Kolom

"Ikatan Cinta" dan Eskapisme Politik

Rio F. Rachman - detikNews
Kamis, 27 Mei 2021 12:10 WIB
Song Kang dan Han So Hee
Adegan dalam sebuah drama Korea yang digemari masyarakat (dFoto: dok. JTBC)
Jakarta -

Dalam sebuah forum diskusi online pada Jumat (7/5), Guru Besar Kajian Media Universitas Airlangga Rachmah Ida menyebutkan, kecenderungan masyarakat memamah sinetron, semisal Ikatan Cinta belakangan ini, adalah imbas dari kejenuhan atas begitu banyaknya konten politik di media massa.

Masyarakat haus akan hiburan yang ringan. Mereka butuh eskapisme atau tempat pelarian. Tidak hanya karena meranggasnya talkshow, berita, bahkan artikel-artikel politik yang hiruk pikuk, namun karena lelah dengan kenyataan hidup yang bisa jadi tidak sesuai dengan impian.

Tentu, hiburan yang dimaksud tidak melulu soal Ikatan Cinta. Bisa juga drama Korea, bahkan sepak bola. Konten-konten serial drama yang kebanyakan hiperialitas dan mengada-ada telah menjadi entitas. Publik pun berupaya meraih apa yang disebut Roland Barthes (1973) sebagai the pleasure of text. Kenikmatan dari teks, baik berupa tulisan naratif, simbol, audio visual, dan apa pun yang ditampilkan di media.

Apakah mengunyah sinetron, drama Korea, tayangan sepak bola, mixed martial art, dan sebangsanya hanyalah sebuah pelarian yang sia-sia dan hedonis? Tidak sesederhana itu. Berkaca pada apa yang terjadi saat ini, konstelasi politik sudah menjadi begitu rumit.

Bukan hanya kompleks di level tayangan media massa dan pernyataan politisi, meminjam ungkapan dari tweet Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen @na_dirs, inkonsisten. Lebih dari itu, keputusan maupun kebijakan politik tampak runyam di arus bawah. Paradoks penyekatan arus mudik dan kesan pembiaran pada arus imigran yang masuk Cengkareng, adalah satu di antara fenomena politis yang memicu orang untuk mencari tempat pelarian dari kejumudan.

Tayangan sinetron, drama Korea, sepak bola, mixed martial art, adalah beberapa bentuk produk komunikasi massa. Semua itu disiarkan sebagai pesan yang disampaikan komunikator, dalam hal ini media massa, pada penerima pesan atau komunikan yang bersifat massal. Para penerima pesan yang menelan pesan itu, mengutip Jean Baudrillard (1987), terkena dampak ecstasy of communication. Mereka terbuai, atau dalam bahasa kekinian menjelma "halu" tingkat tinggi, untuk bisa lebur menikmati suguhan acara itu.

Lihatlah bagaimana emak-emak seketika ingin punya suami sesempurna Aldebaran atau tokoh laki-laki di Ikatan Cinta. Tengok pula remaja putri yang sesenggukan melihat drama Korea, fans Manchester United yang marah saat tim tersebut dituding sebagai medioker, atau pecinta Khabib Normagumedov yang otomatis tidak menyukai Conor McGregor. Alasannya sepele, McGregor tidak menunjukkan rasa hormat pada Khabib. Para fans garis keras menjadi jengkel pada musuh idolanya.

Ekstasi, sebagaimana narkoba pada umumnya, membuat orang gampang histeris, ekspresif, sekaligus transformatif atau berubah identitas meskipun temporer. Yang jelas, ekstasi menjadi tempat pelarian. Dalam konteks ini, tayangan non-politik adalah tempat singgah yang teduh dan memberi penyimaknya dunia baru. Mereka larut dan merasa nikmat karena bisa melupakan sejenak konstelasi politik yang bising dan seakan berjalan tak tentu arah.

Sebuah ungkapan populer dari Marshall McLuhan (Understanding Media: The Extensions of Man, 1964) menyatakan, media adalah kepanjangan tangan manusia. Lebih tepatnya, kepanjangan tangan di ranah menyebarkan pesan. Dalam konteks kekinian, media yang dimaksud bisa dibagi menjadi dua lingkup. Pertama, alat atau piranti untuk menyampaikan pesan. Kedua, bentuk pesan yang disampaikan.

Ikatan Cinta, sebagaimana drama korea, sepak bola, maupun tayangan mixed martial art adalah isi pesan. Alat atau piranti untuk menyampaikan pesan adalah televisi melalui gelombang stasiun atau layar datar gawai melalui internet. Sedangkan bentuk pesannya adalah ide cerita atau narasi. Media, baik sebagai piranti maupun sebagai bentuk, mungkin berubah. Tapi manusia tetap membutuhkan pesan dan bahkan bertukar pesan.

Pesan selalu dikemukakan melalui narasi. Apa pun bentuknya, baik teks, tulisan, verbal, gambar visual atau grafis. Faktanya, sebagian orang cenderung tersentuh aspek psikologisnya melalui ekspresi visual atau grafis (Komunikasi Grafis, Jokhanan Kristiono, 2021). Manusia adalah Homo narans. Manusia merupakan makhluk pencerita dan relatif butuh untuk selalu mendengar cerita (Narration as A Human Communication Paradigm: The Case of Public Moral Argument, Walter R. Fisher, 1984).

Narasi-narasi yang memiliki kekuatan, akan mencapai takdirnya sendiri, melalui media apa pun jua. Kekuatan dalam narasi, terlepas apakah cerita itu baik atau buruk karena selalu ada subjektivitas, akan menjadi pemikat bagi penikmatnya. Narasi akan selalu punya penggemarnya sendiri.

Penikmat novel HAMKA mungkin merasa sebal dengan film yang berangkat dari novel tersebut. Namun di luar sana, ada banyak penggemar film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck atau Di Bawah Lindungan Ka'bah yang tidak peduli dengan novel-novelnya. Narasi dalam media teks novel dan media film adalah dua struktur yang berbeda.

Berita palsu, ujaran kebencian, dan sumpah serapah, merupakan narasi-narasi yang perlu diwaspadai di era kekinian. Kenyataannya, masih ada saja manusia yang gemar mempercayai narasi itu. Demikianlah nasib mereka yang telah masuk ke echo chamber atau ruang gema. Mereka hanya mengonsumsi narasi yang sesuai dengan kepercayaan maupun imajinasinya sendiri.

Rio F. Rachman dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

(mmu/mmu)