Kolom

Menjadi "Homo Ludens" yang (Lebih) Baik Pascalebaran

Toto Suparto - detikNews
Selasa, 18 Mei 2021 10:35 WIB
Suasana pengunjung memadati pantai Pangandaran
Keramaian di Pantai Pangandaran, Jawa Barat pada momen libur Lebaran di tengah pandemi (Foto: Faizal Amiruddin)
Jakarta -

Lebaran sudah berlalu, harapan pun tumbuh, bahwa setelah sebulan berpuasa akan lahir manusia baru. Manusia yang lebih relijius. Manusia yang lebih bermoral baik. Sebab, selama sebulan sudah digembleng untuk berubah menjadi manusia baik. Harapan itu tidak berlebihan karena dari teologi hingga antropologi agama, perubahan seharusnya terjadi.

Bahkan manusia baru itu tak membedakan sebelas bulan pasca-Ramadhan dan Ramadhan itu sendiri. Ruh Ramadhan terus membimbingnya pada sebelas bulan lainnya. Itulah sebuah harapan. Termasuk yang diharapkan berubah menjadi baik adalah Homo ludens. Kita adalah Homo ludens, makhluk yang bermain.

Semula, dari etimologinya, permainan itu diartikan sebatas aktivitas manusia yang tidak sungguh-sungguh, hanya iseng, dan tidak serius. Mirip seperti burung yang mengepakkan sayapnya, kucing yang bergulung-gulung di tanah, atau keisengan hewan lainnya yang sering kita amati. Namun setelah Johan Huizinga, budayawan Belanda, pada 1938 menulis buku HomoLuddens, a Study of Play Element in Culture, bermain itu tidak bisa dipandang iseng belaka.

Huizinga menolak anggapan bahwa bermain sekadar kegiatan pengisi waktu luang yang terkesan iseng-iseng belaka. Menurutnya, bermain itu tidak kalah pentingnya dengan kegiatan manusia lainnya, seperti berpikir dan bekerja. Bahkan bermain itu merupakan gejala alam yang mendahului dan sekaligus menjiwai kebudayaan.

Namun begitu, insting manusia untuk bermain kerap kembali kepada awalnya, cenderung bermain-main dan tidak sungguh-sungguh. Maka dari itu, tidaklah mengejutkan jika manusia terkadang "bermain-main" terhadap persoalan serius, termasuk saat kita dibekap pandemi Covid-19 berkepanjangan. Di tengah kecemasan masyarakat, ada saja yang bermain-main dengan virus membahayakan itu.

Padahal sudah banyak peringatan agar kita "jangan main-main" dengan Covid 19 ini. Virus ini tidak sedang bercanda. Dan kita pun jangan lagi bercanda karena menganggap virus ini makhluk yang paling rendah dalam tangga evolusi. Virus berjarak sangat jauh dengan Homo sapiens, makhluk yang berada pada level tertinggi tangga evolusi. Atas dasar kasta inilah maka banyak yang meremehkan. "Mana ada makhluk rendah mengalahkan Homo sapiens," begitu anggapan penuh keangkuhan.

Ingat, ini perang, Bung! Perang pandemik. Perang tanpa mesiu dan desingan peluru. Perang global, yang tidak lagi mengenal sekat-sekat batas negara. Perang yang tidak bisa diatasi dengan bercanda. Sungguh naif di tengah perang ini masih saja ada yang "tidak sungguh-sungguh".

Misalkan, kerumunan orang yang main (berwisata) di pantai Pangandaran maupun pantai Parangtritis. Mereka main di pantai tetapi masih "bermain-main" dengan Covid-19 tanpa bermasker, enggan jaga jarak, mungkin juga tidak rajin mencuci tangan.

Betapa disayangkan orang-orang yang bermain-main dengan Covid-19 ini. Kita bisa membayangkan, saat India diterjang tsunami korona (dilaporkan per 16 Mei India mencatatkan kasus baru dalam 24 jam terakhir mencapai 310.822 jiwa) masih saja ada sebagian kita hanya memikirkan kesenangan main di pantai tanpa memikirkan keselamatan dirinya, keluarga, maupun masyarakat.

Kita pun bertanya-tanya, kok bisa-bisanya berbuat macam itu? Jangan-jangan mereka itu memang pongah dengan membawa ludens hewan.

Kata para etikawan, pada diri kita terdapat sifat ludens manusia dan terkadang muncul ludens hewan. Apa bedanya? Ludens pada hewan lebih dikendalikan oleh naluri, insting yang bersifat refleks dan bukan refleksif. Sementara pada manusia, ludens-nya dikendalikan oleh akal, otonomi, integritas, dan kesadaran.

Dari perbedaan itu, semestinya manusia tidak gampang terbawa tindakan yang merendahkan integritasnya, apalagi menodai martabatnya. Sebab, ludens pada manusia berpijak pada kesadaran rasional, bentuk kesadaran yang mengkalkulasi dampak dari tindakannya. Di sini mau ditegaskan bahwa perilaku manusia itu selalu berangkat dari refleksi, bukan refleks sebagaimana yang ada pada hewan.

Dalam kajian etika, kesadaran refleksif itu membuat seseorang bertindak dengan berpikir, berjarak, dan memaknai tiap tindakan (Giddens, 1986). Kebalikan dari kesadaran refleksif adalah kesadaran praktis (refleks), yakni kesadaran yang membuat seseorang bertindak dengan keengganan berpikir, tak berjarak, dan tidak memaknai setiap tindakan.

Dalam pandangan Giddens, ketika seseorang menjalani kesadaran praktis, ia tidak perlu bersusah-payah mengambil jarak dan memikirkan makna tindakannya. Tindakan ini hanya terbangun dari kebiasaan, seperti kita bangun saban pagi tak perlu lagi berpikir kaki mana dulu yang akan ditapakkan. Tindakan dari kesadaran praktis memang lebih memudahkan, dan tentu tak melelahkan. Wajar jika orang cenderung suka kesadaran praktis ini.

Mudah membayangkan, apa jadinya jika seseorang bertindak tanpa berpikir dan enggan memaknai setiap tindakan? Sejumlah etikawan mengingatkan, '"Orang bertindak durjana karena ketiadaan pikir dan miskin imajinasi." Itulah yang terjadi pada mereka yang sejauh ini masih nekat tak menjalani prokes dalam aktivitas keseharian.

Homo ludens yang timbangannya cenderung ke ludens hewan itu adalah yang buruk. Homo ludens yang baik adalah yang memegang teguh ludens manusia. Inilah yang diharapkan lahir pascalebaran. Sementara ludens hewan selayaknya dibuang jauh-jauh. Seperti halnya hewan liar yang membahayakan, kita tangkap lalu kita kurung dalam kerangkeng besi.

Kesadaran membuangnya tak bisa sekadar imbauan, tetapi sanksi. Maka selayaknya mereka yang masih bermain-main dengan Covid-19 layak diganjar sanksi. Mudah-mudahan sanksi bagi mereka akan menghentikan kebiasaan bermain-main dengan Covid-19 tersebut. Sekaligus memberi contoh efek jera bagi lainnya.

Toto TIS Suparto penulis filsafat moral, pengkaji di Institut Askara

(mmu/mmu)