Kolom

Palestina, Rachel Corrie, dan Solidaritas Kemanusiaan

Ahmad Hadi Ramdhani - detikNews
Senin, 24 Mei 2021 11:00 WIB
Rachel Corrie menjadi simbol perlawanan masyarakat sipil terhadap Israel
Jakarta -

Palestina, negeri konflik tempat kota suci tiga agama samawi. Meski nama itu selalu nyaring terdengar dan menjadi bahan perbincangan masyarakat dunia, namun ia tak kunjung mendapatkan hak untuk menjadi negeri merdeka. Bertahun-tahun lamanya rakyat Palestina tenggelam dalam kubangan penderitaan, namun tak satu pun tangan yang sampai meraihnya. Setiap tahun bunyi senapan, bom, dan teriakan tangis anak-anak menghiasi langit negeri suci itu.

Pertempuran tak kunjung usai, solusi tak jua hadir. Puing-puing bangunan bekas hantaman rudal, roket, dan tank. Suara tangis anak-anak menangisi jenazah orangtua mereka, tangis Ibu-ibu mengiringi mobil ambulans yang membawa tubuh anak-anak mereka. Bercak darah, sobekan baju, dan serakan perabotan menghiasi setiap sudut kota. Begitulah imajinasi kita ketika menyebut Palestina, "Neraka bagi anak-anak," kata Sekjen PBB.

Konflik Palestina-Israel bukan hanya konflik berebut tanah, atau malah konflik agama. Namun, konflik Palestina adalah tragedi kemanusiaan, kekerasan, dan penindasan. Oleh karenanya isu Palestina tidak boleh didekati hanya menggunakan pendekatan politik atau agama saja, tetapi harus juga menggunakan pendekatan kemanusiaan.

Belajar dari Rachel Corrie

Rachel Corrie adalah seorang gadis berkebangsaan Amerika Serikat yang pada 22 Januari 2003 memutuskan untuk bergabung bersama International Solidarity Movement (ISM) menjadi relawan kemanusiaan di Palestina. Atas kecintaannya menolong sesama dan rasa kemanusiaan pada dirinya, gadis yang bernama lengkap Rachel Aliene Corrie itu memutuskan cuti dari kuliah untuk mengabdi kepada bangsa Palestina.

Gadis kelahiran Olympia, Amerika Serikat, 1979 ini merupakan penganut agama Kristen. Namun agama tidak menjadi penghalang ia membantu sesama. Rachel berjuang bersama anak-anak Palestina untuk kemerdekaan bangsa Palestina dari Israel. Di Palestina Rachel menemukan kehidupannya; bersama anak-anak Palestina ia membangun harapan tentang masa depan yang lebih baik, dari ia anak-anak Palestina belajar bahasa Inggris.

Bahkan ia pernah menulis ,"Amerika tak mempesonaku lagi. Ia tak mampu memikatku lagi. Ia pudar dan terlipat di pinggiran pikiranku."

Namun perjuangan Rachel berakhir dengan kemalangan. Suatu ketika tentara Israel melakukan penyerangan ke kota Raffah. Israel berdalih penyerangan tersebut bertujuan untuk mencari teroris. Tentara-tentara Israel menghancurkan pemukiman warga, menggunakan buldozer mereka meratakan rumah-rumah warga dengan tanah.

Melihat hal itu Rachel geram dan mengadang sebuah buldozer yang hendak menghancurkan salah satu rumah warga. Dengan berani ia berdiri di depan alat berat itu, namun nahas si pengemudi alat berat itu dengan kejam melindas tubuh Rachel hingga beberapa tulangnya remuk. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong, hanya beberapa bulan setelah ia memutuskan diri untuk mengabdi untuk kemanusiaan di Palestina.

Menumbuhkan Solidaritas Kemanusiaan

Rachel Corrie menjadi bukti bahwa kemanusiaan itu melampaui identitas kultural, perbedaan politik, geografis, bahkan keyakinan. Dari Rachel kita belajar bahwa semua itu bukan penghalang kita untuk membantu sesama.

Kini Rachel Corrie menjadi simbol perjuangan masyarakat Palestina. Benar kata Gus Dur, "Berbuat baiklah kepada siapapun, karena orang tidak akan bertanya agamamu apa." Ia menjadi pahlawan bagi rakyat Palestina. "Dia putri Palestina," ucap mendiang Presiden Palestina Yasser Arafat sewaktu mengenang jasa-jasa Rachel Corrie.
Gadis itu mendapat tempat yang istimewa di hati rakyat Palestina.

Dari kisah gadis muda itu kita belajar bahwa solidaritas yang paling genuine adalah solidaritas yang tumbuh atas dasar nilai-nilai kemanusiaan, karena ia akan melampaui segala macam atribut kultural, ideologi, politik, dan keyakinan. Kemanusiaan adalah nilai universal yang wajib dijunjung tinggi oleh siapapun. Tidak akan ada perdamaian tanpa penghormatan terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan.

"Kita harus memahami bahwa mereka adalah kita, dan kita adalah mereka," begitu pesan Rachel. Atas dasar kesadaran bahwa kita bagian dari merekalah akan tumbuh rasa solidaritas sesama manusia.

Ahmad Hadi Ramdhani Wakil Direktur TGB Institute

(mmu/mmu)