Kolom

Puasa Pasca-Puasa

Muhtadin AR - detikNews
Senin, 17 Mei 2021 14:30 WIB
wali kota surabaya eri cahyadi salat id di depan rumdin
Umat Islam mengakhiri puasa dengan Salat Idul Fitri (Foto: Esti Widiyana)
Jakarta -

Bulan Ramadhan baru saja kita tinggalkan, berganti menuju bulan Syawal. Banyak orang menangisi pergantian Ramadhan ini. Sebagian ulama berpendapat, tangisan itu terjadi karena Ramadhan sangat identik sebagai bulan agung (syahr 'adzim), bulan mulia (syahr 'aly), bulan penuh berkah (syahr mubarak), bulan pengampunan (syahr maghfirah), bulan penuh rahmat (syahr rahmah), dan bulan pembebasan dari api neraka (syahr itqun min al-naar).

Sementara sebagian ulama yang lain berpendapat, kepergiannya sangatlah ditangisi karena di bulan tersebut semua amal ibadah diterima, pahala dilipatgandakan, dosa-dosa dilebur, gerbang-gerbang surga dibuka lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan diikat. Juga di bulan ini pula, ada satu malam yang disebut lailatul qadar, yang keutamaannya melebihi seribu bulan (QS. 97: 1-5).

Di luar itu, berakhirnya bulan ini juga banyak ditangisi orang karena spirit pembebasan yang dibawanya. Spirit ini tercermin dalam perintah menjalankan puasa (QS. 2: 183), yaitu menahan diri (imsak) dari lapar dan dorongan nafsu (lapar bawah perut). Kedua kelaparan ini harus ditahan karena dari keduanya dunia ini seringkali kacau.

Karena alasan lapar, orang sering melakukan tindakan gelap mata. Ia tidak bisa lagi melihat dan membedakan kebaikan sebagai kebaikan, kebenaran sebagai kebenaran, dan kemuliaan sebagai kemuliaan. Juga karena alasan lapar, orang sering melakukan tindakan-tindakan yang kekerasan, pencurian, dan berbagai kejahatan lainnya.

Dengan berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, seseorang dilatih untuk tidak menjadikan lapar sebagai justifikasi terhadap pelanggaran-pelanggaran moral dan hukum. Dengan pengendalian nafsu, manusia dibebaskan dari kungkungan hawa nafsunya sendiri. Hal ini tak lain karena dalam diri setiap manusia dipancarkan dua sinar kendali, fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha, yakni kendali negatif (fujur) dan kendali positif (taqwa). (QS.91: 8)

Manusia yang dikendalikan oleh fujur-nya, hedonismenya, dia akan terkondisikan menjadi orang yang terbiasa melakukan pelanggaran nilai-nilai kebaikan dan moralitas. Untuk itu, pembebasan dalam konteks ini harus diartikan sebagai pembebasan diri manusia dari kendali dan hegemoni nafsu fujur. Karena ketika fujur bisa dikendalikan, maka yang kemudian terpancar adalah kendali taqwa, sebagaimana tujuan akhir dari perintah puasa, la'allakum tattaquun (agar kamu menjadi orang yang bertakwa).

Spirit Pembebasan

Pertanyaannya, apakah setelah Ramadhan berlalu, manusia mampu keluar dari keadaannya semula? Apakah spirit pembebasan yang terpancarkan dari ajaran puasa bisa tertanam tidak hanya pada bulan Ramadhan saja, tetapi juga sebelas bulan setelahnya? Juga bagaimana caranya agar nafsu fujur yang selama sebulan bisa dikendalikan, sebelas bulan berikutnya tetap bisa dikendalikan?

Ada dua hal yang bisa dilakukan supaya spirit pembebasan ini bisa tetap muncul. Pertama, merevitalisasi pemahaman keagamaan yang simbolistik. Bahwa ritual keagamaan bukanlah puncak dari ekspresi keberagamaan, tetapi hanyalah 'media' penghayatan iman. Ia sangat berbeda dengan 'pengamalan' iman itu sendiri.

