Kolom

Kesetiaan yang Menggugat

Farras Pradana - detikNews
Minggu, 30 Mei 2021 11:07 WIB
Adegan dalam film "You and I" (Foto: Youtube KawanKawan Media)
Jakarta -

Perempuan yang mengenakan daster berwarna cokelat muda kehijau-hijauan bermotif bunga itu duduk menghadap kamera. Meski begitu, pandangan matanya tidak benar-benar menentang sorot yang mengarah padanya. Matanya yang menua hanya sesekali terangkat dan bertubrukan dengan lensa. Hal itu pun begitu sulit dipastikan, karena ruang di sekitar perempuan tua itu duduk agak gelap.

Adegan itu menjelaskan keteguhannya pada ajaran Sukarno; matanya seringkali melihat ke bawah. Belum selesai ia mengungkapkan apa yang dikatakannya, tepat ketika ia berbicara, sebuah suara perempuan di luar sorot kamera menyela. Suara perempuan itu menanyakan soal peralatan batik. Perempuan yang duduk di depan kamera menjawab pertanyaan itu.

Demikianlah salah satu adegan dalam film dokumenter You and I (sutradara: Fanny Chotimah, produksi: KawanKawan Media, 2020). Sebuah dokumenter yang menyajikan kehidupan dua sejoli perempuan penyintas Peristiwa 65 di masa kontemporer. Adegan itu megisyaratkan bahwa film dibuat dengan menampilkan kehidupan rumah tangga Kaminah dan Sri Kusdalini dengan apa adanya. Tidak ada pembatasan yang ketat terhadap subjek yang ditampilkan.

Dari 72 menit durasi film, hanya Kaminah yang berbicara di hadapan kamera secara langsung. Pertama, saat ia mengisahkan Kusdalini yang telah dibebaskan dari penjara lebih dulu sering membesuknya. Yang kedua, saat ia membicarakan tentang keteguhan ajaran Sukarno. Lalu, dipotong beberapa saat, sebelum kemudian dilanjutkan membahas sedikit mengenai Sukarno dan Soeharto.

Kusdalini sama sekali tidak berbicara di hadapan kamera secara langsung. Hal itu dapat ditebak, disebabkan kondisi fisiknya yang melemah dan pendengarannya yang sudah tidak awas. Film ini dihadirkan dengan tidak memiliki narator sudut pandang orang ketiga, yang biasanya muncul dalam dokumenter-dokumenter lain menerangkan tentang si subjek . Sehingga, penonton dibuat untuk menebak-nebak dan mengira-ngira dalam konteks apa Kaminah dan Kusdalini bergerak.

Dan, dalam film ini cukup mudah bagi penonton untuk menangkap konteks yang ada. Terutama, ini dibantu dengan tidak adanya musik latar tambahan. Semua suara-suara yang penonton dengarkan adalah suara kehidupan di sekitar rumah tangga dua penyintas itu.

Bingkai Kesetiaan

Bila pasangan muda-mudi biasanya mengikrarkan janji setia untuk melangsungkan kehidupan bersama saat kondisi paling bahagia, maka film dokumenter You and I ini membalik keadaan itu. Kesetiaan justru hadir pada waktu yang paling buruk, sial, atau bisa juga dikatakan susah. Dua penyintas peristiwa besar di negeri ini, dalam You and I membuktikannya.

Kisah Kaminah dan Kusdalini yang telah disinggung di atas memiliki latar Peristiwa 65. Keduanya merupakan anggota Pemuda Rakyat, salah satu bagian dari "Keluarga Besar PKI". Setelah pembunuhan enam jenderal dan satu perwira pada 1 Oktober 1965 dini hari, terjadi penangkapan disertasi pembunuhan massal terhadap setiap orang yang berhubungan dengan partai berlambang palu-arit itu. Pada titik itulah, Kaminah dan Kusdalini ditangkap dan bertemu di penjara. Dan sebuah hubungan mulai terjalin.

