Kolom

Menyoal 'Jual-Beli Serangan Misil' Antara Palestina dan Israel

Jannus TH Siahaan - detikNews
Selasa, 18 Mei 2021 15:09 WIB
Israel terus menggempur jalur Gaza. Sejumlah bangunan pun rusak parah akibat hantaman roket tersebut.
Ilustrasi gempuran Israel di Gaza, Palestina (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Kisruh di Yerusalem Timur baru-baru ini bermula dari persoalan yang sama yang selama ini memicu kontak fisik antara pihak kepolisian dan militer Israel dengan orang-orang Palestina, yakni persoalan kepemilikan lahan atau properti. Kali ini bermula di enam rumah milik orang Arab di Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur yang disengketakan oleh Israel. Enam keluarga tersebut telah tinggal di sana selama puluhan tahun sejak Yerusalem Timur ditetapkan sebagai kawasan netral internasional. Namun menurut Israel, bukti-bukti hukum kepemilikan properti menyatakan lain bahwa enam properti tersebut sebelum perang Arab dan Israel tahun 1948 adalah milik orang Yahudi, lalu disita oleh Jordan.

Dalam tradisi kepemilikan properti dan lahan di Israel, maupun sebaliknya di Palestina, lahan atau properti yang sudah terbukti secara hukum menjadi milik orang Israel tidak diperbolehkan dijual kepada orang Palestina, begitu pula sebaliknya. Sehingga saat terbukti bahwa properti enam orang Arab tersebut adalah milik orang Yahudi sebelum disita oleh Jordan di perang 1948, maka bagi Israel properti dan lahan tersebut harus dikembalikan kepada Israel, atas nama hukum. Karena telah berkali-kali dilakukan pendekatan dan sosialisasi tanpa hasil, akhirnya terjadilah penggusuran atas nama hukum yang berlaku.

Menyikapi itu, Israel menawarkan solusi sewa minimal dengan opsi jangka waktu tak terbatas, karena tidak bisa dipindahkan kepemilikannya kepada orang Arab Palestina. Namun mayoritas pihak Palestina menolak dan memicu demonstrasi penolakan yang cukup masif di penghujung Ramadhan lalu. Dan seperti biasa, demonstrasi berakhir kisruh karena munculnya aksi lempar batu yang kemudian dibalas oleh pihak Israel. Peristiwa yang sama terjadi di saat hari Raya Idul Fitri di mana demonstran yang melakukan pelemparan batu lari ke lokasi salat Id yang membuat pihak Israel juga melakukan pengejaran ke lokasi ibadah umat muslim tersebut.

Sementara soal jual beli serangan misil juga berada dalam skema konflik yang sama seperti di waktu-waktu lalu, yakni faktor Hamas. Awal ceritanya adalah soal Israel dan beberapa negara lainnya yang telah menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris, layaknya Hezbollah di Lebanon. Sejumlah negara yang sebelumnya telah memilih sikap yang sama terhadap Hamas adalah Yordania, Mesir, Arab Saudi, Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang.

Dengan kata lain, Hamas adalah ancaman pertahanan dan keamanan bagi Israel. Berbekal status tersebut, selama Hamas berkuasa di Palestina, Israel berkemungkinan besar akan terus melakukan serangan misil tertarget (guided missile) ke titik-titik tertentu yang dianggap krusial bagi Hamas.

Model serangan misil tertarget ini telah disepakati oleh pemerintah Amerika Serikat di era Presiden George W Bush di mana Joe Biden yang duduk di komite luar negeri Senat Amerika ketika itu juga mendukung dan menyepakatinya, dengan mempertimbangkan agar korban di pihak rakyat Palestina seminimal mungkin. Aturan mainnya, jika suatu gedung publik dianggap sebagai salah satu base Hamas, misalnya, maka Israel akan melakukan pemberitahuan sebelumnya kepada penghuni gedung non-Hamas satu jam sebelum pengeboman. Itulah yang terjadi terhadap gedung di mana salah satu stasiun televisi internasional, Al Jazeera berada, beberapa hari lalu. Para penghuni gedung, awak media dan para karyawan di gedung tersebut telah mendapatkan pemberitahuan satu jam sebelum serangan. Model serangan yang sama dilakukan Israel kepada Milisi Syiah di Suriah dan Hezbollah di Lebanon.

