Kolom

"Rafale" dan Identitas Pertahanan Indonesia

Abhiram Singh Yadav - detikNews
Jumat, 04 Jun 2021 11:15 WIB
Jet tempur Dassault Rafale
Jet tempur Dessault Rafale milik Prancis (Foto: dok. Dassault Aviation)
Jakarta -
Kementerian Pertahanan Indonesia sangat aktif dengan meninjau langsung ke berbagai negara dalam melirik jet tempur yang tepat untuk memperkuat Swa Bhuwana Paksa (Sayap Pelindung Tanah Airku). Bukan tanpa alasan, memang sudah saatnya kedirgantaraan Nusantara memerlukan wajah baru dalam menjaga wilayah NKRI maupun berperan aktif dalam menjaga stabilitas keamanan global, khususnya kawasan Indo-Pasifik.

Dalam menyikapi ini, Indonesia telah menjalin komunikasi wacana pembelian jet tempur asal Prancis yang makin menunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Sekalipun Indonesia dikenal dengan identitasnya yang damai, saat ini dunia sedang mendesak Indonesia untuk memerankan peranan yang lebih penting dalam kerangka konsep Cooperative Security. Mengingat Indonesia saat ini diperhitungkan sebagai negara yang strategis dalam kerangka pemikiran konsep Indo-Pasifik baik oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, India, Jepang, Australia hingga negara-negara ASEAN.

Di saat yang sama China pun menilai Indonesia sebagai sahabat yang tidak akan menjadi ancaman dalam kontestasi konstruksi pemikiran maritim yang sedang berkembang. Di tengah dinamika keamanan yang sedang berkembang, khususnya di kawasan Laut China Selatan, Indonesia dituntut untuk mampu bekerja sama dalam menyelesaikan kesamaan tantangan (common challenge) yang dihadapi, dan bukan sebagai kerja sama keamanan terhadap lawan tertentu.

Tentu hal ini menjadi penting bagi Indonesia untuk menjaga marwahnya sebagai negara yang memiliki doktrin politik luar negeri bebas-aktif dalam merawat kerangka kerja sama keamanan multilateral di segala level kemitraan, khususnya di wilayah Indo-Pasifik. Lagi pula, Indonesia juga memiliki kepentingan nasional untuk menjaga batas-batas wilayahnya, khususnya batas-batas laut, baik di Laut Natuna Utara, Selat Malaka, hingga Samudera Hindia.

Dalam mewujudkan tujuannya, armada udara dipandang perlu diperkuat dalam mendukung patroli kelautan Indonesia.

Menentukan Jenis Armada Tempur

Modernisasi armada tempur Indonesia perlu dilihat dari dua perspektif, yaitu identitas pertahanan nasional dan kepentingan politik Indonesia. Kedua perspektif inilah kelak dirasa menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis armada tempur yang tepat dalam mengawal batas-batas wilayah maupun peran aktif politik luar negeri.

Identitas pertahanan Indonesia bertujuan mewujudkan keamanan nasional, menegakkan hukum, berperan bebas-aktif dalam politik luar negeri, menjadi bangsa yang berdaya-saing, memperkuat jati diri sebagai negara maritim, serta menjunjung tinggi budaya Nusantara. Prinsip-prinsip ini mencerminkan kenyataan bahwa Indonesia adalah negara maritim yang luas, yang berbatasan dengan sepuluh negara baik darat maupun laut, yaitu India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Papua Nugini, Palau, Timor Leste dan Australia.

Oleh karena itu, identitas pertahanan Indonesia tidak diciptakan untuk agresi, melainkan melindungi warga negaranya serta berperan aktif dalam merajut solidaritas international yang inklusif sebagaimana menjadi amanat Pembukaan UUD 1945 yang menerangkan pedoman turut melaksanakan ketertiban dunia berasaskan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Dari perspektif Angkatan Udara, sudah saatnya Indonesia memperkuat titik-titik krusial dalam menjaga wilayah-wilayah kepulauan dwipantara ('kepulauan antara' yang bermakna sama dengan Nusantara). Maka urgensi kehadiran berbagai squadron yang tangguh dari Sabang dalam mengawal Selat Malaka, di Natuna sebagai deterensi di Laut China Selatan hingga di Timur Indonesia dalam melindungi kerangka keutuhan Nusantara merupakan tantangan zaman yang tidak bisa dielakkan.

Tantangan pertahanan yang dimaksud adalah ancaman tradisional (traditional threat ) maupun ancaman non-tradisional (non-traditional threat). Secara paralel, kepentingan politik pertahanan Indonesia adalah turut memelihara perdamaian dunia. Hal ini dipengaruhi pertimbangan kebijakan strategis, perilaku negara lain, serta kepentingan geostrategis hubungan international. Secara politik, armada tempur Indonesia perlu menjadi alat diplomasi serta deterensi di saat yang sama.

Teori deterensi dalam hal ini dapat dipahami bahwa Indonesia dapat mencegah ancaman sebelum terjadinya permusuhan. Hal ini hanya akan tercapai dengan modernisasi alutsista, diplomasi pertahanan melalui kerjasama latihan militer dengan negara-negara lain di kawasan Indo-Pasifik, serta membangun kesepahaman strategis dalam kerangka cooperative security. Lalu apa yang perlu menjadi pilihan Indonesia dalam memilih armada tempur yang tepat?