Kusdalini bebas terlebih dahulu dari penjara, sementara Kaminah harus menunggu waktu yang lebih lama. Selama menunggu, Kusdalini sering menjenguk Kaminah. Seperti yang dituturkan Kaminah dalam film, Kusdalini sampai dimarahi penjaga penjara karena terlalu sering menengok.

Setelah bebas dari penjara, Kaminah tidak punya tempat berpulang. Ia tidak dianggap lagi oleh keluarganya. Nasib seperti ini juga banyak menimpa penyintas Peristiwa 65 yang lain. Mereka yang biasanya sudah akrab sejak di penjara, lumrahnya kemudian akan menjalani kehidupan baru secara bersama. Paling tidak, itu tercermin dari kisah Kusdalini dan neneknya yang mengajak Kaminah untuk tinggal di rumah mereka. Atau, yang dapat kita jumpai juga dalam buku Suara Perempuan Korban Tragedi 65 susunan Ita Fatia Nadia.

Film dokumenter ini hanya menampilkan secara sekilas latar masa lalu keduanya untuk memberi konteks pemahaman kepada penonton. Selebihnya, film berfokus pada kehidupan sehari-hari Kaminah dan Kusdalini. Namun, apa yang kita yakini sebagai kehidupan sehari-hari biasa di awal film, nampaknya di bagian akhir harus kita ralat. Apa yang disajikan bukan sekedar kehidupan sehari-hari yang statis. Dia bergerak ke arah konklusi kesetiaan yang paling meyakinkan.

Kaminah dan Kusdalini menjalani kehidupan tua di sebuah rumah di Solo. Keduanya menjalani kehidupan mesra sebagai seorang sesama perempuan penyintas. Dalam film, Kaminah telaten merawat Kusdalini yang fisiknya mulai melemah. Ia rajin mengoleskan krim di paha Kusdalini agar tidak kaku. Karena ia yang masih leluasa bergerak, dalam film diperlihatkan, ia mengunjungi sebuah warung untuk menanyakan stok kerupuk yang ia titipkan.

Berjualan kerupuk sepertinya menjadi penopang ekonomi rumah tangga mereka. Kaminah juga sabar dalam menghadapi Kusdalini, terutama dalam pembicaraan. Ia berkali-kali harus berteriak agar kawan hidupnya itu mendengar apa yang diucapkannya. Titik pijak yang penting dalam film ini ada ketika Kusdalini harus dilarikan ke rumah sakit. Dengan membawa baju-baju serta perlengkapan, Kaminah menyusul dengan diantar becak.

Selama di rumah sakit, ia menunggui dan merawat Kusdalini dengan keteguhan. Jika sudah tiba waktunya makan, Kaminah berusaha keras memasukan sendok berisi makanan ke mulut Kusdalini. Saat Kusdalini tertidur, Kaminah kadang menunggu di bawah berasalkan tikar. Ia duduk bersila dan menatap lurus ke arah ranjang. Atau, kadang ia juga tetidur. Sehingga keduanya seperti tertidur bersama. Kita menyaksikan, di mana ada Kusdalini, di situ ada Kaminah.

Kaminah tidak membiarkan Kusdalini sendirian. Dari hal itu, kita menjumpai bingkai kesetiaan dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bukan hanya iri, sendu nan romantis, tapi juga simpati kita tercurah.

Pada satu adegan di rumah sakit, tatkala tubuh Kusdalini terbaring di ranjang rumah sakit, kaminah berkata, "Tidur." Berharap agar Kusdalisi lekas sembuh. Sambil mengelus kepala teman sehidup sematinya itu, ia mengimbuhkan dengan ucapan yang romatis tiada duanya, "Lakukan untukku. Kita hanya berdua tidak ada orang lain."

