Jeda

Beragama dengan Bahagia, Bermazhab dengan Santai

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 23 Mei 2021 11:17 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Meski sudah lewat bulan puasa, saya ingin bercerita kejadian yang saya alami ketika bulan puasa kemarin. Saya punya kebiasaan selama jam tarawih berlangsung adalah mematikan handphone. Jadi pesan apapun yang masuk selama rentang waktu itu pasti tertunda. Malam itu setelah saya menyalakan handphone, banyak sekali pesan yang masuk, salah satunya dari teman baik saya. Dia minta bantuan untuk menyalurkan makanan yang telanjur dipesan ketika buka puasa tadi.

Jadi ceritanya, keponakan teman saya itu mengundang teman-temannya untuk buka bersama di sebuah rumah makan. Total ada 20 orang. Entah kenapa, mereka yang diundang tidak ada yang datang sama sekali. Padahal mereka sudah konfirmasi akan datang. Mereka juga tidak memberi kabar kalau membatalkan undangan. Alhasil, keponakan teman saya merasa di-prank dan menangis sejadi-jadinya.

Teman saya diminta kakaknya, yang tak lain adalah ibu si anak tadi untuk membagikan 20 porsi takjil dan mangut lele yang sudah telanjur dipesan. Teman saya tadi akhirnya mengontak saya minta usulan, sebaiknya dibagi ke mana. Saya telat merespons, tapi untungnya masalah sudah terselesaikan karena makanan sudah dibagi-bagi kepada yang berhak. Jujur sebenarnya saya ikut jengkel dengan kelakuan teman-teman keponakan teman saya tadi. Saya bisa membayangkan betapa kecewanya dia.

Ngomong-ngomong soal buka puasa bersama, saya termasuk orang yang malas diajak untuk buka bersama apalagi di rumah makan atau restoran yang ramai. Alasan saya mungkin sok relijius ya, tapi saya malas kalau buka puasa tapi salatnya jadi keteteran, dan itu membuat tidak nyaman. Selain itu saya punya masalah dengan keramaian, sering merasa tidak nyaman berada di antara banyak orang yang bising. Saya paling suka kalau diajak buka puasa bersama di rumah teman dengan sedikit orang atau di masjid sekalian yang jelas salatnya tidak akan keteteran.

Saya jadi teringat teman baik saya, seorang syi'i (penganut Syiah) ketika diajak buka puasa bersama. Jika saya dan teman-teman ahlusunnah berbuka ketika azan magrib berkumandang, teman saya penganut Syiah ini harus menunggu sampai langit benar-benar gelap. Kalau kami, teman-temannya ini sudah paham. Tapi agak bingung ketika kami bersama teman-teman lain yang belum paham tradisi Syiah. Karena perkara mazhab ini kadang sensitif, teman saya ngalahi pura-pura ke toilet dulu.

Biasanya saya bertugas mengamankan makanan jatahnya teman saya agar ketika dia kembali, tidak tinggal tulang dan sisa lalapan saja. Maka dari itu, saya bisa klop dengan teman saya itu karena punya kecenderungan kurang suka berkumpul untuk buka puasa bersama ramai-ramai di restoran, kecuali kondisi tertentu yang mengharuskan. Kami lebih menikmati berbuka di rumah teman yang sukarela menjadi tuan rumah, mengobrol intens, tidak terburu-buru soal pesan makanan, masak bersama, salat berjamaah bersama, dan tidak merasa pekewuh antara satu dan lainnya.

Bulan puasa kemarin saya tidak berjumpa dengannya. Jujur saya kangen berbuka puasa di rumahnya. Biasanya tiap bulan puasa, walaupun sekali, pasti saya akan ke rumahnya untuk berbuka puasa bersama.

Saya tertawa ketika membaca status Facebook seorang teman yang juga penganut Syiah. Ia menulis begini: "Sebagai cah yang berbuka nunggu langit gelap, suka iri dengan teman-teman NU dan Muhammadiyah. Baru dug-dug azan 2x, itu risol sudah di mulut." Kalimat ini juga sering dilontarkan teman saya ketika membahas soal buka puasa. Memang benar, azan belum selesai saja saya sudah habis sebotol air mineral.

Teman saya lebih ekstrem lagi, azan baru sampai ajakan salat, dia sudah menghabiskan dua sosis solo. Saya sampai berkelakar ketika kemarin mendapat oleh-oleh kurma Iran dari teman yang sedang berulang tahun. Oleh-oleh tersebut saya foto dan saya unggah di akun Facebook saya. Saya bilang, walau kurmanya dari Iran, saya tidak sanggup ikut buka puasa seperti tradisi Syiah, bisa-bisa kena asam lambung, saking lamanya nunggu langit gelap.

