Kolom

"One Village One Youtuber"

Bismo Ariobowo - detikNews
Selasa, 25 Mei 2021 09:28 WIB
Ilustrasi Google, ilustrasi YouTube, dan ilustrasi Facebook
Foto ilustrasi: Andhika Prasetia
Jakarta -

Inilah salah satu berita yang viral belum lama ini: Kampung Youtuber Sejahterakan Warga

Pada tayangan di sejumlah televisi nasional itu diceritakan tentang sosok Siswanto atau Siboen Nugroho, pemilik akun Youtube "Siboen Channel". warga desa Kasegeran, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah ini telah memiliki subscriber di atas satu juta atau meraih Golden Button dengan penghasilan mencapai Rp 20 juta setiap bulan.

Tak hanya sukses sendirian, Siswanto mengajak warga kampungnya turut belajar membuat konten Youtube. Hasilnya kini terdapat 33 warga kampungnya yang sukses sebagai youtuber dengan subscriber rata-rata 100.000 dan penghasilan sekitar Rp 2-5 juta/bulan.

Konten Youtube juga bisa berisi cerita sehari-hari. Contoh Siboen. Ia adalah pemilik bengkel sepeda motor yang menjadikan proses servis sepeda motor sebagai tema utama konten di channel-nya. Tak dinyana, ternyata banyak masyarakat yang terbantu dengan tayangan servis sepeda motor yang dibawakan dengan bahasa sederhana dan teknik gambar yang tidak rumit.

Tak hanya rakyat biasa, situasi pandemi yang telah membatasi mobilitas sosial dan ketatnya protokol kesehatan menjadi pemicu berbagai pesohor yang ingin tetap eksis juga "alih profesi" menjadi youtuber. Mereka membuat konten sendiri, dari studio atau rumah sendiri. Dan, nyatanya tak sedikit yang mampu meraup dollar lebih berlimpah daripada eksistensi mereka sebagai artis sebelum pagebluk melanda.

Dari kalangan ini terdapat beberapa nama yang bermetamorfosis menjadi youtuber terkaya di Tanah Air. Mereka antara lain Baim Wong dan Paula, Raffi Ahmad, Andre Taulany, Sule, Dedy Corbuzier, Anang-Ashanty, dan masih banyak lagi artis yang punya channel dengan subscriber jutaan orang.

Sebelum Siboen, di kalangan rakyat biasa kita telah mengenal Atta Halilintar, Zuni and Family, dan Ucup Klaten misalnya. Tak heran jika hal itu menginspirasi anak-anak kita. Coba tanya pada mereka, "Apa cita-citamu?" Bisa jadi jawaban mereka, "Menjadi youtuber!"

Namun berbeda dari kebanyakan youtuber yang membesarkan namanya sendiri, Siboen mampu mengajak orang-orang di sekitarnya menjadi content creator sehingga membuat warga desa ikut terangkat kesejahteraannya. Atas prestasinya mengangkat kesejahteraan warga, Siboen diangkat sebagai Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) dengan salah satu lini usahanya adalah membuat konten kreatif untuk Youtube.

Adanya anggaran dana desa yang cukup besar setiap tahun kemudian diikuti dengan bertumbuhnya BUMDesa merupakan momentum menciptakan lapangan kerja di desa. Tak ayal, salah satu industri yang relatif murah dan memungkinkan dikembangkan saat pandemi adalah industri kreatif dengan menjadi youtuber desa.

Saya punya pengalaman blusukan membuat konten Youtube pembayaran Bantuan Sosial Tunai (BST ) dari desa ke desa di Jawa Timur. Di sana saya menyaksikan bahwa ternyata setiap desa sebenarnya punya potensi keunikan dan kekhasan yang bisa menjadi inspirasi bagi para youtuber pedesaan mengikuti jejak sukses Siboen.

Misalnya saja saat di Banyuwangi, saya sempat meliput Desa Adat Osing yang unik karena tetap mempertahankan adat istiadat warisan leluhur di tengah modernisasi kehidupan. Banyak sisi-sisi kehidupan masyarakat desa adat yang menarik jika dijadikan konten Youtube.

