Kolom

Pembukaan Kembali Pariwisata Bali

Dhea Wirashanti - detikNews
Rabu, 19 Mei 2021 11:40 WIB
Wisatawan lokal menikmati suasana saat liburan di Pantai Sanur, Denpasar, Bali, Senin (15/3/2021). Tiga wilayah di Pulau Dewata telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin beserta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno sebagai zona hijau bebas COVID-19 untuk pelaksanaan program Free Covid Corridor (FCC) yaitu Ubud di Kabupaten Gianyar, Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Nusa Dua di Kabupaten Badung, dan Sanur di Kota Denpasar. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/foc.
Wilayah "zona hijau" Covid di Bali (Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara)
Jakarta -

Para pelaku sektor pariwisata di Bali mengalami kerugian besar akibat pandemi saat ini. Tahun 2020-2021 menjadi tahun kelam bagi mereka. Kemenparekraf menyiapkan dana hibah untuk membuka kembali pintu pariwisata Bali. Pemerintah mencatat, Provinsi Bali mengalami kerugian sebesar Rp 9,7 triliun setiap bulannya selama pandemi Covid-19 terjadi.

Pembukaan Kembali

Banyaknya sektor yang berhenti di Provinsi Bali membuat pemasukan devisa negara juga berkurang. Oleh karena itu Kemenparekraf menerapkan kebijakan pembukaan kembali pariwisata di Bali. Kebijakan ini tentu saja membawa angin segar bagi pelaku usaha dan masyarakat yang tinggal di sekitar sektor wisata serta telah lama mengandalkan kehidupan mereka di sektor tersebut.

Dengan adanya kebijakan tersebut, mereka dapat kembali beraktivitas dan memperbaiki ekonomi keluarga yang sempat menurun akibat pandemi ini. Pembukaan pariwisata untuk turis mancanegara dilakukan melalui tiga tahap. Pertama, dilakukan pada Maret-April 2021, berupa kegiatan re-opening yaitu pelaksanaan vaksinasi, penyiapan tes lacak isolasi berupa lab tes PCR, dan penyediaan tempat isolasi.

Tahap kedua, pada Mei 2021 dimulai uji coba pembukaan destinasi pariwisata dengan implementasi wisata di daerah zona hijau serta wisatawan domestik. Daerah yang ditetapkan sebagai daerah zona hijau ialah Nusa Dua, Sanur, dan Ubud. Berikutnya dilanjutkan dengan penilaian uji kelayakan fasilitas umum dan evaluasi.

Tahap ketiga, sekitar bulan Juli 2021 mulai dibuka uji coba pariwisata wisatawan mancanegara di daerah zona hijau dengan koordinasi bersama travel internasional. Kemudian dilakukan penilaian dan evaluasi. Kemudian, bulan Agustus 2021 dibuka secara resmi wisata di daerah zona hijau dan pertemuan bersama WHO.

Pembukaan pariwisata ini hanya dilakukan di tiga zona hijau yang sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Ketetapan ini membuat munculnya ketenggangan antar-pemerintah daerah di Bali. Ketenggangan ini dikarenakan rata-rata masyarakat di seluruh daerah Bali memiliki pekerjaan di sektor wisata. Pemerintah daerah setempat pun akhirnya berlomba-lomba agar daerah mereka (daerah selain tiga zona hijau) juga dapat dibuka untuk pariwisata. Segala hal dilakukan mulai dari percepatan vaksinasi hingga pembenahan fasilitas umum yang menunjang protokol kesehatan Covid-19.

Memulai Sosialisasi

Selain kebijakan pemerintah tersebut, pemerintah daerah Bali juga harus memulai sosialisasi baru untuk membantu para usaha pariwisata dalam bersikap dan berprilaku dengan turis mancanegara dan lokal yang akan datang ke Bali. Hal ini dimaksudkan agar para pelaku usaha sektor pariwisata dan para wisatawan terhindar dari penyebaran Covid-19 yang mungkin saja dapat terjadi di sekitar mereka.

Sosialisasi mungkin saja dianggap sepele oleh sebagian orang namun, sebenarnya sebelum dilaksanakan sebuah kebijakan perlu adanya sosialisasi agar tidak terjadi kekeliruan saat kebijakan tersebut mulai diterapkan.

Dalam memulai pembukaan ini, akan diperlukan beberapa perbaikan untuk beberapa tempat wisata yang berada di Bali. Hal ini berkaitan dengan beberapa fasilitas yang awalnya bisa digunakan secara manual akan berubah menjadi menggunakan alat berbasis teknologi untuk menghindari kontak langsung antar-individu. Selain alat berbasis teknologi, peraturan jumlah pengunjung juga diperlukan dalam beberapa tempat wisata yang menjadi favorit wisatawan untuk dikunjungi.

Beberapa perbaikan tersebut harus segera dilaksanakan agar pembukaan pariwisata di Bali dapat berjalan dengan lancar dan juga tidak menimbulkan peningkatan kasus Covid di Indonesia. Selain itu, pembukaan uji coba pariwisata pada wisatawan domestik bertepatan dengan momen Idul Fitri yang identik dengan kegiatan pulang kampung atau yang biasa kita kenal dengan sebutan mudik.

Seperti yang kita ketahui, baru-baru ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan larangan mudik. Sehingga membuat keterbatasan masyarakat dalam bergerak. Akankah wisatawan domestik pada saat itu mengalami kelonjakan pengunjung sebagai akibat dari rasa jenuh masyarakat yang tidak dapat pulang kampung? Atau, justru sebaliknya, pariwisata tetap tidak dapat membaik karena keterbatasan gerak sebagai akibat kebijakan larangan mudik?

Sudah menjadi keharusan untuk pemerintah mulai menjalankan kebijakan-kebijakan baru untuk mendukung peningkatan ekonomi di Indonesia khususnya pariwisata. Hal ini dilakukan agar masyarakat yang memiliki pekerjaan di sektor wisata dapat memulai perekonomian mereka kembali. Kebijakan yang diberikan tak hanya untuk meningkatkan perekonomian, namun juga untuk menghindari peningkatan angka kasus Covid-19.

(mmu/mmu)