Kolom

Nikah Muda dan Disharmonisasi Keluarga

Supriyadi - detikNews
Kamis, 27 Mei 2021 10:30 WIB
Muhammad Alvin Faiz dan Larissa Chou
Pasangan muda selebritas Alvin Faiz dan Larissa Chou (Foto: Instagram @alvin_411)
Jakarta -

Baru-baru ini diberitakan bahwa rumah tangga pasangan muda yaitu Alvin Faiz yang merupakan anak Almarhum Ustad Arifin Ilham dengan Larissa Chou akan berakhir di meja perceraian. Mereka memilih untuk menempuh jalan hidup masing-masing meskipun masih berkomitmen untuk mengasuh dan membesarkan anak bernama Yusuf secara bersama-sama.

Seperti sudah kita ketahui sebelumnya bahwa pasangan ini memilih membina rumah tangga ketika masih berusia muda. Waktu Alvin Faiz mempersunting Larissa Chou beliau masih berumur 17 tahun dengan Larissa Chou berumur 3 tahun lebih tua darinya yaitu 20 tahun. Sontak proses perceraian ini membuat ramai pemberitaan media massa, baik media cetak, media elektronik maupun juga sosial media.

Banyak yang menyayangkan bahwa usia pernikahan mereka yang baru menyentuh 5 tahun harus kandas. Namun apapun itu yang terjadi hal tersebut merupakan hak privasi dan pilihan hidup mereka berdua. Tulisan ini hanya akan mengungkap fakta bahwa perceraian yang terjadi di Indonesia sering kali dipicu oleh faktor nikah muda.

Juliasih, SD dkk. (2020) dalam buku Era Baru Keluarga Indonesia Maju menyebutkan bahwa Indonesia memiliki tingkat perceraian tinggi. Dalam kurun waktu 2013-2015, perempuan usia 20-24 tahun yang menikah sebelum usia 18 tahun memiliki angka perceraian lebih tinggi dibanding mereka yang menikah setelah usia 18 tahun. Dalam Revisi Badan Pusat Statistik (BPS) 2017, persentase perempuan usia 20-24 tahun yang berstatus cerai dan pernah menikah sebelum berumur 18 tahun sebesar 4,53 persen, sedangkan yang menikah setelah usia 18 tahun lebih rendah, yaitu 3,02 persen.

Memang benar bahwa ketika melakukan pernikahan, Larissa Chou sudah berumur 20 tahun, namun dengan Alvin Faiz yang masih berumur 17 tahun tidak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya di usia tersebut mereka belum sama-sama matang dalam mengambil keputusan dan mengatasi perbedaan. Usia yang masih hijau tersebut sebenarnya merupakan usia yang labil, belum dewasa dan seharusnya mereka masih berada di bangku sekolah untuk menimba ilmu, menambah wawasan, pengalaman, dan pengetahuan.

Kita menyadari bahwa menikah merupakan kebutuhan hidup manusia. Dengan menikah diharapkan akan memunculkan rasa aman dan nyaman, menumbuhkan rasa kasih sayang, hidup dalam ketentraman dan terpenuhinya kebutuhan baik itu kebutuhan psikis, kebutuhan rohani, kebutuhan jasmani maupun kebutuhan biologis.

Namun patut disayangkan bahwa pilihan menikah di usia yang sangat muda justru sering kali berujung pada kandasnya kehidupan berumah tangga. Dan lebih disayangkan lagi ketika memutuskan untuk melakukan perceraian atau hidup terpisah mereka sudah memiliki momongan atau anak yang masih kecil.

Anak akhirnya sering kali menjadi korban. Perceraian sering kali menyebabkan tugas-tugas dan tanggung jawab yang seharusnya bisa dipikul antara suami dan isteri akhirnya hanya dilakukan oleh salah satu di antaranya. Fenomena menjadi orang tua tunggal di jaman sekarang ini sering kita jumpai. Menjadi orangtua tunggal tentunya bukan sesuatu yang ideal untuk perkembangan dan pertumbuhan anak di mana anak-anak masih membutuhkan kehangatan kasih sayang dari kedua orangtua secara maksimal. Lebih dari itu, anak-anak juga masih membutuhkan model peranan kedua orangtua untuk diikuti oleh si anak.

Beruntung bagi pasangan muda yang memutuskan untuk hidup terpisah atau bercerai dan sudah memiliki anak tersebut jika sudah memiliki dasar basis perekononomian yang cukup. Artinya untuk kebutuhan si anak di masa depan secara ekonomi sudah berkecukupan namun jika kemudian pasangan muda yang bercerai tersebut belum memiliki basis ekonomi yang cukup tentunya hal ini akan merepotkan dan menambah beban rumah tangga bagi orangtua tunggal yang tinggal bersama si anak.

Tentunya kita menginginkan makin hari makin sedikit terjadi disharmonisasi keluarga yang berujung pada perceraian pada pasangan-pasangan yang berumah tangga di Indonesia. Untuk itu diperlukan usia yang matang baik dari psikis, ekonomi, fisik maupun sosial untuk berumah tangga. Dengan usia yang sama-sama matang tersebut diharapkan suami-isteri akan mampu menjalankan peranannya masing-masing dalam keluarga. Suami dan istri mampu bermitra yang sepadan dalam menjalankan fungsi, peran dan tanggung jawab secara bersama-sama sehingga tercipta harmoni yang indah dalam keluarga yaitu saling asah, saling asih, dan saling asuh dalm keluarga.

Supriyadi pegawai negeri sipil

(mmu/mmu)