Di tengah ketegangan itu, Hamas dan PIJ (Palestine Islamic Jihad), melakukan serangan pembalasan secara acak alias dengan non guided missile. Menurut laporan IDF dan World Defense Institute, hingga Senin pagi 17 Mei 2021, Hamas dan PIJ telah meluncurkan lebih kurang 2900 misil ke beberapa kota di Israel, termasuk Tel Aviv. Sebagian besar serangan tersebut mampu direspon oleh Iron Dome, namun sebagian lagi jatuh di lahan tak berpenghuni, dan sebagian kecil jatuh di pemukiman penduduk Israel yang menyebabkan jatuhnya beberapa korban.

Saya membayangkan bagaimana jika Israel tak memiliki Iron Dome dan 2.900 misil itu mendarat dengan mulus di Tanah Israel? Maka dipastikan korban yang akan ditimbulkan jauh lebih banyak dibanding misil Israel yang jatuh di Tanah Palestina. Tapi nyatanya tidak demikian. Israel memproteksi rakyatnya dari berbagai ancaman sembari melakukan serangan misil tertarget (guided missile) kepada titik-titik pertahanan Hamas. Sementara di sisi lain, Hamas menyerang Israel dengan ribuan misil, tapi Hamas tak mampu memproteksi rakyat Palestina jika Israel mengirimkan misil balasan, walaupun Israel dalam serangan balasannya berusaha seminimal mungkin menyebabkan jatuhnya korban rakyat sipil Palestina.

Bagi Israel, Iron Dome adalah terobosan pertahanan yang cukup luar biasa. Iron dome adalah teknologi karya anak bangsa Israel sendiri, yang juga dijual ke beberapa negara lain. Iron Dome adalah sistem multi-misil yang mampu mencegat roket, artileri, mortir, dan Precision Guided Munitions seperti sistem pertahanan udara jarak dekat (V-SHORAD), termasuk pesawat terbang, helikopter, dan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dalam jarak dekat (short range), sampai 70 km.

Iron Dome diproduksi oleh Rafael Advanced Defense Systems Limited dan telah digunakan oleh Angkatan Udara Israel sejak 2011. Sistem radarnya dikembangkan oleh Elta. Pengembangannya yang pesat sejak 2007 memang dipicu oleh serangkaian serangan roket ke Israel oleh Hizbullah dan Hamas pada tahun 2000-an. Bahkan saat ini, Amerika dan Israel sedang bekerja sama untuk pengembangan lebih lanjut. Dalam perang Lebanon pada 2006, sekitar 4.000 roket ditembakkan ke bagian utara Israel yang mengakibatkan kematian sekitar 44 warga sipil Israel dan harus dievakuasinya sekitar 250.000 warga Israel lainnya.

Senjata antimissile surface to air tersebut mulai dikembangkan sejak 2007 lalu, dan secara resmi dipasang di semua titik pertahanan krusial Israel sejak 2011. Secara teknis, Iron Dome menyeleksi misil yang menjadi prioritas untuk di-intercept, yakni misil-misil yang mengarah kepada fasilitas strategis, fasilitas pelayanan, dan permukiman. Dan misil-misil yang mengarah ke lokasi tak berpenduduk alias yang tidak akan menimbulkan korban akan dijadikan sasaran terakhir, bahkan terkadang dibiarkan jatuh begitu saja.

Berkat Iron Dome, dalam perspektif serangan misil, kini Israel memiliki millitary leverage dibanding Hamas dan Palestina, di mana banyaknya jumlah misil yang dilesatkan Hamas ke arah Israel tidak lagi menjadi penentu banyaknya korban di sisi Israel. Di sisi lain, Iron Dome juga meningkatkan kepercayaan rakyat Israel kepada pemerintahnya, karena rasa aman yang kian membaik, sekalipun Hamas menembakkan ribuan misil, bahkan puluhan misil setiap tahun secara acak ke beberapa kota di Israel. Dengan kata lain, misil yang dilesatkan oleh Hamas ke arah Israel berlipat-lipat jumlahnya dibanding yang dilesatkan oleh Israel ke titik-titik pertahanan Hamas.

Situasinya akan terus seperti ini selama Hamas berkuasa di Palestina. Berbeda dengan Fatah, Hamas tidak saja ingin kemerdekaan Palestina, tapi juga tidak pernah membuka peluang untuk ko-eksistensi dua negara antara Palestina dan Israel, alias tak ada diplomasi dan negosiasi. Layaknya narasi Iran atas Israel, tujuan Hamas adalah untuk menghapus Israel di peta dunia, karena itulah situasinya akan tetap seperti ini selama Hamas ada di puncak kekuasaan Palestina. Dan model reaksi publiknya di Indonesia juga akan sama seperti hari ini.

Dr Jannus TH Siahaan (Pengamat Geopolitik dan Pertahanan)

(haf/haf)