karena kelarisan. Tapi ternyata saya salah. Penjualnya tidak mau kalau diborong, kalau beli sedikit boleh. Alasannya, dia tidak mau mengecewakan pembeli lainnya. Teman saya masih ngotot: ya bukannya malah lebih enak kalau diborong, jelas habis dan dapat uang. Penjualnya tetap ngotot tidak mau. Dagangannya memang harus habis, tapi yang beli harus banyak orang, jangan satu orang saja.

"Mbuh-lah, bakul ra cetha," omel teman saya. Katanya penjualnya tidak jelas.

Saya malah jadi ingat video dagelan Cak Silo dan Cak Ukil di kanall YouTube Nano Bukan Permen yang meski sudah berkali-kali saya tonton tetap saja membuat tertawa. Cak Silo yang berperan sebagai penjual penthol keliling sedang menjajakan dagangannya, datanglah Cak Ukil yang ingin membeli semua penthol-nya untuk orang-orang di sawah. Lalu terjadilah perdebatan antara mereka berdua yang membuat penonton ikutan gemas dan ngakak apalagi logat Jawa Timuran mereka yang mantab.

Cak Silo tidak mau dagangannya diborong. Tentu saja Cak Ukil jengkel sekali, bukannya malah enak kalau dagangan diborong? Tapi Cak Silo tidak mau pulang kalau belum jamnya, takut dimarahi istrinya. Sangat aneh baginya jika kelihatan tidak bekerja. Dia juga tidak mau mengecewakan anak-anak yang biasa membeli penthol-nya.

Cak Ukil (dan saya kira sebagian besar penonton mempunyai PoV yang sama dengan Cak Ukil sebagai pembeli) heran dengan pola pikir Cak Silo. Kalau dagangan habis ya sudah pulang, tidak usah keliling lagi. Simple kan? Tapi ternyata urusannya tidak sesederhana itu bagi Cak Silo sampai Cak Ukil mengatai Cak Silo dengan sebutan "wong sempel" alias orang stres.

"Sakarepe sing tuku se." Terserah yang beli, kata Cak Ukil.

"Sakarepe sing dodol se." Terserah yang jual, Cak Silo tidak mau kalah.

Kalimat Cak Silo itulah yang membuat saya teringat para penjual yang saya sebut sebelumnya. Mazhab pembeli adalah raja tidak berlaku untuk mereka. Mereka adalah penjual yang merdeka, tidak tunduk pada ketentuan umum, tidak takut kehilangan pelanggan, tapi entah kenapa dagangannya selalu laku. Video Cak Silo dan Cak Ukil tadi saya tonton pertama kali ketika pandemi baru saja menyerang Indonesia.

Di awal-awal pandemi, masker dan handsanitizer tiba-tiba hilang dari peredaran atau kalau kita mau membeli harganya masya Allah sekali mahalnya. Saya dulu misuh-misuh kepada para penimbun yang tega sekali menimbun masker dan hand sanitizer. Cak Silo seperti menyindir para penimbun ini. Dia saja yang jualan penthol masih memikirkan pembelinya kebagian apa tidak. Seharusnya barang vital seperti masker tidak seharusnya ditimbun satu orang ketika banyak orang membutuhkannya.

Cak Silo seperti berkata pada kita untuk membeli barang secukupnya, sebutuh kita, pikirkan juga yang lain. Jangan serakah menjadi orang. Termasuk ketika membeli barang. Cak Silo yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya tidak mau terlihat tidak bekerja dengan cepat pulang sebelum jam kerja normalnya.

Saya juga beberapa kali menemui orang-orang yang sudah tidak muda lagi yang masih sangat giat bekerja. Seorang bapak-bapak penjual makanan di hik (angkringan) dekat kos saya dulu bercerita bahwa baginya kerja itu adalah sebuah laku. Itu adalah tirakatnya untuk mencapai berkah dari Gusti Allah. Bekerja membuatnya banyak bertemu orang, baginya semua orang adalah gurunya, dia banyak belajar kehidupan pada pelanggan-pelanggan di hik-nya.

Uang memang dia dapatkan dari bekerja, tapi bekerja tidak melulu tentang uang. Tuna satak bathi sanak. Rugi sedikit tidak apa-apa asalkan saudara bertambah. Urip samadya wae, hidup secukupnya saja, begitu katanya.

Orang-orang ini sungguh berbeda ya dengan saya. Saya kalau jadi Cak Silo pasti akan girang sekali karena dagangan saya laris tanpa repot-repot keliling lagi. Yang penting saya mendapatkan uang. Tidak harus selalu terlihat bekerja. Mau dibilang ambil pesugihan pun bagi saya tidak masalah asal kondisi finansial saya aman. Kalau perlu tidak usah bekerja juga tidak apa-apa asalkan uang datang sendiri. Maunya begitu.

Mendungan, 5 Juni 2021

Impian Nopitasari penulis cerita berbahasa Indonesia dan Jawa, tinggal di Solo

(mmu/mmu)