Analisis Zuhairi Misrawi

Mengapa Israel Salah dan Kalah?

Zuhairi Misrawi - detikNews
Jumat, 21 Mei 2021 14:23 WIB
Jakarta -

Beberapa hari sebelum terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Palestina, sejumlah media di Israel memberikan catatan buruk terhadap operasi militer membabi-buta yang dilakukan pemerintah Israel. Pasalnya, Israel sedang disorot dunia perihal festivalisasi kekerasan dan pembunuhan terhadap warga sipil, baik di Jalur Gaza maupun di Tepi Barat. Citra Israel sangat buruk, bahkan semakin menegaskan Israel sebagai penjajah, penindas, dan rezim Apartheid.

The Jerusalem Post menulis bahwa Israel seperti biasa akan memenangkan pertempuran, tetapi Hamas yang akan memenangkan peperangan. Sedangkan Haaretz menulis lebih tajam lagi bahwa operasi militer yang dilakukan Netanyahu merupakan satu-satunya operasi militer yang paling gagal dalam sejarah Israel modern. Sebab itu, operasi militer tersebut harus dihentikan!

Bahkan, di dalam Israel sendiri muncul protes dan demonstrasi yang menentang kebijakan Netanyahu dalam operasi militer ke Jalur Gaza dan penangkapan sejumlah anak muda di Tepi Barat. Mereka memandang, bahwa Netanyahu sedang mempertontonkan kejahatan pada dunia. Padahal dunia menghendaki kedamaian dan penghormatan atas hak asasi manusia.

Kritik dan protes di dalam Israel sendiri dapat menggambarkan bahwa Israel benar-benar salah dan kalah. Israel betul-betul mempertontonkan kebiadaban, penjajahan, penindasan, kekerasan, dan kejahatan. Dalam 11 hari serangan Israel ke Gaza dan operasi militer di Tepi Barat, setidaknya ada 232 warga Palestina yang tewas. Di antaranya 65 anak-anak, 39 perempuan, 17 warga lanjut usia, dan ribuan warga lainnya luka-luka. Sedangkan dari pihak Israel ada 12 warga yang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Israel juga menghancurkan kantor media asing, toko buku, dan kantor-kantor pemerintahan Palestina yang berada di Jalur Gaza, termasuk kantor kementerian kesehatan yang di dalamnya terdapat hasil penelitian Covid-19. Tidak luput dari rudal-rudal Israel juga tempat-tempat penampungan pengungsi Palestina yang berada di Jalur Gaza. Sementara itu, puluhan anak-anak muda yang melakukan protes di Tepi Barat juga ditangkap oleh tentara Israel.

Tidak ada alasan yang dapat membenarkan operasi militer yang dilakukan Israel tersebut, karena secara faktual rudal-rudal Israel tidak tepat sasaran. Memang, Israel kerap kali menggunakan Hamas sebagai dalih untuk membenarkan serangannya, termasuk dengan alasan "mempertahankan diri". Tetapi saat ini Israel tidak bisa menyembunyikan kebiadabannya, karena semua yang dilakukan militer Israel dapat dilihat secara langsung oleh warga dunia, karena disiarkan secara live oleh beberapa stasiun televisi internasional, khususnya Aljazeera.

Tidak hanya itu, warga Gaza dapat mengabarkan peristiwa yang terjadi di Jalur Gaza dan Tepi Barat secara langsung melalui Instagram, Tik-Tok, Twitter, Facebook, Youtube, dan lain-lainnya. Padahal beberapa layanan media sosial tersebut berusaha untuk menyensor informasi yang disebarluaskan warga Gaza dan Tepi Barat. Namun protes keras dari warga dunia akhirnya membuat penyedia layanan media sosial luluh, karena khawatir ditinggalkan para penggunanya.

Israel terlihat keteteran dalam menghadapi banjirnya informasi di media sosial yang mempertontonkan kebiadaban mereka. Apalagi operasi militer Israel saat ini merupakan yang terbesar dan terburuk daripada tahun-tahun sebelumnya. Israel bisa saja ingin mempertontonkan kepada dunia perihal kecanggihan senjata yang dimilikinya. Tetapi warga dunia melihat sebaliknya, bahwa Israel benar-benar penjajah.

