Kolom

Mendorong Regenerasi Petani

Anggalih Bayu Muh. Kamim - detikNews
Jumat, 21 Mei 2021 10:34 WIB
Banyak anak muda yang menganggap jadi petani itu kotor dan kurang menghasilkan. Hal itu ditepis Dede Koswara (32), petani muda Bandung dengan omzet puluhan juta.
Petani muda di Bandung (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Masalah regenerasi petani di Indonesia semakin menjadi perbincangan publik akhir-akhir ini. Kecenderungan usia para petani di Indonesia yang semakin tua tentunya dapat mengancam keberlanjutan sektor pertanian. Padahal, pemerintah sendiri sedang berupaya mencapai visi untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu lumbung pangan dunia pada tahun 2045.

Data dari Sensus Pertanian 2013 yang dikeluarkan oleh BPS menunjukkan bahwa dari total 26.135.469 jumlah petani yang terdata ternyata paling banyak berada pada rentang usia 45-54 tahun sebanyak 7.325.544 jiwa. Sedangkan, pada usia petani muda berusia di bawah 35 tahun jumlahnya lebih sedikit. Data BPS juga mencatat bahwa selama kurun waktu 2003-2013 terjadi penurunan rumah tangga petani sebanyak 5 juta.

Kondisi petani yang berusia 55-64 ke atas rata-rata memiliki pendidikan sampai dengan jenjang sekolah dasar. Kesejahteraan petani juga semakin mengkhawatirkan, ditunjukkan dengan Nilai Tukar Petani (NTP) yang terus menurun dari tahun 2014 sampai Mei 2017. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa pada 2014 NTP sebesar 102,3 dan menurun terus sampai Mei 2017 dengan besaran 100,27. Rendahnya daya tawar petani dan rantai pasokan petani menjadi penyebab rendahnya NTP.

Hal tersebut menjadi salah satu penyebab anak dari keluarga petani enggan melanjutkan pekerjaan di bidang pertanian. Padahal, keberlanjutan keluarga petani menjadi penting disebabkan selama ini pertanian skala kecil lebih efisien dan berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan. Petani bahkan mendorong anaknya untuk mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi agar mendapatkan penghidupan yang lebih baik dibandingkan dengan orangtuanya.

Kajian Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (2015) menunjukkan bahwa 70% keluarga petani dari usaha tani padi tidak menginginkan anaknya bekerja di sektor pertanian. Hasil penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa 70% anak petani menyatakan tidak pernah bercita-cita menjadi petani. Keluarga dan anak petani menganggap bahwa taraf pendidikan yang lebih tinggi bagi sang anak akan membuat penghidupan generasi mereka ke depan lebih baik.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh penelitian LIPI (2015) yang didokumentasikan dalam film Srono Urip, Indonesia Kekurangan Regenerasi Petani? Penelitian tersebut menunjukkan bahwa baik anak dan orangtua yang bekerja sebagai petani berharap pendidikan mampu menjadi sarana mobilitas sosial vertikal bagi anaknya.
Padahal hal tersebut belum tentu terbukti disebabkan masih kuatnya problem konsentrasi penguasaan aset di pedesaan.

Riset SMERU Institute (2019) menunjukkan bahwa pendapatan anak-anak dari keluarga miskin setelah dewasa lebih rendah 87% dibandingkan dengan mereka yang tidak berasal dari keluarga miskin. Riset tersebut menjelaskan bahwa orang tua yang memiliki sumber daya dan aset yang memadai akan memudahkan bagi anaknya untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Kajian lain yang dilakukan Akatiga (2016) terhadap 12 desa penghasil beras di lima kabupaten menunjukkan bahwa anak dari tuan tanah di desa akan terus menjadi kelas atas di desa. Hal tersebut tetap dapat terjadi disebabkan anak tuan tanah tetap mendapatkan surplus pendapatan dari sektor pertanian dengan membuat petak-petak tanahnya untuk disewakan kepada para petani penggarap, meskipun tidak bekerja sebagai petani.

Sedangkan, anak petani kecil yang merantau ke kota sulit mendapatkan tanah kala kembali ke desa disebabkan harga yang mahal serta harus menunggu pewarisan dalam waktu lama. Tanpa adanya perbaikan akses dan redistribusi aset, pendidikan belum tentu dapat menjadi sarana mobilitas sosial vertikal bagi anak petani.

Mendorong Perbaikan

Langkah reforma agraria dan pendidikan diperlukan untuk mendorong perbaikan nasib keluarga petani, agar pertanian skala kecil yang selama ini menopang sumber pangan Indonesia dapat terjaga regenerasinya. Mengacu pada Wiradi (2014), reforma berbeda dengan reformasi yang sekadar berusaha melakukan perbaikan setelah adanya "gangguan" untuk mengembalikan keadaan kepada struktur yang sudah ada.

Reforma lebih jauh dari itu berusaha merombak struktur yang sudah ada dengan tujuan mencapai penghidupan yang lebih adil. Reforma agraria menjadi langkah awal yang penting dilakukan untuk melakukan redistribusi tanah, pengaturan batas maksimum kepemilikan tanah, pengaturan tata ruang, pemberian kredit, dan lain-lain. Reforma agraria memberi peluang bagi petani kecil dan buruh tani untuk mengolah lahannya sendiri dan membangun basis pemasarannya sendiri, sehingga anak-cucunya tetap dapat melanjutkan penghidupannya dengan lebih baik.

Sedangkan, reforma pendidikan diperlukan untuk menata ulang pendidikan di Indonesia sesuai dengan sumber penghidupan dan kegiatan sehari-hari masyarakat Indonesia. Hal tersebut untuk menghindari berulangnya kembali pendidikan semata menjadi bagian dari ambisi oligarki untuk mengeruk kekayaan alam dan sumber penghidupan rakyat seperti dalam skema MP3EI. Apalagi kajian yang dilakukan oleh Agung (2014) menunjukkan bahwa pendidikan seperti Akademisi Komunitas yang didorong skema MP3EI tidak sesuai dengan potensi ekonomi daerah.

Reforma pendidikan akan mendukung reforma agraria dengan menjadikan kegiatan di sawah/ladang sebagai bagian dari proses pembelajaran sekaligus sumber penghidupan bagi anak dan keluarga petani. Reforma pendidikan akan memberi penekanan pada proses pembelajaran yang mendekatkan siswa dengan realitas yang dihadapinya sehari-hari. Hal tersebut untuk mencegah sekolah justru membuat siswa tercerabut dari akar sosial dan tidak melihat aktivitas penghidupan keluarganya sebagai bagian pembelajaran seperti ditunjukkan kajian White (2012).

Reforma pendidikan secara otomatis akan mendorong regenerasi petani dengan menautkan realitas kehidupan petani kecil dengan ilmu pengetahuan modern. Hal tersebut juga akan membantu penguatan internal organisasi petani yang ada di sekitar keluarga petani, sehingga berperan pula dalam pemberdayaan komunitas.

Anggalih Bayu Muh. Kamim peneliti Junior Polgov DPP FISIPOL UGM

(mmu/mmu)