Kolom

Konsolidasi IHSG dan Optimisme Pemulihan Ekonomi

Lydia Putri - detikNews
Rabu, 02 Jun 2021 11:00 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5% ke level 4.891. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham siang ini.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kerap kali dianggap sebagai leading indicator untuk menggambarkan kondisi ekonomi di masa depan, terkontraksi dalam di awal kemunculan pandemi. Koreksi yang begitu dalam terjadi karena para investor takut akan kondisi ekonomi ke depan akibat pandemi Covid-19, sehingga berbondong-bondong menjual saham yang mereka miliki. IHSG bahkan sempat turun menyentuh level terendah di 3.918 pada 20 Maret 2020 lalu. Bursa Efek Indonesia pun memberlakukan trading halt, yakni pemberhentian perdagangan selama 30 menit karena IHSG mengalami penurunan 5%.

Banyak masyarakat khawatir dengan kondisi perekonomian nasional yang dianggap belum membaik hingga kini. Pesimistis masyarakat diduga karena kurangnya kepercayaan bahwa pemerintah dapat mengambil kebijakan yang terbaik dalam kondisi yang serba sulit ini. Tapi, kita perlu lihat bahwa meskipun terkoreksi begitu dalam, IHSG mampu rebound dan menyentuh level psikologis 5.979 pada penutupan tahun 2020.

Sebelum Indonesia mengkonfirmasi pasien positif Covid-19 yang pertama, IHSG dengan cepat mengalami penurunan dan mencapai titik yang terendah pada 20 Maret 2020. Namun, seiring dengan pertambahan pasien terkonfirmasi positif, IHSG malah berbalik arah dan memberikan sinyal pemulihan. Hanya dalam kurun waktu enam bulan, IHSG mampu melaju kencang setinggi 19,8% untuk mencapai psikologis 5.979. Terlihat bahwa investor-investor cukup optimis dengan kondisi ekonomi Indonesia di masa depan.
Pemulihan Ekonomi

Di samping terus mengupayakan distribusi vaksin untuk diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, pemerintah gencar memberikan stimulus guna mendorong pemulihan ekonomi. Keseriusan pemerintah Indonesia dalam menghadapi pandemi tertuang dalam PP 23/2020 yang berisi pengucuran dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan total dana Rp 695,2 triliun. Dana PEN dimanfaatkan sebagai subsidi bunga Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM), insentif pajak UMKM dan korporasi, serta penempatan dana pemerintah dalam perbankan untuk restrukturisasi debitur UMKM.

Seturut dengan kebijakan yang ditetapkan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) pun ikut andil dalam membantu percepatan PEN. Bantuan BI hadir melalui penurunan suku bunga acuan menjadi 3,5%. Sedangkan OJK selaku pengawas jasa keuangan di Indonesia, hadir melalui penerbitan POJK 11/2020 dan POJK 14/2020 tentang pedoman restrukturisasi kredit dan juga stimulus dalam PEN. Tidak hanya itu, OJK juga turut membantu UMKM dalam digitalisasi pemasaran dengan memfasilitasi UMKM melalui platform UMKM-MU dan pembayaran cashless melalui aplikasi Q-RIS.
Kekhawatiran Masyarakat

Di tengah berbagai upaya yang telah dilaksanakan pemerintah, masyarakat yang masih sangat khawatir dengan kondisi ekonomi Indonesia di masa depan. Terlebih saat BPS merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia. Data BPS menunjukkan bahwa selama kurun satu tahun ini, yakni sejak Triwulan-II 2020 hingga Triwulan-I 2021, Indonesia masih terus mengalami resesi ekonomi. Kekhawatiran masyarakat pun semakin besar dengan terusnya peningkatan kasus baru, bahkan dengan penemuan varian virus baru di Indonesia.

Meskipun masih mengalami kontraksi, kita perlu melihat bahwa proses pemulihan ekonomi jelas tergambar dari tren naik pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di awal kemunculan pandemi, ekonomi kita terpukul sangat dalam, mencapai angka -5,32% (y-on-y), yakni pada Triwulan-II 2020. Lalu mulai mengalami perbaikan -3,49% (y-on-y) di Triwulan-III 2020. Pada penutupan akhir tahun 2020 menjadi -2,19% (y-on-y) dan saat ini kondisi ekonomi Indonesia menyentuh angka -0,74% (y-on-y) yakni pada Triwulan-I 2021.

