Pustaka

Mimpi Perang dan Absurditasnya

- detikNews
Sabtu, 05 Jun 2021 11:38 WIB
Jakarta -

Judul Buku: The Bomber Mafia: A Dream, a Temptation, and the Longest Night of the Second World War; Penulis: Malcolm Gladwell; Penerbit: Little, Brown and Company, April 2021; Tebal: 256 Halaman

Pada akhir musim gugur tahun 1944, Jendral Haywood Hansell yang tergabung dalam Komando Pengebom Ke-20 bersiap untuk melakukan penyerangan pertama ke jantung kota Tokyo. Lebih dari seratus unit pesawat tempur B-29 Superfortress berbaris, siap untuk lepas landas dari sebelah Utara kepulauan Mariana, sekitar 2.500 kilometer dari Jepang. Jendral Hansell mengarahkan: "Tetap dalam barisan. Jangan biarkan tentara musuh merusak formasi. Dan jatuhkan bom sesuai target."

Di tempat lain, di sebuah daerah sebelah timur India bernama Kolkata, Jendral Curtis Lemay memimpin operasi serupa. Ratusan pesawat B-29 sama-sama disiapkan. Mereka akan lepas landas melewati daerah teritori Cina, terbang di atas Gunung Himalaya menuju Jepang sejauh 5.000 kilometer.

Di buku-buku sejarah, kita mengenal dua bom atom yang dijuluki Little Boy dan Fat Man dijatuhkan dari atas kota Hiroshima dan Nagasaki pada bulan Agustus, 1945. Di bawah komando Haywood Hansell dan Curtis Lemay, pengeboman kota Tokyo adalah persitiwa sebelum Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak. Sebuah peristiwa di persimpangan jalan yang sering dilupakan. Tentang inilah buku The Bomber Mafia berkisah.

Seni yang Langka

Menulis buku dengan romantis tentang tema yang mengerikan adalah sebuah seni yang langka. Seni itu yang biasa dilakukan oleh Malcolm Gladwell. Masa lalu yang penuh kegetiran akan dituturkan lewat sisi lain yang acapkali membuat kita tak percaya.

Seperti di buku-buku terdahulunya, Malcolm Gladwell selalu mematahkan pemahaman kita tentang suatu topik di masa lalu. Segala yang kita tahu, oleh Galdwell terkadang akan dipandang sebagai kesalahan besar dalam perspektifnya sebagi revisionis sejarah. Meskipun dia bukanlah sejarahwan.

Dalam buku terbarunya ini, Gladwell memberitahu kita tentang bagaimana peperangan terjadi dengan segala absurditasnya. Dalam perang kita akan temukan mimpi-mimpi yang berubah menjadi kondisi serba salah (awry).

Buku ini menceritakan tentang sekumpulan tentara AU Amerika Serikat yang dijuluki "The Bomber Mafia" yang meyakini bahwa dengan menggunakan alat pembidik bom yang super rumit dan canggih, mereka dapat menaklukkan musuh dengan tepat secara moral.

Buku ini diawali dengan kisah seorang jenius berkebangsaan Belanda yang lahir di Indonesia (dulu Hindia Belanda) bernama Carl L. Norden. Seseorang yang tidak ingin dirinya dikenali. Tidak ada biografi lengkap tentang dirinya. Tidak ada tugu kehormatan yang didedikasikan untuk dirinya di tempat dia lahir, dibesarkan dan tinggal. Meski begitu, Norden lah peletak batu pertama dari banyak gagasan dalam perang. Ia mempengaruhi jalannya perang dan memicu banyak mimpi tentang peperangan di abad ini—dengan segala konsekuensinya.

Karena kejeniusan dan ambisinya, Norden menciptakan sebuah sistem mekanik yang rumit dan canggih pada saat itu: pembidik bom. Pada era sebelum GPS dan radar, pembidik bom adalah jawaban dari permasalahan terbesar dalam teknologi yang tidak kunjung terpecahkan dalam peperangan. Berkat inovasi Norden, militer Amerika Serikat memfokuskan diri untuk menganggarkan biaya besar-besaran agar pembidik bom buatan Norden bisa digunakan secara masif.

