Kolom

Pandemi dan Keterasingan yang Sewajarnya

Surya Al Bahar - detikNews
Senin, 24 Mei 2021 15:26 WIB
Salat Jumat berjemaah digelar di Masjid Agung Al Barkah, Kota Bekasi. Begini potret salat Jumat yang digelar dengan physical distancing.
Tuntutan jaga jarak dalam segala aktivitas melahirkan keterasingan pada invidvidu (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Jarak waktu saya mengerjakan skripsi dengan pandemi Covid-19 tidaklah jauh, hanya berselang dua bulan, karena ketika sidang, pandemi itu sudah lebih dulu datang di Indonesia, kira-kira tepat di bulan Maret tahun kemarin. Sebelum itu, informasi tentang Covid-19 sudah beredar di segala macam media pemberitaan, namun sayangnya saya tidak terlalu memperhatikan secara spesifik virus tersebut. Alasan saya, mungkin hanya terjadi di luar negeri, Indonesia aman-aman saja. Ditambah lagi optimisme Menteri Kesehatan saat itu mampu mempengaruhi pikiran masyarakat.

Hingga pada akhirnya, Covid-19 resmi jadi pandemi, kemudian muncul kebijakan pemerintah dari pusat hingga desa. Dari penjagaan portal sampai penutupan masing-masing desa. Warga bergilir bergantian menjaga portal itu. Sambil dibekali thermo gun dan hand sanitizer, mereka duduk berjaga. Satu desa biasanya ada beberapa pintu masuk. Setiap jalan masuk, kalau di desa saya, dijaga masing-masing dua orang. Satu hari ada dua sif. Sif pertama dari pukul 06.30 – 14.00, sedangkan sif dua dari 14.00 – 22.00. Setelah itu tidak ada yang jaga lagi sampai pagi.

Saking ketatnya, orang luar tidak diperkenankan masuk. Bila keadaannya genting, orang itu disuruh menunggu di luar desa, lalu orang yang dicari dipanggil dan diminta untuk menemui. Apalagi waktu itu tepat di Hari Raya Idul Fitri, mereka tidak bisa bermaaf-maafan dan berkumpul sanak famili. Belum lagi seperti orang jualan mainan dan jajanan ringan. Jualan mereka tidak mungkin laku kalau ia tidak masuk ke desa-desa, mendekati anak-anak kecil, memarkirkan kendaraannya di kerumunan anak-anak. Seperti sekolah, tempat mengaji, dan lapangan bermain.

Setelah lama saya amati, tiba-tiba saya menemukan korelasi antara topik skripsi yang saya ambil dengan fenomena Covid-19 ini. Saya hanya menghubung-hubungkannya saja. Mencoba sedikit menggambar fenomena perubahan sosial yang dialami masyarakat. Saya tidak tahu, bahkan sebelum mengambil topik keterasingan itu, sama sekali saya tidak berpikir imbas yang ditimbulkan oleh Corona.

Saat itu saya membaca novel ngRong karya S. Jai, penulis asal Lamongan yang namanya sering muncul di berbagai event penulis Jawa Timur. Karyanya banyak mendapat penghargaan. Untuk topik keterasingan itu sendiri jujur saja bukan dari inisiatif saya, melainkan waktu itu saya mendapat rekomendasi dari dosen pembimbing. Kebetulan pembimbing saya adalah Prof. Setya Yuwana, selain dosen dan peneliti, ia juga penulis. Hasil penelitiannya banyak dimuat di berbagai jurnal berkredibel.

"Teori eksistensialisme sebenarnya sudah banyak yang ambil, tetapi untuk topik keterasingan masih belum seberapa yang berminat," jelasnya waktu itu..

Awalnya, Prof. Yu, demikian sapaannya, menyarankan menggunakan teori keterasingannya Karl Marx. Maklum saja, eksistensialisme sebelum Jean Paul Sartre, tokoh teori yang saya ambil, sudah ada tokoh-tokoh lain berbicara, tetapi dengan fokus berbeda. Ada Martin Heidegger, Karl Japes, Kierkegaard, bahkan Marx sendiri pun sedikit menyinggul soal keterasingan, tetapi pada lingkup pekerja, tidak pada wacana sosial kemasyarakatan yang berkembang.

Konsep keterasingan sejatinya sering kita lakukan di kehidupan sehari-hari. Hanya saja kadang kita tidak menyadarinya. Mungkin ada sedikit waktu saat kita merenung kemudian kita sadar akan hal itu, namun secara penamaan "keterasingan" kita kurang memahami. Apalagi konsep keterasingan yang dibawa Sartre, saya rasa jika direpresentasikan di masa pandemi ini sangat cocok sekali. Sebab hubungan yang dipakai Sartre langsung menggunakan subjek dan objek.

