Kolom

Merawat Sahabat dari Luar Angkasa

Santi Kurniasari Hanjoyo - detikNews
Jumat, 28 Mei 2021 10:30 WIB
The Trans Luxury Hotel baru-baru ini memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia yang digelar di Bandung. Hasil kerajinan dipamerkan dan terlihat sangat keren.
Pameran karya seni anak berkebutuhan khusus di Bandung (Foto: Siti Fatimah)
Jakarta -

Seperti apa rasanya punya sahabat dari luar angkasa? Fujiko F. Fujio menuangkan imajinasinya dalam komik dan anime Mojacko, alien imut dan lucu berwarna putih oranye yang tersesat di bumi. Imajinasi Stephen Spielberg menghasilkan film E.T alias The Extra Terrestrial.

Saya tidak punya imajinasi semacam itu. Tapi saya memang punya sahabat dari luar angkasa "sungguhan". Sahabat saya ini tidak berwarna oranye, hijau, atau apa. Ia adalah anak saya sendiri, yang kebetulan agak berkebutuhan khusus.

Seorang teman saya pernah bilang begini, "Kalau kamu percaya reinkarnasi atau kelahiran kembali, anak berkebutuhan khusus adalah jiwa yang jarang (atau bahkan belum pernah) terlahir sebagai makhluk bumi. Barangkali selama ini ia terlahir di bagian lain dalam alam semesta. Biasanya, jika terlahir di bumi, ia punya tujuan menjelajah atau mempelajari sesuatu."

Bagi saya, percaya atau tidak percaya reinkarnasi itu tidak penting. Ada yang percaya, banyak pula yang tidak. Bebas. Hanya saja, saya senang dengan konsep bahwa anak saya bukan berasal dari bumi. Konsep sahabat dari luar angkasa itu mampu menjelaskan banyak hal yang selama ini saya risaukan. Mengapa ia keukeuh tidak mau belajar hal-hal yang penting, dan justru mencurahkan perhatian pada hal-hal yang menurut manusia bumi tidak penting?

Di film-film, punya sahabat dari luar angkasa itu mengasyikkan. Mereka bisa diajak bertualang dan mengalami peristiwa-peristiwa seru. Tetapi aslinya tidak selalu begitu. Namanya saja sahabat dari luar angkasa. Otomatis, ia belum punya banyak pengalaman tinggal di bumi. Tidak mengherankan jika si sahabat ini tidak memahami berbagai hukum, peraturan, dan kesepakatan manusia bumi. Karena itu, si manusia bumi (baca: saya) harus menghabiskan banyak waktu dan tenaga, sekadar untuk menjelaskan hal-hal yang sebetulnya sederhana saja.

Ambil contoh yang mudah saja, soal kebersihan. Manusia bumi pada dasarnya mengenal konsep bersih dan kotor. Kita sepakat bahwa kondisi tertentu disebut bersih, dan kondisi tertentu disebut kotor. Tidak semua manusia bumi suka menjaga kebersihan, namun setidaknya pada usia tertentu, katakanlah enam tahun, kita sudah bisa membedakan mana yang bersih dan mana yang kotor.

Sahabat saya dari luar angkasa tidak demikian. Beberapa tahun lalu, meski sudah cukup umur, konsep bersih dan kotor sama sekali tidak ada dalam pikirannya. Atau kalaupun ada, ia bebas memilih untuk tidak peduli. Jika sedang makan, dan makanan tersebut jatuh ke lantai, si sahabat akan lekas-lekas mengambil makanan tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut secepat mungkin, sebelum dicegah.

Jika makanan itu jatuh di lantai rumah yang relatif bersih, tentu tidak apa-apa. Saya sendiri sering melakukannya. Namun sahabat saya ini tetap keukeuh memungut dan melahap makanan yang jatuh ke lantai warung makan yang jelas-jelas terlihat kotor sekalipun. Ia sama sekali tidak peduli. Baginya, makanan merupakan sesuatu yang amat penting. Ia kurang bisa memahami, mengapa dalam hal makanan jatuh, manusia bumi lebih mengutamakan kebersihan.

Ia amat sulit menerima konsep bahwa makanan harus dibuang jika sudah kotor. Padahal, lantaran sekarang tinggal di bumi, tubuh si sahabat dari luar angkasa otomatis bereaksi sama seperti manusia bumi. Jika mengonsumsi makanan yang sudah kotor, ia rawan sakit perut dan mencret. Di situlah tugas saya sebagai manusia yang sudah berpengalaman tinggal di bumi. Mengawasi, membimbing, dan mengajari sahabat saya itu tanpa henti.

