Kolom

Buku, Guru, dan Google

Anicetus Windarto - detikNews
Selasa, 18 Mei 2021 15:00 WIB
Google Doodle
Ilustrasi: Dok. Google
Jakarta -

Menarik bahwa bertepatan dengan peringatan Hari Buku Nasional pada tiap tanggal 17 Mei, cerita yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) tentang seorang guru sebagai sosok yang "sepandai-pandainya orang di dunia" ini layak untuk direnungkan kembali. Dalam cerita itu, guru menjadi pusat segala hal di sekolah, meski di luar sekolah bisa saja terjadi sebaliknya. Tetapi sosok guru yang galak, angker, bahkan "killer" adalah gambaran yang tidak asing dalam sastra Indonesia.

Pada awal kemerdekaan Indonesia, sosok seperti itulah yang selalu dikenang dari dulu hingga kini. Seiring dengan perjalanan waktu, sosok itu pun mulai memudar, bahkan menghilang. Sebagai gantinya adalah sosok guru yang digambarkan oleh Saya Sasaki Shiraishi dalam bukunya Pahlawan-pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik (KPG, 2001) sebagai seorang Ibu Guru. Artinya, sosok yang "tampil dengan seragamnya yang disetrika kaku, mengenakan kacamata dan arloji, mendekap buku di dada, sementara tangannya menenteng tas persegi besar berwarna hitam." Itulah gambaran seorang guru yang banyak ditemukan di buku-buku pelajaran sekolah.

Sosok itu tidak lagi menakutkan, apalagi mengintimidasi para murid, melainkan bersifat keibuan dan penuh dengan kasih sayang. Tak heran jika para guru seperti kehilangan pijakan untuk membangkitkan "kemarahan" mereka di masa lalu. Sebab ketika sekolah sempat "hancur" di tahun 1965, ruang-ruang kelas telah dibangun kembali dengan menggunakan retorika nilai kekeluargaan (famili-isme) yang sesungguhnya kosong dan tanpa rujukan yang jelas. Dengan kata lain, hubungan guru dan murid tidak terbangun dari diri mereka sendiri, tetapi dari luar kendali mereka seperti daftar nama murid di buku hadir. Dari sanalah kekuasaan guru tampil secara resmi, bukan dari simpanan pengetahuan rahasia dan tak terlihat yang dimilikinya, namun justru bersumber pada daftar nama yang sudah diatur.

Dalam sejarah, hal itu terkait dengan masa setelah kemerdekaan ketika para guru dan sekolah dipolitisasi dan terpecah-belah. Baik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan maupun Persatuan Guru Republik Indonesia terbagi dalam kubu komunis dan non-komunis di tahun 1964. Puncaknya, saat terjadi penculikan dan pembunuhan dalam kudeta berdarah yang menyisakan "balas dendam" antarsesama anak bangsa, termasuk di sekolah-sekolah.

Pipit Rochijat yang menulis kisah tentang hal itu dalam Saya PKI atau Bukan PKI/Am I PKI or Non PKI (Indonesia 40, Oktober 1985) yang melukiskan betapa "para murid" dapat dengan mudah mengancam untuk membunuh "para guru" hanya karena pernah terlibat dalam kelompok-kelompok komunis tertentu. Tulisnya, "Dengan pisau menempel di leher, mereka diancam dibunuh. Mereka menangis, minta ampun, dan menyatakan menyesal atas apa yang mereka perbuat selama menjadi anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia."

Suasana yang meninggalkan luka dan trauma di sekolah beserta institusi pendidikan yang lain telah mengubah posisi guru yang semula adalah sumber (ilmu) pengetahuan hanya menjadi semacam perantara dari pihak yang membuat peraturan. Daftar nama adalah salah satu instrumen penting yang di tahun 1965 dapat menentukan nasib/hidup seseorang, di masa sesudahnya menjadi batas yang memisahkan antara yang resmi dan yang gaduh. Batas yang senantiasa dijaga untuk mempertahankan aturan yang ada di sekolah memberi kekuasaan dan kewenangan baru bagi guru untuk membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak.