Pada awal abad ke-20, dunia berjibaku dengan perang dunia ke-1. 37 juta nyawa manusia melayang dan banyak di antaranya yang terluka. Peperangan yang membuat peperangan lain dalam sejarah kurang begitu terlihat dampaknya. Perang dunia ke-1 meninggalkan pengalaman traumatik yang begitu mendalam.

Atas pengalaman pahit ini, Norden dan sekelompok kecil orang lainnya berkeyakinan bahwa harus ada solusi realistis untuk para tentara agar mengubah cara mereka dalam berperang. Belajar bagaimana caranya—jika tidak terdengar begitu oksimoron—perang yang lebih baik. Pembidik bom Norden (Norden Bombsight) hadir untuk menjawab tantangan itu.

Pembidik bom pada pesawat tempur adalah antitesis dari pertempuran darat dan udara yang tidak presisi. Pesawat tempur yang dilengkapi pembidik bom pada awalnya bertujuan untuk mengurangi kerusakan yang tidak perlu, korban jiwa dan penderitaan akibat perang.

"Sesuatu seperti ini (pertempuran darat-pen) membuat semua konflik menjadi begitu mematikan, sia-sia dan tak ada gunanya. Bagaimana jika kita berperang saja melalui udara?", kenang para veteran tentara PD-1. Mereka meyakini bahwa pesawat bisa memenangkan perang. Ia terbang menukik mengebom target terpilih dan membuat musuh bertekut lutut tanpa membantai jutaan orang di medan perang.

Absurditas Perang

Menurut Gladwell, semua peperangan itu absurd. Apapun latar belakangnya. Selama ribuan tahun, manusia memilih untuk menyelesaikan perbedaan di antara mereka dengan melenyapkan satu sama lain. Jika tidak mampu melenyapkan dalam waktu yang telah ditentukan, manusia menghabiskan waktu dan perhatian dapat melenyapkan pihak lain di waktu yang akan datang.

Pendaratan Normandy memerlukan perjalanan pendek untuk melewati Selat Inggris. Di Selat Inggris, orang bisa berenang untuk sekedar menyebrang. Ketika sampai di darat, para pasukan berbaris memegang senapan untuk saling membunuh. Persenjataan berat ditembakkan. Hal tersebut yang menjadi contoh absurditas yang digambarkan Gladwell: tetangga melawan tetangga.

Apa yang terjadi dalam Perang Pasifik jauh lebih absurd lagi. Penyerangan Amerika terhadap Jepang adalah sekumpulan absurditas yang sulit diterima oleh akal sehat. Kedua negara tersebut jarang sekali melakukan kontak satu sama lain. Bahkan mungkin berada di dua negara yang tidak mengenal satu sama lain lebih dari dua kombatan masa perang mana pun dalam sejarah. Namun skala besar dari medan pertempuran Pasifik membuatnya menjadi jenis perang udara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Untuk mengebom Tokyo, pesawat tempur B-29 Superfortress lepas landas dari Kepulauan Mariana dan Kolkata menempuh ribuan kilometer melewati berbagai rintangan yang sulit dihadapi: kendala teknis, cuaca dan faktor alam lainnya. Hanya kurang dari setengah pesawat tempur Amerika yang berhasil sampai ke Tokyo saat itu. Target pengeboman Tokyo jauh di bawah angka harapan, sedang tentara yang gugur, terluka dan tidak kembali melebihi jumlah yang mereka bisa perkirakan.

Kenyataanya, para mafia pengebom tersebut melupakan dan tidak mengantisipasi berbagai hal. Dari berbagai peperangan dan penyerangan yang dilakukan negara mereka, hampir tidak ada perang yang terpecahkan dengan adanya revolusi pembidik bom.

(mmu/mmu)