Israel tidak bisa lagi menggunakan dalih bahwa perang tersebut sedang melawan Hamas yang mengirimkan rudal ke pihaknya. Sebab faktanya, rudal-rudal Israel justru menyasar warga sipil secara membabi buta dan brutal. Israel telah melanggar hak asasi manusia dan etika perang yang paling fundamental, perihal menghindari jatuhnya korban anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia.

Israel juga kalah, karena Israel tidak mampu melumpuhkan Hamas. Alih-alih menghancurkan Hamas, kalau mau jujur justru dalam setiap operasi militer, Hamas justru selalu mendapatkan keuntungan dengan naiknya popularitas. Andai setelah operasi militer Israel ini digelar pemilu di Palestina, maka hampir dipastikan Hamas akan memenangkan pemilu dengan sangat meyakinkan. Apalagi dalam krisis politik terakhir, Hamas dapat menunjukkan kemampuannya dengan meluncurkan 4.000 rudal lebih ke sebagian besar kota-kota dalam Israel.

Yang teranyar, rudal Ayyash yang dimiliki Hamas mampu menempuh jarak 250 km dengan tingkat presisi tepat pada target sasaran. Bahkan, sistem pertahanan rudal Israel tidak mampu menghadang rudal-rudal yang diluncurkan Hamas dari Jalur Gaza. Hingga operasi militer Israel berakhir, mereka tidak mampu menangkap atau membunuh dua sosok penting di dalam Hamas, yaitu Mohammad Dieb dan Yahya Sinwar.

Maka dari itu, warga Gaza dan Tepi Barat merayakan gencatan senjata dengan gegap-gempita, karena setidaknya mereka telah mampu membukakan hati nurani dunia, khususnya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa yang selama ini selalu berpihak pada Israel. Di samping itu, mereka mampu membangun solidaritas persatuan di antara faksi-faksi yang selama ini selalu berseberangan di dalam Palestina, khususnya Fatah dan Hamas.

Dalam operasi militer yang terakhir ini, Israel benar-benar salah dan kalah. Israel akan mendapatkan tekanan serius dari dunia internasional untuk kembali ke jalur perundingan. Israel tidak bisa lagi menggunakan kebijakan sepihak, unilateral dengan berdasarkan kehendak Amerika Serikat, khususnya dukungan Donald Trump dalam 5 tahun terakhir.

Setidaknya ada dua hal yang harus mendapatkan perhatian serius Israel. Pertama, Israel tidak bisa lagi seenaknya mencaplok Masjid al-Aqsha dan kawasan suci di al-Quds. Langkah menjadikan Jerusalem sebagai ibu kota Israel dan menguasai kawasan suci al-Quds, termasuk Masjid al-Aqsha merupakan "garis merah" yang dapat memantik reaksi keras dan kemarahan warga Palestina. Sikap Israel tersebut telah terbukti mempersatukan Palestina dan menimbulkan simpati dari negara-negara Muslim, termasuk negara-negara yang mempunyai hubungan diplomatis dengan Israel sekalipun. Israel harus tunduk pada kebijakan two states solution, dengan garis saling menghormati dan saling menghargai teritorial masing-masing.

Kedua, Israel juga harus menggarisbawahi bahwa pembangunan ilegal di Tepi Barat merupakan tindakan pelanggaran hukum. Peristiwa yang terjadi di Kawasan Syaikh Jarrah tidak dapat dibenarkan. Israel harus menaati resolusi PBB yang secara terang-benderang menegaskan, bahwa pembangunan ilegal di Tepi Barat sama sekali tidak bisa dibenarkan.

Dari semua itu, sosok yang harus menanggung dampak dari kalkulasi dan sikap ekstrem Israel, yaitu Netanyahu. Ia telah dinilai salah dan kalah, karena operasi militer yang digelar Israel justru mencoreng wajah Israel di mata dunia. Dunia bersatu menentang Israel. Setelah ini Netanyahu akan menghadapi dua tantangan sekaligus, yaitu membentuk pemerintahan baru yang selalu gagal dalam setahun terakhir serta kasus korupsi yang menimpa dirinya dan istrinya. Padahal ia ingin agar operasi militer ke Jalur Gaza dan Tepi Barat dapat menolong dirinya yang secara politik berada di ambang kejatuhan.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama; analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)