Kolom: Obituarium

Kenangan Pribadi dengan Wimar Witoelar

Philips J. Vermonte - detikNews
Rabu, 19 Mei 2021 13:00 WIB
Wimar Witoelar, mantan juru bicara Presiden Gus Dur
Wimar Witoelar (Foto: Rakean R Natawigena/20detik)
Jakarta -

Wimar Witoelar berpulang Rabu (19/5) pagi ini. Tentang Pak Winar, saya ada cerita personal. Saat baru lulus kuliah dari Bandung, saya kerja di sebuah perusahaan advertising, kantornya di Kemang. Karena krismon parah menghantam republik waktu itu, kantor saya pindah ke Duta Mas Fatmawati yang baru jadi dan baru buka, tenant-nya masih sedikit sekali. Di antara yang sedikit sekali itu adalah kantor Inter-Matrix, perusahaan komunikasi milik Wimar, sebelahan dengan kantor advertising tempat saya bekerja. Suasana Jakarta panas, rupiah hancur, PHK di mana-mana, juga demonstrasi mahasiswa yang masif terjadi setiap hari.

Suatu sore beberapa waktu menjelang kejatuhan Soeharto pada Mei 1998, pemilik perusahaan tempat saya bekerja, (alm.) Rasan Azh, menunjukkan pada saya selembar faksimili (nyaris tidak pernah lihat lagi fax hari ini, sudah hampir punah), undangan dari Inter-Matrix acara malam itu: conversation dengan Ron Moreau, wartawan senior Majalah Newsweek, kalau tidak salah statusnya adalah Kepala Biro Asia Pasifik, yang sedang meliput krisis ekonomi (dan politik) di Indonesia di tengah demo-demo mahasiswa yang makin masif. "Kamu aja nih yang datang ya, acaranya di kantor sebelah," begitu kata bos saya. Saya manggut cepat-cepat.

Saya senang. Dulu saya pikir setelah bekerja di advertising, saya tidak akan pernah bisa lagi bekerja di dunia akademik atau tulis-menulis yang saat mahasiswa saya idam-idamkan, waktu itu ingin jadi dosen atau wartawan tetapi beberapa kali proses rekrutmen gagal semua. Tiba-tiba ini bos suruh saya datang diskusi dengan Newsweek, saya mau datang! Walaupun anak bawang, cuma akan mendengarkan.

Akan ketemu Pak Wimar pula, yang waktu itu terkenal sekali, saya cuma lihat di televisi.

Kantor Inter-Matrix penuh sesak malam itu, yang hadir businessmen/businesswomen semua. Memang undangannya adalah soal ekonomi Indonesia semasa krisis. Saya kenali mereka karena nama-nama dan wajahnya sering muncul di koran, majalah, atau televisi, banyak di antaranya tentu saja teman dekat Pak Wimar, yang malam itu bertindak sebagai host dan moderator. Saya duduk diam-diam di belakang.

Mereka semua menceritakan kegelisahan masa depan bisnisnya yang sejak krismon terpuruk amat sangat. Cuma saya meradang dalam hati, karena "tema"-nya adalah bahwa mereka sekarang merugi. Dan mereka bilang Soeharto must go. Saya tambah kesal terlebih karena tiap mereka selesai bicara selalu diakhiri dengan, "Ron, menurutmu Indonesia harus bagaimana?"

Saya memberanikan diri angkat tangan minta bicara. Pak Wimar dengan baik hati mempersilakan, mungkin dalam hati bingung, ini bocah ingusan dari mana mau ikut-ikutan ngomong?

Saya dengan sangat naif sekali --maklum baru lulus kuliah-- bilang, kira-kira, "Saya sejak lama juga yakin Soeharto must go. Tapi Anda semua kelas menengah, pemilik usaha, baru ribut kalau sudah perutmu yang terancam dan usaha kalian yang nyaris bangkrut. Sekarang bilang Soeharto must go, walaupun sejak bertahun-tahun belakangan Anda semualah yang menikmati dan membuatnya jadi penguasa seperti sekarang dengan semua kroninya. Ngapain tanya Ron Moreau wartawan asing ini apa yang baik buat kita? You know what to do. Kalau Soeharto harus turun, ikut mahasiswa itu di jalanan."

Entah bagaimana saya bisa kurang ajar begitu, tapi Pak Wimar dan Ron sesudah acara selesai mengajak saya ngobrol-ngobrol lebih panjang. Saya bertukar kontak dengan Pak Wimar.

Seminggu-dua minggu kemudian Newsweek itu terbit, foto cover-nya mahasiswa Indonesia sedang berdemo di jalanan, lalu ada saya di-quote beberapa baris di dalam report-nya. Rasanya aneh dan bangga, karyawan kroco anak kemarin sore dikutip Ron Moreau.

Sejak malam itu saya kenal Pak Wimar, dalam setting diskusi dan aktivisme. Beberapa bulan kemudian saya dapat beasiswa ke Australia untuk studi S2, mengabarkan juga ke Pak Wimar. Sepulang studi S2 melamar kerja ke CSIS, alhamdulillah diterima. Lantas diundang beberapa kali bicara di acara Inter-matrix di Duta Mas Fatmawati. Pulang S3 juga makin sering satu forum dengan Pak Wimar yang tetap humble dan witty.

Setiap ulang tahun, selalu dapat birthday greetings dari Wimar. Ucapannya nyaris selalu sama: "Selamat ulang tahun Bung Philips, yang hari ulang tahunnya sama seperti saya."

Tiap ulang tahun saya selalu ingat Pak Wimar, beliau juga selalu ingat saya. Kami berdua lahir di tanggal yang sama, pada bulan Juli.

Rest in peace, Pak Wimar! Kontribusi dan kecintaan mu pada Indonesia akan banyak yang melanjutkan.

Philips J. Vermonte

Simak video 'Sosok Wimar Witoelar di Mata Sahabat':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)