Kolom

(Belum Ada) Ruang bagi Lansia

Adityo Nugroho - detikNews
Jumat, 28 Mei 2021 15:08 WIB
Pemasangan plang "hati-hati banyak lansia" (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -
Setiap tanggal 29 Mei diperingati sebagai Hari Lansia Nasional. Seperti halnya tahun-tahun lalu, sudah bisa dipastikan akan dirayakan dengan seremonial-seremonial resmi. Kalau tidak ada pandemi, palingan ya ditambah kegiatan senam atau cek kesehatan gratis bagi lansia. Pokoknya semua kebijakan terkait lansia yang bersifat euforia sesaat.

Memang beberapa bulan terakhir ini isu lansia marak diangkat sebagai bahan diskusi. Betul, terkait pro-kontra vaksin bagi lansia. Awalnya saya sebagai pegiat isu lansia tentu sangat gembira dan antusias dengan kondisi ini. Hiruk pikuk vaksin lansia menjadi tema utama dalam berbagai berita. Akhirnya, ada isu terkait lansia yang mendapat "ruang" cukup besar dalam masyarakat.

Sayangnya, setelah beberapa lama mengikuti, saya jadi agak ragu dengan pengangkatan isu ini. Berbagai diskursus tentang vaksinasi lansia tidak kemudian merambat ke isu-isu kelansiaan lain. Tidak ada perdebatan dan perbincangan lanjutan terkait isu seputar lansia. Malahan sebaliknya, yang didebatkan adalah isu tentang vaksinnya, bukan lansianya sendiri.

Pun dengan perbincangan di ranah maya, melulu perdebatan soal vaksin dan pemerintah sebagai eksekutor. Pembahasan hanya seputar isu-isu vaksin dalam ranah kesehatan. Serta mencari celah kesalahan pemerintah sebagai amunisi mengkritik kebijakan-kebijakan lain. Atau bagi mereka yang pro pemerintah ya mengelu-elukan kinerja junjungannya. Tidak ada ruang untuk kembali membahas isu lansia.

Demikian pula dengan pemerintah, tak ada tindak lanjut lain bagi isu lansia. Perkara lansia ya hanya mencakup vaksin saja. Tidak ada kesadaran untuk kemudian memberi jaminan sosial dalam bentuk kebijakan-kebijakan lain bagi lansia. Curiga saya, pemerintah tidak minat-minat banget terhadap isu-isu lansia. Perkara keutamaan vaksin bagi lansia ya sekadar mengikuti tren global saja. Karena kesepakatan globalnya adalah lansia rentan terpapar virus, maka harus diutamakan. Ikut saja pokoknya.

Ketidakseriusan pemerintah dalam menangani isu lansia juga terlihat dari pembubaran Komnas Lansia beberapa waktu lalu. Saya tidak akan membahas soal kinerja Komnas Lansia baik atau buruk. Tapi opsi logisnya kan begini. Kalau kinerja mereka itu baik, kenapa harus dibubarkan? Kalau kinerjanya buruk, ya silakan dibubarkan. Tapi ya pemerintah harus bertanggung jawab, ganti dengan satuan tugas yang lain. Atau minimal perlihatkan bahwa pemerintah bisa memberi jaminan sosial bagi lansia.

Tapi kan kenyataan berbanding terbalik dengan harapan. Pun dengan harapan isu lansia akan diangkat oleh para legislator, belum ada. Ataupun jika ada, tidak terlihat sama sekali hasilnya. Mungkin memang isunya tidak seksi, kalah dengan isu-isu lain yang lebih bisa memberi atensi dan gengsi.

Ruang diskusi untuk membahas isu lansia memang sangat minim. Isu satu ini seakan terbenam di antara isu-isu rentan lain. Tak hanya minimnya ruang diskusi tentang isu lansia, begitu pula ruang fisik bagi lansia itu sendiri. Belum banyak ruang-ruang fisik yang ramah bagi lansia. Masih kalah jauh dengan ketersediaan ruang fisik yang ramah bagi anak-anak. Tengok saja, restoran atau tempat-tempat umum itu mayoritas menjual tagline ramah lansia atau anak-anak?

Akibatnya lansia menjadi terasing dengan lingkungannya. Sangat terbatas ruang fisik yang bisa mereka akses dengan rasa aman. Dunia lansia menjadi sempit. Bahkan masyarakat sekitar tempat tinggal hanya memberi sedikit pilihan akan keberadaan ruang bersama bagi lansia. Palingan hanya senam dan Posyandu lansia yang tersedia di level kampung, itu pun kalau ada. Suram. Tak ayal ruang gerak lansia sangat minim. Hanya ada beberapa opsi ruang fisik yang mampu memberi mereka rasa nyaman.