Di sana ada persinggungan antara dua unsur yang ada di dalam diri setiap manusia. Itu mutlak tidak bisa dihilangkan dan disingkirkan. Setiap manusia bisa jadi subjek atas dirinya atau bisa juga jadi objek untuk orang lain. Keterasingan yang dijelaskan Sartre lebih menitikberatkan pada objektivitas manusia. Jika manusia dengan mudahnya menjadi objek atas diri orang lain, maka tidak ada alasan lain bahwa ia akan mudah mengalami keterasingan.

Sekarang coba kita rasakan di masa pandemi ini. Bagaimana setiap orang mewanti-wanti dirinya agar tidak terlalu bersentuhan dengan orang lain. Orang lain adalah "virus" yang harus benar-benar dijauhi. Kita pada dasarnya subjek, karena kita mempunyai kekuasaan dan kedaulatan atas diri kita, kapan bersentuhan dan tidak, itu pilihan. Tapi kalau kita sadari betul-betul, meskipun kita sebagai subjek, apakah kita juga lepas menjadi objek? Tentu tidak. Sebab, setiap hari kita selalu mengkhawatirkan bagi lingkungan sekitar.

Pandemi ini akan jadi ajang pertarungan banyak subjektivitas. Semakin kuat subjektivitas seseorang, justru semakin banyak pula orang mengalami keterasingan. Kata Sartre, itu adalah semacam bentuk pengendalian diri dan kekalahan.

Wilayah sosial merupakan wilayah intim bagi manusia. Sifat sosial pada dasar hati manusia tidak bisa dihilangkan begitu saja. Itu naluriah hubungan antarmanusia. Sebelum pabdemi, kita bebas melakukan apapun. Bersalaman, berpelukan, dan bercipika-cipiki tanpa batas.

Belum lama, kejadian yang langsung saya rasakan itu ketika sedang Salat Jumat di salah satu masjid di Gresik. Sepintas, masjid terlihat memang bernuansa NU. Dari warna catnya, ornamennya, ukiran kaligrafinya, foto-foto kegiatannya, dan simbol lainnya. Dikuatkan lagi dari imam masjid yang menggunakan basmalah saat sebelum membaca Al-Fatihah. Saya lahir dari kultur NU, sehingga sedikit-banyaknya saya tahu soal begituan.

Selesai salat, yang membuat saya pekewuh adalah karena bingung mau salaman atau tidak. Kegiatan salaman selepas salat memang relatif, ada yang melakukan, ada pula yang tidak. Tetapi budaya semacam itu lumrah terjadi di desa-desa, terutama di desa saya. Padahal, orang bersalaman manfaatnya sangat banyak, selain menggugurkan dosa, orang bersalaman juga tidak hanya sekadar bersalaman tanpa ekspresi. Pasti ada yang melempar senyum dan sama-sama saling mengembalikan senyum.

Saya rasa itu simbol kemesraan. Bisa mendekatkan yang jauh dan bisa merapatkan yang dekat. Pada saat itu spontan saya berpikir, budaya seperti itu apakah benar-benar hilang? Kalaupun tidak hilang, sampai kapan berhentinya? Karena saya menjumpai hampir di setiap masjid selepas salat tidak ada yang bersalaman. Ada mungkin hanya satu atau dua orang, itu pun mereka melakukannya di saf paling belakang.

Selama ini, jika kita coba menelisik dalam diri kita sendiri, mana ada manusia yang bisa melepaskan diri dari eksistensinya? Di mana-mana, setiap geraknya menimbulkan hal yang tampak dan bisa dinilai orang lain. Bentuk simbolis di sekujur tubuh kita juga wujud eksistensi diri. Di dalam bukunya, Sartre menjelaskan, musuh eksistensialis adalah kegiatan yang menyebabkan keterasingan. Padahal Sartre sendiri paham bahwa tidak ada yang benar-benar bebas di dunia ini.

Satu kebebasan berlawanan dengan kebebasan lain, baik yang sepadan atau pun tidak. Pernah tidak kita menyadari kalau semakin banyak kita berhubungan dengan manusia, semakin banyak pula peluang kita mengalami keterasingan? Kebebasan akan tercipta jika kita benar-benar sendiri. Bahkan sebagai hamba Tuhan, mana mungkin kita bisa bebas berbuat semaunya?

Pada lingkup organisasi pemerintahan terkecil di desa saja masih banyak norma-norma sosial dan keagamaan yang harus diikuti. Terlebih lagi kita sebagai hamba, masih ada Tuhan yang selalu mengatur, memutuskan, membijaksanai, dan mengingatkan kita. Jadi ada atau tidaknya pandemi Covid-19, kebebasan mutlak tetap saja semu. Keterasingan selalu ada. Tetapi kedaulatan dan kemerdekaan manusia membuat keterasingan bisa diminimalisasi sewajarnya. Namun hasil akhir, mau tidak mau manusia wajib mnerima hasil keputusannya secara individu

Ahmad Baharuddin Surya tinggal di Lamongan

(mmu/mmu)