Tidak ada lagi penindasan, apalagi tuduhan sebagai pemberontak. Tetapi guru dapat melarang, dan menindak mereka yang melawan aturan. Itulah mengapa para guru mampu mengabaikan, atau tidak menganggap, suara kolektif yang dihasilkan dari suatu kegaduhan, namun dapat meminta satu suara yang layak untuk ditampilkan meski hanya terdengar lirih saja. Di situlah wilayah-wilayah resmi dari para guru yang dibangun semasa Orde Baru menjadi saat dan tempat yang hangat dan nikmat untuk dihuni selama lebih dari 30 tahun.

Kini, sesudah lebih dari 10 tahun Orde Baru tiba pada akhir riwayatnya; para guru tampak semakin riang-gembira dengan berbagai fasilitas yang tidak membuat mereka segera memfosil. Salah satunya bekerja dengan komputer dan internet, termasuk android, yang mengurangi kerepotan dalam membuat, mengganti, atau memindahkan apapun dalam hitungan detik. Tidak lagi seperti tiram yang harus bersusah-payah untuk menghasilkan mutiara, laptop misalnya, telah membawa berkah baik bagi para guru maupun para murid yang sama-sama sedang berupaya menembus dan melestarikan pengetahuan lama dan rahasia.

Maka, tiram dengan laptop di masa kini agaknya telah menjadi wilayah yang diperebutkan demi kepentingan politik dan identitas nasional, termasuk di sekolah. Masuk akal jika Google yang menjadi semacam perantara untuk menghasilkan mutiara di sekolah amat berperan dalam proses belajar-mengajar saat ini. Apabila 20 atau 30 tahun lalu perpustakaan masih menjadi tempat yang keramat, maka kini Google-lah yang justru mengambil-alih segala sesuatu yang sebelumnya hanya tersedia di sana.

Sebagaimana diprediksi oleh mendiang Benedict Anderson (1936-2015) dalam buku biografinya Hidup di Luar Tempurung (Marjin Kiri, 2015), Google telah menjadi research engine ("mesin peneletian") yang luar biasa. Padahal makna kata "engine" yang dalam bahasa Inggris kuno berarti "tipu muslihat" ("to engineer") justru merupakan ironi yang tak pernah dibayangkan, apalagi diajarkan, sebagai suatu evaluasi kritis. Karena itu, guru yang punya sejarah panjang sebagai "Bapak" dan "Ibu" yang sebelumnya revolusioner tapi diubah menjadi reaksioner, menghadapi tuntutan yang tak terhindarkan.

Tantangannya adalah bagaimana agar proses belajar-mengajar di sekolah tidak segera terhapus atau menghilang dari ingatan, lantaran segala sesuatunya sekarang ini dapat dicari dan ditemukan dengan mudah dan cepat melalui Google. Tetapi masalahnya, meski segalanya tersedia di sana, namun operasinya seturut dengan program. Jadi, tak ada "rasa" yang dapat diperoleh darinya. Dan tanpa "rasa", apalah gunanya "ilmu" dan "laku", sebagaimana kerap dinyatakan dalam ungkapan ngelmu iku kalakone kanthi laku, yang artinya ilmu harus dikuasai dengan kerja keras dan jauh dari watak angkara.

Maka, apakah guru yang galak seperti ditampilkan Pramoedya perlu dihadirkan lagi agar masa depan anak-anak kita tidak turut disudahi oleh Google? Atau, masih adakah "reservoir" ("gudang") yang belum terjamah dan menyimpan surat-surat tulis tangan tak dikenal yang dapat dipelajari untuk menandingi dominasi global dari suatu bentuk ilmu pengetahuan yang telah terdegradasi ala Google? Inilah persoalan dan kekuatan penting yang patut direnungkan sebagai salah satu cara memadukan ilmu dan laku sebagaimana diamanatkan oleh para (guru) pendahulu kita. Dirgahayu Hari Buku Nasional!

(mmu/mmu)