Meski mulanya terasa sia-sia, namun lambat laun mulai tampak hasilnya. Sedikit demi sedikit, ia mulai bisa mengerti. Beberapa tahun terakhir ini, ia sudah tidak mau lagi makan makanan yang jatuh ke lantai yang kotor.

Matematika

Manusia bumi sepakat bahwa matematika amat penting. Tidak semua orang harus jadi ahli matematika, namun ilmu hitung dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian mutlak harus dikuasai. Minimal untuk sekadar berbelanja ke pasar, patungan untuk membeli sesuatu, dan sebagainya. Namun sahabat saya ini tidak demikian. Ia sama sekali tidak tertarik pada matematika, dan menolak untuk mempelajarinya.

Barangkali di tempat asalnya tidak ada yang namanya angka-angka. Hingga kini, belum ada seorang manusia bumi pun yang sanggup mengajarnya matematika. Kita bisa menyediakan air, namun tidak bisa memaksa orang lain untuk minum, bukan? Ketimbang stres dan memaksa sahabat saya belajar matematika, yang pasti akan membuatnya stres juga, saya memilih untuk menundanya sementara waktu ini.

Tentu saya tak henti berusaha. Sering saya mengajaknya pergi ke minimarket, menyuruhnya melihat harga es krim atau susu. Bertanya padanya, "Uang segini cukup atau tidak?" Lantas menyuruhnya membayar di kasir dan menerima uang kembalian. Mengenalkannya dengan matematika sedikit demi sedikit. Namun saya memang tidak berharap banyak. Pasaknya, harapan, utamanya yang tidak terkabul, bisa membuat orang stres.

Siapa yang tahu masih berapa lama waktu kita di dunia ini? Saya bisa saja mati besok pagi, yang artinya saya hanya akan stres sebentar saja. Atau bisa jadi saya masih akan hidup hingga lima puluh tahun lagi. Apakah hidup selama puluhan tahun itu harus diisi dengan stres karena sahabat saya menolak belajar matematika? Saya sih no.

Seorang begawan yang menyamar sebagai penulis di media online mengatakan, "Urip ki meh golek opo?" Hidup ini mau cari apa? Jalani saja dengan gembira. Saya hanya berharap, suatu saat nanti sahabat saya akan paham pentingnya matematika, dan mau mempelajarinya. Ia bisa belajar dengan cepat kok, asalkan ia sendiri yang punya kemauan untuk belajar.

Kemampuan Membaca

Satu hal yang saya syukuri, sahabat saya sepakat dengan manusia bumi bahwa membaca itu penting. Sejak kecil ia tertarik pada merek-merek mobil, motor, truk, dan banyak benda lain, serta selalu ingin tahu nama jalan yang ia lalui. Karena itu, ia cukup cepat belajar membaca.

Berbekal kemampuan membaca, ia bisa berselancar di dunia maya. Mengetikkan sesuatu di kolom cari, menonton kartun dan video pemasangan AC di YouTube, menyaksikan proses pemotongan mobil, serta berjalan-jalan dengan Google Street View.

Suatu ketika, saat sedang diajak pergi naik mobil, sahabat saya tiba-tiba menunjuk ke sebuah jalan kecil yang belum pernah kami lewati. Ia bilang, "Itu Jalan Mangga." Penasaran, saya segera membuka Google Maps, dan ternyata perkataannya itu benar. Rupanya sebelum ini, ia sudah sering 'pergi' berjalan-jalan ke Jalan Mangga via Google Street View.

Ia datang untuk menjelajahi bumi, mempelajari banyak hal di bumi, namun dengan sudut pandang makhluk dari luar angkasa. Ia punya sudut pandang dan cara berpikir yang unik, yang tidak dimiliki oleh manusia bumi pada umumnya. Karena itu ia membutuhkan orangtua yang bisa memahami dan menerimanya apa adanya. Yang selalu sayang, selalu mau berusaha sabar, meski jauh dari sempurna.

Kebetulan saja dalam kehidupan kali ini, suami dan saya yang diserahi tugas untuk menjaganya. Seperti sepotong lirik dalam lagu Mojacko versi bahasa Indonesia, "Kata-kata yang indah tidaklah perlu." Iya, memang tidak perlu. Saya menyayanginya apa adanya. Ia anak istimewa, sahabat dari luar angkasa.

Santi Kurniasari Hanjoyo ibu rumah tangga yang suka berlari, menulis, dan menyanyi

(mmu/mmu)