Usaha semacam ini akan membantu seseorang untuk tidak hanya berbicara tentang technical ritualistic saja, semisal apa syarat-rukunnya puasa, hal-hal apa saja yang membatalkan puasa, kapan, dan bagaimana niat puasa diucapkan, tetapi lebih kepada, apa yang mesti dilakukan setelah orang menjalani puasa (post ritual). Apakah orang yang berpuasa akan bertindak sama buruknya dengan ketika ia belum berpuasa, ataukah sebaliknya?

Kedua, menstrukturisasi kesadaran keagamaan dari yang sifatnya personal ke kesadaran yang sifatnya sosial. Puasa yang pada awalnya adalah momen pembebasan diri sendiri (even personal), harus diwujudkan dalam tatanan masyarakat yang lebih luas. Artinya, puasa personal yang dilakukan pada bulan puasa harus diimplementasikan ke dalam puasa sosial, puasa yang distrukturkan dalam tatanan masyarakat agar orang menghormati yang lain, supaya orang dapat mengendalikan nafsu fujur-nya, supaya orang memiliki komitmen untuk selalu mengulurkan tangan untuk umat yang lemah, dan seterusnya.

Strukturisasi kesadaran ini penting karena ajaran-ajaran agama yang bersifat personal akan mempunyai dampak sosial yang nyata. Bukankah peristiwa-peristiwa sosial pangkalnya adalah perkara-perkara personal? Juga kesalahan kolektif, bukankah terjadi karena kesalahan-kesalahan personal? Pendeknya, puasa yang ritual adalah puasa yang dijalani selama bulan Ramadhan, tetapi puasa yang aktual adalah sebelas bulan sesudahnya. (Masdar F. Mas'udi, 2002)

Tanpa Bekas

Inilah tantangan yang mesti kita hadapi bersama. Puasa yang kita lakukan selama bulan Ramadhan, sampai sekarang ini, ternyata belum mampu mendidik kaum muslim menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa. Mereka ternyata belum mampu menangkap pesan pembebasan yang terkandung dalam ajaran puasa. Mereka masih terjebak pada simbol keagamaan yang ritualistik.

Kenyataan demikian bisa dilihat dari maraknya perilaku yang jauh dari nilai-nilai etis. Orang masih sering tidak bisa menahan diri dari hal-hal yang diharamkan, terlebih yang dihalalkan. Orang masih suka berbohong, meskipun selama sebulan penuh ia ditempa puasa. Orang masih tidak mau berbagi, meski di sekitarnya dijumpai masyarakat yang tidak bisa makan dan hidup dalam kemelaratan.

Parahnya lagi, ada juga orang yang menjadikan puasa Ramadhan hanya sebagai tameng dalam menjalani hidup. Ramadhan dijadikannya sebagai bulan "kepura-puraan"; pura-pura beramal salih dan bersedekah, pura-pura tidak korupsi, pura-pura berbuat baik kepada rakyat miskin, dan kepura-puraan yang lain. Sebelas bulan berikutnya, mereka kembali melakukan tindakan melawan hukum, serta mengeksploitasi masyarakat demi meraih tujuan pribadinya.

Akhirnya, puasa hanyalah ritual rutin yang tidak memberikan dampak apapun bagi perubahan bangsa ini. Sehabis puasa, praktik koruptif kembali terjadi. Orang miskin terus dimiskinkan, meskipun pelaku pemiskinan itu telah menjalani puasa sebulan penuh. Hukum pun hanya berpihak pada orang-orang yang memiliki duit dan akses hukum. Nafsu fujur yang telah berhasil ditaklukkan selama puasa berlangsung, kembali menguasai bahkan seketika Syawal datang.

Jadi, untuk apa sebenarnya kita berpuasa? Benarkah untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih bertakwa, atau hanya lantaran tidak enak dengan tetangga? Mampukah kita menangkap pesan pembebasan puasa sebagaimana mestinya, la 'allakum tattaquun, sehingga berbuah semangat untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, dan menciptakan tata kehidupan yang berkeadilan? Inilah tantangan pasca-puasa yang mesti dijawab.

Muhtadin AR ASN pada Pusdiklat Teknis Kementerian Agama


(mmu/mmu)