Meskipun masih mengalami kontraksi, terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah menunjukkan perubahan yang cukup baik. Hal ini berarti, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah mampu membawa ekonomi Indonesia untuk merangkak naik meninggalkan kondisi resesi.

Konsolidasi IHSG

Di awal tahun 2021, IHSG berhasil melaju kencang sebagai gambaran ekspektasi investor terhadap ekonomi Indonesia yang semakin membaik. Beberapa data ekonomi seperti kestabilan inflasi, rendahnya suku bunga acuan dan adanya stimulus pajak dari pemerintah menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG. Tetapi pergerakan IHSG yang sideways bahkan cenderung turun selama 1,5 bulan terakhir, menggambarkan lesunya pergerakan pasar akibat kurangnya sentimen positif.

Investor berharap Indonesia telah berhasil keluar dari zona resesi di Triwulan-I 2021. Nyatanya data BPS menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mengalami kontraksi -0,74% (y-on-y) pada Triwulan-I 2021. Sirnanya harapan investor mendorong pergerakan wait and see terhadap kondisi ekonomi selanjutnya.

Selain kondisi pasar yang sepi, banyak harga saham yang mengalami penurunan dalam 1,5 bulan terakhir. Adanya mitos Sell in May and Go Away (SMGA), menambah ketakutan investor untuk mengambil posisi dalam pergerakan saham. Walaupun mitos ini masih dipercaya oleh beberapa kalangan, sejarah membuktikan bahwa selama 10 tahun ke belakang, 60% pergerakan IHSG mengalami peningkatan di bulan Mei.

Momentum yang Baik

Lesunya IHSG saat ini seharusnya tak lantas mengendurkan optimisme investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Jika IHSG mampu rebound dengan cepat pada Semester-II 2020. Bukan hal yang mustahil IHSG akan mengalami kondisi yang serupa saat ini.

Apalagi sudah banyak data yang menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia sudah berangsur-angsur membaik. Terlihat dari data Indeks Penjualan Ritel yang meningkat menjadi 182,3 dari 177,1 pada tahun lalu. Kemudian data Purchasing Manufacturing Index (PMI) yang meningkat dari 53,2 pada Maret 2021 menjadi 54,6 pada April 2021, serta keberhasilan pemerintah dalam mengendalikan inflasi di tengah pengetatan rangkaian protokol kesehatan. Bank Pembangunan Asia (ABD) sebagai lembaga keuangan skala global juga meyakini bahwa tahun 2021 akan menjadi momentum kebangkitan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

ABD memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu rebound hingga 4,5%. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia turut memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kisaran 4,15 hingga 5,1%. Sedangkan pemerintah sendiri, memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu kembali positif pada area 5%.

Udara segar dari kemunculan data ekonomi makro yang terus membaik, optimisme proyeksi pertumbuhan ekonomi dari berbagai elemen, serta momentum Lebaran yang diharapkan mampu menggenjot konsumsi masyarakat diharapkan mampu menjadi katalis besar pada pergerakan IHSG. Di samping history 10 tahun ke belakang yang menunjukkan bahwa pergerakan IHSG selalu melaju kencang di Triwulan-IV, laporan kinerja berbagai perusahaan diproyeksi juga akan tumbuh positif tahun ini.

Hal ini tentu bukan asumsi belakang, kita tahu pemerintah masih terus fokus menggenjot pembangunan di Indonesia. Selain itu, ada banyak perusahaan yang melakukan aksi korporasi guna melebarkan sayap bisnisnya di Indonesia, salah satunya korporasi antara Gojek dan Tokopedia yang baru-baru ini ramai diperbincangkan.

Konsolidasi IHSG saat ini dapat dijadikan momentum yang sangat baik bagi investor. Investor dapat melakukan pemantauan dan pembelian secara bertahap. Pembelian dapat dilakukan pada saham-saham yang berfundamental baik dengan prospek menjanjikan di masa depan. Ketika tiba saat IHSG merespon kondisi ekonomi Indonesia di masa depan, para investor telah sigap dengan posisi yang baik. Ingatlah selalu pesan yang disampaikan oleh Warren Buffet, be fearful when others are greedy and greedy when others are fearful.

Lydia Putri Statistisi Ahli Pertama Badan Pusat Statistik, pengamat pergerakan saham


(mmu/mmu)