Sebuah Gugatan

Ada tiga bagian dalam film yang secara tidak langsung menjadi gugatan terhadap negara (dan pemerintah) atas nasib yang mereka alami bertahun-tahun lampau. Pertama, bagian ketika Kaminah dan Kusdalini menghadiri pertemuan (yang patut diduga) para penyintas Peristiwa 65. Dalam bagian itu diperlihatkan mereka mendapatkan sebuah draft fotokopi dengan judul di sampul Membedah Tragedi 1965. Lalu salah seorang di antara mereka menjelaskan mengenai perkembangan penguakan kuburan masal.

Kedua, saat Kaminah dan Kusdalini duduk di ruangan di rumah mereka sambil menonton televisi. Di layar televisi, tengah disiarkan program acara yang membahas sejarah di Metro TV. Sejarah yang disajikan mengenai Peristiwa 65. Ketika tengah berlangsung program acara, Kaminah dan Kusdalini bercakap-cakap. Sampai kemudian Kaminah berteriak, "Jas Merah," agar Kusdalini dapat mendengarnya. Entah karena tidak terdengar atau tidak tahu, Kusdalini menjawab, "Maksudnya apa?" Lalu, Kaminah mengatakan ungkapan Sukarno itu dengan lengkap, "Jangan sekali-sekali melupakan sejarah".

Tak berselang lama, bagian ketiga muncul. Kaminah duduk di hadapan kamera. Ia membandingkan Sukarno dengan Soeharto. Dari sisi pemakaman, kemudian, zaman Orde Lama yang belum terjamah korupsi. Bagian ini memang berlangsung sebentar. Namun, cukup untuk membawa seluruh durasi film ke dalam pesan bahwa ada hal-hal yang belum selesai.

Pada bagian pertama, jelas ada memori yang harus dipelihara sebagai ruh gugatan terhadap negara. Bahwa satu-satunya termpat bertolak adalah ingatan itu. Atas nasib tragis nyawa banyak orang. Bagian kedua di mana Kaminah berteriak mengenai "Jas Merah" mengandung pesan alegori tajam untuk pemerintah.

Sekalipun sudah tidak peka lagi pendengaran, lamun kebenaran itu harus tetap dikatakan. Dalam hal ini, meski terlihat ketidakseriusan pemerintah menuntaskan Peristiwa 65 secara khusus, dan pelanggaran HAM secara umum karena lebih berproyeksi terhadap pertumbuhan ekonomi, bara tuntutan itu harus tetap dijaga. Bara untuk mendorong menuntaskan hal-hal yang belum selesai. Dan hal yang belum selesai itu adalah keadilan. Seperti yang diungkapkan Kaminah:

"Negara kita dudah makmur, tapi adilnya kan yang belum." Kemudian, pada bagian ketiga, dengan tidak secara langsung menujuk pada dosa-dosa yang tercipta selama rezim Orba Orde Baru. Selain ketiga hal tersebut, secara keseluruhan (dominan), film ini menghadirkan bentuk ekspresi baru dalam melakukan gugatan terhadap negara (dan pemerintah) atas pelanggaran HAM masa lalu.

Jika dalam banyak medium lain, kita sebagai penikmati menjadi simpati karena nasib penyintas yang tragis, yang melulu membahas masa lalu, maka di film ini kita mendapati nuansa yang berbeda. Dengan latar yang tidak berjarak dengan kita sekarang, tanpa kilas masa lalu yang ditampilkan, kita menemukan simpati dengan cari lain.

Kita menjadi bersimpati karena menyaksikan dua penyintas yang bertahan hidup, saling melindungi dan menyayangi. Sejak mereka keluar dari penjara hingga salah satunya sakit-sakitan. Lima puluh tahun keduanya mengarungi hidup, membentuk bahtera rumah tangga yang lain. Ada hal romantis yang menjadikan kita terikat pada mereka. Yang menjadikan kita mau tidak mau harus ikut menggugat atas penyebab nasib mereka dulu.

(mmu/mmu)