Kolom

Perempuan dan Pemulihan Ekonomi Masa Pandemi

E. Kurniawati - detikNews
Rabu, 02 Jun 2021 13:30 WIB
Seorang ibu rumah tangga membuat kue kering lebaran pesanan pembeli di Pekanbaru, Riau, Minggu (3/5/2020). Sejumlah ibu rumah tangga memanfaatkan waktu selama masa berada di rumah untuk berbisnis kue kering menjelang Lebaran. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/foc.
Bisnis kue kering (Foto ilustrasi:: Rony Muharrman/Antara)
Jakarta -

"Sebentar ya, Mbak ini saya menata dagangan titipan-titipan dulu ya." Itulah jawaban Bu Atun, pemilik warung, saat saya memintanya menghitung total belanjaan saya. Sambil menata aneka macam makanan titipan, Bu Atun bercerita bahwa sejak masa pandemi ini, banyak ibu-ibu yang menitipkan berbagai jenis makanan di warungnya.

Dan benar, saya lihat sendiri dua buah meja yang disiapkan oleh Bu Atun hampir tidak cukup untuk menaruh makanan-makanan tersebut. Bu Atun harus menata dan merapikan agar semua muat, dan pembeli nyaman untuk mengambilnya. Ada bothok, gethuk, thiwul, gathot, ubi rebus, dan berbagai makanan tradisional lainnya. Makanan yang dulunya hanya bisa saya dapatkan saat berbelanja di pasar, kini sudah tersedia di warung sayur Bu Atun.

Yang menarik bagi saya, bukan hanya berbagai macam makanan tradisional tersebut, namun terlebih lagi pada perjuangan ibu-ibu dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Para ibu tersebut berjuang dengan cara berkreasi membuat masakan yang unik dan enak. Kemudian mereka menitipkannya di warung-warung.

Ketangguhan mereka bisa menjadi penyelamat perekonomian dalam keluarga. Mereka bisa membuktikan bahwa mereka bukan orang-orang yang menyerah kepada keadaan. Dalam situasi perekonomian saat pandemi ini, mereka mempunyai kemampuan untuk menangkap peluang, berani mencoba hal baru, dan beradaptasi dengan situasi yang baru.

Bagi sebagian orang, perempuan dipandang sebagai makhluk lemah dan inferior dibandingkan dengan lelaki. Namun bagi saya, perempuan punya sebuah kekuatan yang tidak boleh disepelekan. Pada umumnya lelaki lebih memilih berpikir praktis dan berdasarkan logika. Sedangkan perempuan biasanya menggunakan perasaan (intuisi) dalam membuat keputusan. Intuisi yang kuat, ketelatenan, dan perhatian kepada hal-hal kecil inilah yang bisa menjadi modal yang kuat dalam berwirausaha.

Dalam berwirausaha diperlukan sebuah keberanian untuk memulai sebuah usaha. Dan biasanya para perempuan memiliki jiwa keberanian tersebut. Sedangkan pria cenderung ragu-ragu untuk membuat keputusan karena banyak melakukan analisis.

Hal tersebut pernah dialami suami saya saat akan merintis kariernya sebagai fotografer. Saat itu dia baru saja menyelesaikan kursus fotografi. Saya menyarankan agar dia segera membuat portofolio hasil karyanya dan membuat surat penawaran ke perusahaan-perusahaan. Namun dia menolaknya dengan alasan kamera dan peralatan yang digunakan belum lengkap.

Beberapa kalimat saya akhirnya bisa meyakinkan suami saya. Singkat cerita saya membantunya membuat penawaran-penawaran foto ke beberapa perusahaan. Saya mengirimkan surat penawaran tersebut melalui kantor pos. Setelah empat hari kemudian saya menelepon perusahaan yang kami tuju untuk memastikan surat tersebut sudah sampai.

Titik cerah mulai ada saat salah satu hotel di Jogja menerima surat penawaran kami. Suami saya dipercaya sebagai fotografer "Culture Heritage Tour", sebuah wisata budaya untuk turis Jepang.

Saya jarang sekali menemaninya untuk terjun secara teknis di lapangan. Bentuk dukungan saya lebih ke hal yang sifatnya administratif. Misalnya saya membantunya membuat tagihan untuk hotel, membantu membuat pencatatan keuangan sederhana, perpajakan, dan terkadang memberikan masukan untuk output yang dihasilkan.

Saat ini program "Culture Heritage Tour" tersebut sudah tidak ada. Namun kami yakin dari situlah kemampuan kami semakin diasah. Bukan hanya kemampuan fotografi saja, melainkan juga pembelajaran bagaimana berinteraksi dengan berbagai macam karakter orang. "Jam terbang" dan pengalaman inilah yang sangat mendukung kami dalam memulai bisnis usaha foto yang kami jalani saat ini.

Di masa pandemi seperti sekarang ini, pemulihan bisa dimulai dari lingkungan paling kecil yaitu keluarga. Bagi saya, perempuan sangat punya potensi untuk membangkitkan perekonomian karena mempunyai peran yang strategis dalam keluarga. Baik itu perannya secara langsung sebagai wirausaha maupun peran tidak langsung mendukung usaha suaminya dari belakang layar.

Oleh karena itu, usaha-usaha perorangan dan "rumahan" perlu mendapat dukungan dari pemerintah dengan cara lebih memberdayakan perempuan. Pemerintah sudah membuat program-program pemberdayaan perempuan, namun program-program tersebut kurang begitu populer di masyarakat bawah. Banyak perempuan yang masih belum mengetahui program-program dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA).

Alangkah lebih baik apabila Kemen PPPA bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat agar program-program tersebut bisa tersosialisasikan sampai lapisan bawah. Keberagaman latar belakang pendidikan perempuan dan keterbatasan akses informasi membuat program-program yang dibuat oleh pemerintah menjadi sangat jauh dari jangkauan masyarakat lapisan bawah.

Pemerintah perlu memberdayakan PKK yang ada di desa-desa untuk mensosialisasikan kepada ibu-ibu program-program yang ada. Selain itu juga bisa melalui penyuluh pendamping UMKM yang langsung mendampingi kelompok-kelompok UMKM di desa-desa.

Pelatihan-pelatihan seperti e-commerce, packaging, strategi pemasaran, pencatatan keuangan, dan perpajakan diperlukan bagi perempuan dalam menjalankan usahanya. Apalagi di masa pandemi ketika ruang gerak semakin terbatas, kecakapan digital menjalankan e-commerce sangat diperlukan dalam melakukan transaksi perdagangan. Selain itu kemudahan akses perbankan dan sosialisasi aturan-aturan baru juga diperlukan agar bisa relevan dengan kondisi saat ini.

UMKM yang dijalankan perorangan di tingkat bawah memiliki peran yang penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Banyak UMKM di Indonesia yang dijalankan oleh perempuan, namun sebagian besar belum memiliki akses digital. Saya yakin apabila pemerintah lebih banyak memberikan "ruang" pemberdayaan bagi perempuan sampai tingkat lapisan bawah, akan semakin banyak UMKM yang bisa survive di masa pandemi ini dan bahkan bisa menembus pasar internasional.

(mmu/mmu)