Lalu, saya pernah juga meliput di Gili Iyang, pulau oksigen terbaik di dunia di gugusan kepulauan sebelah timur Sumenep, Madura. Atau Pulau Bawean di Laut Jawa. Di sana banyak hal unik yang bisa menjadi konten Youtube. Baik konten wisata, aktivitas masyarakat, adat istiadat atau know-how yang bisa diangkat. Masing-masing desa memiliki produk unggulan yang layak dipublikasikan.

Hal ini sejalan dengan program "One Village One Product" yang dicanangkan pemerintah yang bertujuan agar setiap desa menggali produk unggulan untuk meningkatkan kesejahteraan warganya. Bisa berupa produk barang dan atau jasa. Pertanian, perkebunan, peternakan, wisata, kerajinan, kuliner bahkan budaya mancing ikan bisa jadi konten.

Namun, pemerintah desa perlu mencari talenta atau mendidik warganya memiliki tokoh seperti Siboen. Desa memfasilitasi warganya untuk pelatihan atau studi banding "bagaimana menjadi youtuber sukses". Bisa dengan belajar kepada Siboen atau siapa saja yang sukses menjadi youtuber.

Sebut saja ini semacam program "One Village One YouTuber" (Satu Desa Satu Youtuber). Satu youtuber di sini bukan berarti kerja individual, melainkan kerja kelompok, semacam kelompencapir (kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa) pada masa Orde Baru, namun kali ini kelompoknya adalah para pembuat konten atau youtuber desa.

Ada beberapa manfaat yang bisa dirasakan jika setiap desa memiliki kelompok youtuber ini. Pertama, masyarakat desa khususnya anak mudanya memiliki kegiatan positif dan produktif. Tak perlu urbanisasi untuk mencari kerja. Cukup kerja memproduksi konten Youtube. Jumlahnya antara 3-5 orang per kelompok. Mulai dari aktor, kameramen, sampai kreator konten.

Ucup Klaten Channel meraih sukses meski dengan setting desa, menggunakan bahasa Jawa sehari-hari dan aktor-aktornya berwajah "ndeso". Siboen Channel bisa sukses hanya berbekal kamera HP Android kreditan dan tripod sederhana.

Kedua, pembuatan konten Youtube punya multiplier effect terhadap ekonomi desa. Seperti saat di Banyuwangi, desa wisata yang saya kunjungi makin dikenal masyarakat karena aktif memproduksi video promo yang diunggah di Youtube. Padahal konten belum digarap dengan serius. Desa di kaki Kawah Ijen itu mampu menyejahterakan warganya dari semula sekadar kuli panggul belerang dan petani menjadi pelaku wisata.

Ketiga, pendapatan yang diraih dari konten Youtube dapat digunakan untuk kegiatan pembangunan di desa. Pemerintahan desa bisa menjadi fasilitator kegiatan kelompok pembuatan konten ini dengan memberi bantuan dana awal untuk pembelian kamera, tripod, stabilzer, dan alat lain yang menunjang pembuatan konten. Nanti setelah channel mulai menghasilkan, bisa lakukan perjanjian bagi hasil pendapatan dari Youtube.

Memang untuk pemula, pendapatan ini tidak bisa instan. Perlu waktu agar channel memenuhi syarat untuk monetisasi (komersialisasi). Siboen memerlukan waktu sekitar lima bulan untuk mendapatkan penghasilan pertamanya dari Youtube.

Di luar misi ekonomi, memiliki kelompok youtuber desa juga mendukung fungsi sosial, yaitu mendokumentasikan seluruh potensi dan aktivitas desa yang kelak akan menjadi warisan bagi lintas generasi agar makin memahami perjalanan sejarah eksistensi desanya.

Saya yakin, masyarakat kita pada dasarnya dipenuhi oleh orang-orang kreatif. Dengan pendekatan yang tepat dan difasilitasi kegiatannya, mereka akan berkembang masif. Kalau Siboen yang lulusan SD mampu bikin sejahtera kampungnya melalui Youtube, tentu masih banyak Siboen-Siboen lain di berbagai kampung dan desa yang juga bisa.

Andai tiap desa punya satu Siboen saja, kita akan memiliki 74.957 youtuber (sesuai jumlah desa) se-Indonesia yang akan mengangkat kesejahteraan warga melalui kegiatan yang produktif, kreatif, dan asyik. Wow...!

Bismo Ariobowo vlogger dan pengamat media sosial, tinggal di Surabaya

(mmu/mmu)