Perjalanan

Kesederhanaan Kuliner Iran

Emil siskawati - detikNews
Minggu, 23 Mei 2021 10:38 WIB
roti cane kari kambing khas Aceh
Foto ilustrasi: detikFood
Jakarta -

Bagi Anda yang senang dengan kuliner berbagai negara, wajib untuk mencicipi rasa kuliner Iran; segeralah datang ke sini untuk berburu kuliner yang tidak banyak gorengan. Lebih banyak kue-kue manis dan kacang-kacangan.

Pertama singgah di Iran, kami makan di Hotel Karoon, karena tidak ada jualan cemilan seperti di Indonesia di pinggir jalan --sangat jarang. Sarapan paginya kita makan roti nun, semacam roti cane. Tidak ada menu nasi untuk pagi hari, hanya siang saja tersedia nasi, malam pun hanya roti tak lupa yogurt. Ternyata ini berlaku di seluruh Iran; mereka tidak biasa makan nasi tiga kali sehari.

Selanjutnya kami makan di warung dekat makam di Teheran. Ada jenis sate tusuk dengan tusukan besi lebar dan potongan ayam yang besar. Bumbunya dengan kuning safron dan juga didampingi dengan salad sayur.

Waktu kami berkunjung ke Qom, kami mampir di rumah warga Indonesia asal Makassar. Kami diundang sebelum datang ke Iran, jika ke Qom diminta untuk menginap di rumahnya. Hanya di Qom kami ke sana kemari menginap dalam satu kota. Seperti datang ke rumah saudara yang sudah lama tak dikunjungi.

Pertama kami menginap di rumah mahasiswa S2 filsafat yang berasal dari Makassar, dan kedua kami menginap di rumah teman waktu kuliah dulu di Bandung. Kami dulu sama-sama di organisasi kemahasiswaan dan bertemu kembali setelah lebih dari 10 tahun tak jumpa.

Di rumah pertama kami langsung mendapatkan suguhan pastel, atau jalangkote bahasa Makassarnya. Hampir setengah kami melahap pastel enak itu. Tak ada satu pun santapan khas Iran yang disuguhkan. Selepas makan pastel kami disuguhi lagi sop kambing. Kambing ini dibagi secara gratis oleh pemerintah setempat untuk para mahasiswa yang ada di Qom.

Ini juga yang menjadi kecemburuan sebagian kecil warga Iran di Qom; kenapa mahasiswa dari luar ini diberi biaya sampai segitunya? (Info ini disampaikan juga oleh penghuni yang kami tempati).

Ada satu yang khas dari kebiasaan orang Iran, yaitu mereka paling rajin minum teh. Pagi, siang, malam mereka selalu minum teh manis.

Rumah kedua kami menginap di rumah kawan. Karena kami sudah lama tidak berbagi cerita, kami saling berebut cerita soal makanan. "Di sini mie dan kecap sangat berharga, kecap harus beli ke supermarket Teheran, di Qom tidak tersedia, dan setiap hari saya harus masak. Susah kalau rasa dan budaya harus dibawa-bawa ya begini. Nggak ada Gofood," keluhnya, "Dan kunyit serta rempah-rempah itu kami keringkan agar bisa awet," lanjutnya.

"Masakan Iran tidak ada satu pun yang rasanya enak, buatku aneh, " sambil dia cicipi sop ayam yang dia buat untuk kami makan malam itu. Selebihnya cerita soal politik di iran.

Sepanjang dia hidup di Iran hampir 10 tahun itu, dia terus memasak tanpa banyak jajan makanan di luar. Kecuali benar-benar terpaksa. Dan beberapa teman WNI di sana biasanya beberapa kali dalam sebulan jualan bakso, tempe, dan juga tahu. Betapa bergairah dan kayanya cita rasa kuliner Indonesia.

Makanan di Iran memang tak seperti makanan di beberapa negara yang pernah saya kunjungi. Iran sangat minim dengan gorengan, bahkan tidak ada kami temukan. Sangat khas dengan kacang dan rempah. Karena menurut mereka makanan harus mengandung kesehatan dan kekuatan fisik.

Nyatanya memang demikian; saya menyaksikan mereka yang tua sangat lincah, kuat jalan, dan anak muda juga terlihat tegap. Di Mashad ada tradisi pawai sambil angkat besi memanjang yang sangat berat. Selain kekuatan fisik, mereka juga memperhatikan pengaruh pada kecerdasan. Ini juga yang biasa dikonsumsi orang Yahudi; mereka makan kacang-kacangan, terlebih di waktu hamil.

Sewaktu saya baca buku Dina Sulaiman sebelum berangkat ke Iran, "Di iran dapur-dapurnya sangat bersih, tidak ada terlihat minyak tumpah dan sayur yang berantakan." Betul juga, mereka tidak ada istilah menumis, menggoreng ikan, menggoreng bakwan, dan sebagainya seperti kita di Indonesia. Karpet pun masuk ke area dapur tidak akan menjadi persoalan menjadi kotor.

Dan, satu hal yang unik dari Iran, untuk belanja sayuran dan lain-lain dilakukan para bapak-bapak. Ibu-ibu cukup di rumah saja untuk memasak. Jadi, para bapak-bapak tahu harga sembako di pasar.

Waktu di Isfahan dan Mashad barulah kami merasakan makanan khas Iran. Yaitu bubur ditumpahi rempah kayu manis dihaluskan dan juga roti nun dicocol kacang yang dihaluskan, serta kurma Iran tak pernah tinggal. Untuk bulan Oktober mereka menganjurkan banyak makan buah, terutama buah apel.

Demikianlah mengenai kuliner Iran, yang tidak begitu banyak seperti di Indonesia, sangat sederhana. Karena mereka sangat berhati-hati terhadap asupan. Dan mereka tidak tahan pedas, lebih suka pada manis. Satu hal lagi, jika ingin bepergian ke Iran dan memberi oleh-oleh untuk orang Indonesia, bawakan kecap manis yang sasetan. Mereka senang sekali, seperti dapat harta karun.

(mmu/mmu)