Unggahan tersebut ada yang menanggapinya dengan serius di pesan pribadi. Seseorang tersebut benar-benar yakin kalau ternyata saya Syiah. Dia bilang pernah melihat saya memuji-muji ahlulbait. Setelah saya ingat-ingat ternyata yang saya lantunkan itu doa Lii Khomsatun dan kasidah Sa'duna Fiddunya yang biasa dilantunkan teman-teman nahdliyin. Hadeh. Saya pun menjawab dengan jawaban template, "Kalau Syiah memang kenapa?" ternyata jawaban tersebut baginya adalah validasi atas ke-Syiah-an saya. Saya pun dihapus dari pertemanan. Haha. Ya memang mau bagaimana? Wong memang banyak tradisi yang mirip. Bahkan Gus Dur saja sampai guyon "NU itu Syiah minus imamah."

***

Tragedi mangut lele yang menimpa keponakan teman saya tadi juga mengingatkan teman saya seorang penganut Syiah, orang yang sama yang saya bicarakan di atas. Dua tahun lalu, kami mengikuti kegiatan Solo Walking Tour yang kebetulan dilaksanakan sore hari sambil ngabuburit. Hari itu kami menyusuri kampung batik Laweyan. Belajar tentang sejarah "Mbok Mase" (perempuan juragan batik Laweyan) dan perkembangan bisnis batik di Laweyan.

Setelah puas melihat bangunan-bangunan unik di kampung batik dan sempat masuk salah satu bunker kuno, kami kembali ke titik kumpul awal, Masjid Laweyan. Setelah diskusi selesai, saya dan teman saya memilih tinggal, sekalian buka puasa di masjid itu. Masjid yang satu kompleks dengan makam Ki Ageng Henis ini salah satu masjid favorit saya di Solo. Masjid ini dulunya adalah pura. Saya suka lubang angin yang ada di masjid ini, seperti masjid-masjid di India yang ada tempat untuk mengikat tali doa.

Saya kok jadi berkhayal menjadi Anushka Sharma dalam film Rab Ne Bana di Jodi, ketika dia mengikat tali doa di masjid sufi.

Kami hanya membawa air mineral untuk berbuka, dan sangat njagakke makanan dari masjid. Untuk takjil pembatal puasa tidak ada masalah, tapi ketika membuka nasi kotak yang dibagikan, saya ngakak, teman saya ngakak tapi juga ngenes. Jadi jatah makan dari masjid adalah nasi lele kremes. Saya tentu tidak masalah karena saya makan lele meski bukan ikan favorit, tapi tidak dengan teman saya. Dia mengikuti fikih Syiah yang mengharamkan makan ikan tidak bersisik.

Dia tidak makan belut, cumi, dan tentu saja lele. Akhirnya dia hanya makan kremesan dan saya makan dengan lauk lele yang tidak jomblo karena dobel. Sambil tertawa saya berjanji akan mentraktirnya ketika sahur nanti, sebagai ganti lauknya yang saya makan.

"Kalau sahur nyantai kan ya? Kalau buka kan nunggu langit benar-benar gelap, kalau imsak nunggu langit benar-benar terang. Begitu ya?" guyon saya kepadanya yang langsung dibalas dengan keplakan di pundak saya, "Cah ra nggenah," katanya. Dia masih mangkel karena dulu pernah dikerjai teman-teman yang usil. Saat itu kami harus bekerja sama dalam suatu proyek dan menginap di sebuah penginapan saat bulan puasa. Waktu itu sore bakda ashar langit gelap sekali. Teman saya seorang syi'i ini dibangunkan teman saya yang lain karena ada hal yang ingin ditanyakan. Karena masih setengah sadar dan melihat langit memang gelap, teman saya ini langsung minum.

Kami pun ngakak bersama. Bahkan kami yang buka puasanya ketika azan magrib saja belum, eh dia sudah minum. Dia sempat marah-marah kepada kami. Kami pun ngeles, kan kami bilangnya langitnya gelap. Gelap mendung maksudnya, bukan gelap setelah magrib.

Teman saya ini sering mendapat pertanyaan dari teman-teman lain, apa tidak susah mengikuti mazhab yang menurut kebanyakan teman kami, sengsara banget. Dari aturannya sampai anggapan negatif orang lain yang belum tahu. Tapi kata teman saya, yang namanya keyakinan ya pasti dipegang teguh, yang namanya sudah cinta, tidak ada kata sengsara. Asik-asik saja, katanya.

Ya, seperti pertemanan kami ini. Beragama dengan bahagia, bermazhab dengan santai, tiada kata saling hujat meski berbeda. Prasangka timbul bisa jadi karena kita belum tahu atau belum saling mengenal. Soal banyak yang menyebut Syiah bukan Islam, teman saya enteng saja menjawabnya. "Lah siapa bilang Syiah itu Islam? Syiah kan memang bukan agama. Syiah itu salah satu mazhab dalam Islam, begitu juga Sunni."

Mendungan, 21 Mei 2021

Impian Nopitasari penulis cerita berbahasa Indonesia dan Jawa, tinggal di Solo

(mmu/mmu)