Kolom

Lansia Tetap Berdaya

Seto Mulyadi - detikNews
Senin, 31 Mei 2021 10:53 WIB
Aktivis dan pemerhati persoalan anak Seto Mulyadi alias Kak Seto
Seto Mulyadi (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Beberapa tahun silam, saat saya bertandang ke beberapa wilayah di Jepang, saya tercengang oleh satu kenyataan. Yakni, kehidupan petugas kebersihan di sana. Kontras dengan gambaran petugas kebersihan yang umumnya diidentikkan dengan usia muda, di salah satu kota di negeri matahari terbit tersebut justru saya jumpai tukang sapu ruang publik yang sudah tua. Dibantu penerjemah, dialog pun terbangun. Ternyata usia harapan hidup di sana memang sangat tinggi.

Pada saat yang sama, kebiasaan orang Jepang (setidaknya tukang sapu yang saya ajak bicara) untuk bekerja keras dan prinsip hidup mereka untuk tidak menggantungkan diri pada anak-anak justru mendatangkan kegelisahan seiring merambatnya usia. Kegelisahan itu yang coba diatasi dengan menyibukkan diri, termasuk dengan bekerja sebagai petugas kebersihan.

Menjadi tenaga kebersihan memang mulia. Meski kadang berada di dekat lalu-lalangnya kendaraan yang terhitung cukup berbahaya, terlebih untuk golongan lansia. Namun dari obrolan dengan sang tukang sapu tersebut, mengemuka kompleksitas sekaligus ironi kehidupan manula. Bahwa saat negara menaruh perhatian begitu tinggi pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakatnya, dan misi itu menjadi kenyataan dengan bukti berupa meningkatnya usia harapan hidup manusia, ternyata perbaikan mutu kesehatan itu tidak serta-merta selalu diiringi dengan meningkatnya kebahagiaan.

Tentu, diperlukan kajian lebih mendalam untuk menguji asumsi tersebut, betapa pun secara kualitatif di tataran empiris saya menemukan fakta demikian di Jepang sana.

Kebahagiaan dan usia memang memiliki saling hubungan beragam. Tergantung lokasi dan waktunya. Studi Dilip Jeste, misalnya, menemukan bahwa kadar stres dan kecemasan manula lebih rendah daripada di kalangan muda usia. Begitu pula, mengacu survei di Inggris yang dilakukan Office for National Statistics pada 2015/2016, orang-orang berusia antara 65 dan 79 tahun adalah kelompok usia yang hatinya paling berbunga-bunga.

Baru setelah melewati usia 80 tahun, tanda-tanda berkurangnya kebahagiaan muncul kembali. Oleh ilmuwan, penurunan kebahagiaan itu diperkirakan berhubungan dengan kondisi masing-masing individu. Yaitu, kesehatan yang menurun, hidup sendirian, dan perasaan kesepian. Banyak pula riset lain yang kesimpulannya berbeda tentang dinamika hidup kaum lansia.

Pada masa pandemi Covid-19 saat ini, kondisi mental manula boleh jadi berubah. Ada kekhawatiran, wabah virus Corona mendatangkan dampak buruk yang lebih besar terhadap kelompok usia tersebut. Komplikasi penyakit lebih berat, tingkat kematian lebih tinggi, kendala untuk menjalani kegiatan rutin, hambatan ke akses kesehatan, kesulitan dalam beradaptasi dengan teknologi komunikasi, serta hidup terisolasi, semuanya menambah beban mental warga lansia.

Penelitian lain justru sebaliknya: manula memiliki daya lenting (resiliensi) yang lebih kokoh terhadap kecemasan, depresi, dan beragam sumber stres yang dapat mengganggu kesehatan mental.

Sampai di situ, membawa butir-butir di atas ke Tanah Air, tersedia justifikasi bagi manula sebagai kelompok usia yang diprioritaskan untuk memperoleh vaksin Covid-19. Dengan pemberian vaksin sedini mungkin, diharapkan faktor-faktor risiko yang ada pada manula dapat dikendalikan. Setidaknya, imunitas terhadap virus Corona tidak akan menambah (maaf) beban perawatan kesehatan masyarakat yang sebetulnya sudah sedemikian berat harus ditanggung pemerintah.

Namun, "so what" pasca vaksinasi bagi manula tetap belum tersedia gambarannya. Konkretnya, apa gerangan bentuk aktivasi kehidupan para manula di Tanah Air setelah mereka divaksin, sepatutnya juga masuk dalam rencana pembangunan nasional.

Memang, tampaknya tidak mudah menemukan jawabannya. Namun secara mendasar, jawaban itu akan dapat diperoleh hanya apabila seluruh pihak sudi merevisi persepsi mereka tentang kelompok warga lansia. Usia lanjut tidak boleh diasosiasikan secara pukul rata dengan gloom and doom --kesuraman dan "akhir zaman". Tak lagi bijak untuk menasihati manula dengan kalimat berkutub, "Kurangi berpikir, perbanyak zikir."

Sebagaimana keberbakatan anak yang diyakini variatif dan multidimensional, potensi dan resiliensi manula pun demikian pula.

Seiring dengan mindset tersebut, di forum-forum internasional, sambil berkelakar saya sering menyatakan penolakan saya terhadap ekspresi 'how old are you'. Yang saya usulkan adalah 'how young are you'. Di balik anekdot itu, sesungguhnya saya sedang berbicara serius. Bahwa, age is only a matter of calendar, while youthfulness is forever. Usia hanya masalah almanak, sementara perasan muda berlaku sepanjang hidup.

Lebih dari Sekedar Hidup

Sampai saat ini, katakanlah, negara telah memberikan prioritas kepada warga lansia untuk bertahan hidup mengarungi masa pandemi. Namun bagaimana kondisi mental para manula di musim pagebluk ini, belum tersedia jawabannya. Saya berharap, tidak berbeda dengan para manula di banyak negara, manula di Indonesia pun memiliki stabilitas batin yang baik bahkan lebih baik dibandingkan dengan warga muda usia.

Apa pun itu, ageism atau cara pandang yang menstereotipkan umur manusia selayaknya dibatasi. Musim pandemi ini patut menjadi momentum penting perubahan cara pandang. Bahwa, sejak sekarang agenda pembangunan manula di Indonesia seharusnya tidak lagi dibingkai sebagai "hidup atau tidak hidup" belaka. Jangan sebatas "sehat atau sakit". Itu semua terlalu minimalis.

Idealnya, negara senantiasa berupaya melontarkan para manula, seperti kelompok usia masyarakat lainnya, agar bisa hidup bahagia dan sejahtera.

Dan, contoh seorang tukang sapu lansia di Jepang tadi menjadi cerminan bahwa potensi hidup produktif itu sesungguhnya tetap ada meskipun senjakala pada manula tak terhindarkan lagi datangnya. Manula adalah warga yang tetap berdaya! Semoga!

Seto Mulyadi Ketua Umum LPAI, dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

(mmu/mmu)