Terkait rasa nyaman ini, saya jadi ingat obrolan dengan salah satu lansia dampingan di sebuah LSM. Saat itu dia diminta bercerita satu topik tentang kehidupan sehari-hari. Setelah merenung agak lama, barulah dia cerita tentang "pasar". Satu kata penuh makna di era modern. Walaupun bagi dia hanya mengacu satu arti, tentang keberadaan pasar tradisional.

Sejatinya pasar merupakan pusat jual beli, di mana motif ekonomi berlangsung di dalamnya. Tapi bagi lansia makna keberadaan pasar jauh lebih luas dari itu. Pasar menjadi salah satu ruang yang masih bisa menerima keberadaan mereka. Di pasar pula para lansia bisa menemukan jati diri mereka, dengan berdagang, tawar menawar, mengobrol, bersendau gurau, sampai bergosip ria. Tentu dengan cara mereka sendiri.

Tak heran jika kita melongok ke dalam pasar, lansia adalah penguasa mayoritas. Pun dengan tambahan keberadaan generasi yang lebih muda, tak membuat mereka menjadi tersisihkan. Kondisi pasar cenderung lebih bisa membaur dan cair lintas generasi. Sudah terbentuk atmosfer yang ramah bagi generasi tua ini.

Sampai akhirnya datang pandemi. Ruang-ruang lansia yang seadanya tersebut harus kembali hilang. Mulai dari dihentikannya kegiatan senam dan Posyandu lansia di kampung-kampung. Sampai pada penutupan pasar tradisional. Ruang gerak lansia semakin terbatas.

Walau begitu kesehatan tetap menjadi prioritas utama. Siratan takdir menyatakan bahwa lansia sebagai golongan paling rentan dan hendaknya membentengi diri. Dalam kasus ini harus mengurangi kontak dengan orang lain dan dunia luar. Akibatnya mereka harus di rumah. Kembali berkumpul bersama keluarga.

Memang, ruang terbaik bagi lansia sebenarnya berada di lingkup keluarga dekat. Sebagaimana tema peringatan Hari Lansia Nasional tahun ini, "Lanjut Usia Bahagia Bersama Keluarga". Tapi pertanyaannya adalah sejauh mana sebuah keluarga mampu menciptakan ruang yang nyaman bagi lansia. Tatkala kebanyakan masih belum bisa menempatkan lansia sebagaimana mestinya.

Tak jarang anggota keluarga sendiri malah menempatkan lansia pada situasi lemah. Menganggap berkurangnya kemampuan fisik dan daya pikir menjadi pembeda. Kondisi yang menyebabkan lansia menjadi terasing di tengah keluarga sendiri. Kebahagiaan bagi lansia yang diharap hadir dalam lingkup keluarga hanyalah harapan semu.

Tatkala tuntutan berdiam diri di rumah ketika pandemi harus diterapkan, kaum dewasa, milenial, bahkan anak-anak cenderung lebih bisa menyesuaikan. Teknologi misalnya, menjadikan mereka serasa tak terkena imbas pandemi. Tidak ada bedanya sedang mengarungi pandemi atau tidak. Lah bagi lansia, menggapai teknologi membutuhkan usaha yang besar. Tidak selalu berhasil, andaikan berhasil belum tentu memberikan kegembiraan dan kenyamanan. Alhasil, lansia menjadi teralienasi kala pandemi di rumah dan di tengah keluarga sendiri. Nahas.

Tapi apa mau dikata, begitulah adanya. Persepsi hulu masyarakat umum terhadap lansia masih selalu dikaitkan dengan perkara kesehatan. Juga perihal memendeknya umur, antrean paling depan menuju ajal. Aksi hilirnya menjadikan lansia hanya disuruh berdiam diri di rumah menjaga kesehatan. Serta harus senantiasa beribadah, mendekatkan diri pada Tuhan.

Bilamana demikian adanya, harusnya boleh dong kalau penciptaan ruang bagi lansia lebih diutamakan. Kan katanya mereka antrean paling depan, harusnya mendapat pelayanan lebih dulu. Ya, kalau sistem antrean terpakai, tapi kalau antrean belakang menyerobot minta didahulukan dan akhirnya diperbolehkan? Ya, itu fakta isu lansia di lapangan, kalah dengan isu-isu lain. Belum ada ruang.

Adityo Nugroho
pegiat isu lansia di Elderly Rights, Advocacy, and Treatments (ERAT) Indonesia

(mmu/mmu)