Kolom Kang Hasan

Narasi Diplomasi Indonesia Soal Palestina

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 24 Mei 2021 10:07 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Perang antara Israel dan Hamas akhirnya berhenti melalui kesepakatan gencatan senjata setelah berlangsung 11 hari. Sebanyak 244 orang tewas di Gaza akibat serangan udara brutal yang dilancarkan Israel. Dari pihak Israel juga ada korban meski tak sebanyak yang diderita pihak Palestina.

Yang berhenti melalui gencatan senjata adalah pertempuran. Gencatan senjata bukan perdamaian. Kedua pihak masih bermusuhan. Nanti pertempuran akan terjadi lagi. Pertempuran antara Hamas dan Israel sudah menjadi semacam pertunjukan berulang selama belasan tahun terakhir.

Reaksi dunia pun menjadi sebuah rutinitas. Orang-orang berkumpul menyatakan dukungan kepada Palestina dan mengecam Israel. Para pemimpin negara dan diplomat melakukan hal yang sama. Sumbangan dikumpulkan, lalu dikirim ke Palestina. Semua itu tak mengubah apapun. Palestina tetap bermusuhan dengan Israel. Yang menyedihkan, orang-orang Palestina hidup tanpa masa depan.

Pemerintah Indonesia pun merupakan bagian dari rutinitas itu. Presiden dan Menteri Luar Negeri menyampaikan tanggapan, isinya sangat normatif dan rutin. Tidak ada gagasan yang mengarahkan pihak-pihak yang bertikai kepada solusi.

Apa masalah Palestina saat ini? Israel masih melakukan penindasan, dan mengabaikan sejumlah resolusi Dewan Keamanan PBB. Di sisi lain, Hamas juga tidak menunjukkan iktikad untuk berdamai. Kalau diibaratkan, keduanya seperti dua orang yang sedang saling cekik. Tak ada yang mau mengendurkan cekikan, dengan alasan kalau dikendurkan pihak sana akan mengencangkan cekikan, sehingga merugikan pihak sini.

Harus ada pihak yang tegas sekaligus bisa dipercaya, membuat kedua pihak bisa mengendurkan sikap tanpa takut dirugikan. Indonesia sebenarnya bisa memainkan peran itu.

Apa yang harus terjadi di Palestina? Hamas harus berhenti menyerang Israel. Serangan Hamas tidak menggoyahkan Israel secara militer. Biayanya terlalu besar. Setiap serangan Hamas dibalas Israel secara brutal. Prioritas perjuangan Palestina menghentikan jatuhnya korban dari pihak Palestina.

Tapi bukankah dengan begitu Israel menjadi pemenang tanpa perlawanan? Tidak juga. Coba kita perhatikan dari konflik terakhir ini, yang dipicu oleh protes soal pembangunan pemukiman Yahudi. Apakah dengan serangan Hamas membuat masalah itu mengarah pada solusi? Tidak. Justru fokus dunia internasional teralihkan dari isu itu.

Karena itu sekali lagi, Indonesia harus berperan untuk memastikan tidak terjadi lagi pertempuran. Sayangnya peran itu tak dimainkan oleh Indonesia. Titik fokus diplomasi Indonesia ada pada soal mengeluarkan narasi mendukung Palestina. Kita tak pernah mendengar kritik atau kecaman kepada pihak Palestina. Baik dalam konteks meminta dua faksi Fatah dan Hamas bersatu, maupun mengkritik Hamas atas berbagai provokasinya.

Perang dan permusuhan adalah soal dua pihak. Palestina bukanlah pihak yang tidak bersalah. Ini yang sering jadi masalah. Apapun yang dilakukan Hamas sering dibenarkan dengan alasan bahwa Israel adalah pihak yang jahat. Karena Israel jahat, maka apapun yang dilakukan Hamas menjadi sah. Hasilnya adalah pertunjukan berulang tadi.

Pemerintah Indonesia harus berani bersuara berbeda. Mendukung perjuangan Palestina tidak sama dengan mendukung setiap tindakan mereka. Dukungan harus diberikan dengan menegaskan mana yang benar dan mana yang salah. Posisi itu pernah dimainkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid dulu. Ia adalah seorang pembela Palestina, tapi pada saat yang sama juga punya komunikasi yang baik dengan Israel.

Masalahnya, Presiden Jokowi tak akan berani mengambil posisi seperti Abdurrahman Wahid. Jokowi adalah politikus yang cenderung mencari aman dalam urusan dengan umat Islam Indonesia. Narasi diplomasi Indonesia soal Palestina lebih cenderung merupakan narasi untuk menyenangkan pihak-pihak di dalam negeri ketimbang mencari solusi bagi Palestina.

(mmu/mmu)