Dalam hal ini Indonesia memiliki keunggulan dengan berhasil menjadi mitra strategis dengan berbagai negara di kawasan Indo-Pasifik. Sebagai negara damai yang tidak memiliki konflik militer dengan negara lain, pilihan armada tempur perlu mempertimbangkan kegunaannya selain dari yang bersifat patroli rutin. Dengan modal kerja sama strategis di kawasan Samudera Hindia dan Pasifik, Indonesia sesungguhnya memiliki kesempatan yang besar untuk terlibat dalam latihan militer bersama serta meningkatkan jam terbang melalui war games.

Saat ini kita ketahui, tampaknya Indonesia sedang melirik berbagai jet tempur canggih, di antaranya Dassault Rafale buatan Prancis, Eurofighter Typhoon dari Austria, hingga si primadona Rusia Sukhoi SU-35. Di saat yang sama, berdasarkan spekulasi yang beredar di media massa, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto juga menjejaki pesawat jet tempur F-15 EX Advance Eagle, F-18 Super Hornet, dan F-35 asal Amerika Serikat.

Menarik untuk disimak sejauh mana potensi pembelian jet tempur buatan Amerika Serikat dalam opsi utama radar pilihan Menteri Pertahanan. Tampaknya Indonesia perlu menjadikan sejarah sebagai catatan, akan pentingnya akses terhadap suku cadang yang kerap menjadi kendala dalam politik international.

Rafale sebagai 'Game Changer'

Dalam diskursus politik global, Indonesia dipandang perlu memiliki alutsista yang tepat guna, sesuai zaman serta mampu sekaligus menjadi alat diplomasi regional maupun global. Pemilihan akan jet tempur yang tepat akan menjadi game changer dalam geopolitik kawasan Indo-Pasifik, khususnya di Laut China Selatan.

Dengan Armada yang tepat, Indonesia akan disambut dalam latihan militer dengan kelompok-kelompok elit yang memiliki pandangan strategis yang sama akan pentingnya menjaga keamanan dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik, di mana letak geografis NKRI merupakan 'jantung' wilayah ini. Dalam konteks ini, Eurofighter Typhoon dan Sukhoi SU-35 dikenal sangat tangguh dan merupakan pilihan favorit banyak negara-negara di dunia.

Persoalannya, di luar kemampuan teknisnya, kedua jet tempur itu tidak memberi nilai lebih dalam konteks politik hubungan international. Baik Rusia maupun Austria tidak memiliki kepentingan langsung terhadap pandangan kawasan yang serupa dengan Indonesia saat ini. Terlebih, memilih Sukhoi SU-35 dapat membuat Indonesia dibayang-bayangi embargo oleh Amerika Serikat.

Adapun Dassault Rafale dapat dikatakan memiliki added value yang bisa menutupi kekurangan Eurofighter Typhoon dan Sukhoi SU-35 dalam mengembangkan pertahanan Indonesia serta diplomasi international. Sebab Prancis dengan konsepnya sendiri terkait Indo-Pasifik memiliki persamaan visi dan misi dengan 'ASEAN Outlook on the Indo-Pacific' dengan mengedepankan Sentralitas ASEAN.

Prancis tentu menyadari peran penting Indonesia dalam konteks ini, sehingga akan memiliki kepentingan tersendiri agar kebutuhan suku cadang, latihan, serta pengalaman tempur para pilot Indonesia terpenuhi secara optimal. Titik ini sangat penting dipahami secara politik international, di mana nilai mitra strategis Indonesia dapat diperitungkan khususnya dalam konsepsi Indo-Pasifik.

Dalam hal teknis, selain dikenal sebagai pesawat tempur serbaguna yang mampu berpangkal di darat maupun di kapal induk, Rafale juga teruji di berbagai laga di antaranya pernah terlibat Operation Hercules di Afganistan, patroli di Libya, serta menghantam basis ISIS di Syria. Kemudian, jet tempur asal Prancis ini makin diperhitungkan dengan baru-baru ini menjadi game changer Angkatan Udara India dalam menakar perseteruan perbatasan India-China.

Dengan kata lain, meski secara agregat ketiga opsi yang dimiliki Kementerian Pertahanan RI cukup relatif, namun Dassault Rafale memiliki keuntungan yang dapat dicapai guna meraih dukungan international yang kuat dan untuk selanjutnya menjadi titik sentral dalam mengembangkan wilayah free and open Indo-Pacific yang disegani oleh musuh maupun kawan.

Yang paling penting, armada tersebut akan terus tepat guna walaupun tidak adanya perang serta memberi jam terbang tinggi terhadap para pilot dan para prajurit. Pada akhirnya, pengalaman tempur tanpa adanya pertempuran menjadi sangat relevan dan hanya dapat dicapai melalui latihan war games.

Oleh sebab itu, menarik untuk dipelajari lebih lanjut, bagaimana Kementerian Pertahanan menimbang semua opsi tersebut secara kualitatif maupun kuantitatif. Lalu, apabila rencana pembelian ini berjalan, bagaimana sikap negara-negara ASEAN?

Abhiram Singh Yadav, M.Sos pengamat politik hubungan international

(mmu/mmu)