Sentilan IAD

Defisit Romantisme Lebaran

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 11 Mei 2021 19:02 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -

Pagi itu berlangsung seperti di tahun yang sudah-sudah. Salat Id sudah kami laksanakan di lapangan desa. Usai shalat, lalu pulang ke rumah masing-masing untuk sungkeman dengan orangtua di rumah, kami semua pun berangkat ke masjid. Acara halal bi halal kampung segera dilaksanakan.

Namun, di saat orang-orang dewasa berada di dalam masjid, saling mengucapkan ikrar syawalan dan segenap pernak-pernik seremonial lainnya, kami anak-anak abege nongkrong di pinggir jalan depan masjid. Di situlah dialektika kebudayaan berlangsung, perdebatan-perdebatan penting terjadi.

Madiyo, teman di kampung yang kira-kira dua tahun lebih muda dibanding saya, tampak pucat. Bukan karena ketakutan atau kurang makan. Tak ada anak yang kurang makan di hari Lebaran. Madiyo panik lebih karena melihat satu fakta mengejutkan, yakni bahwa celana baggy barunya berbeda dengan milik teman-temannya.

"Weh, itu kok cingkrang banget itu, Di? Belinya kekecilan, ya?" Saya lupa siapa yang nyeletuk begitu. Mungkin Mamat, mungkin Sugeng.

Madiyo disergap panik duluan. Dengan raut kecut ia diam saja, gagal menjawab pertanyaan itu. Sampai kemudian Sambudi menyambar, "Lho, kathok baggy yang bener itu memang yang seperti punya Madi itu, di atas kemiri, di atas mata kaki begini."

Fatwa Sambudi agaknya membikin Madiyo sedikit lebih cerah dalam memandang masa depan. Sontak, Madi pun bercerita bahwa seminggu sebelumnya, saat bapaknya mengantarkannya ke Pasar Bantul buat beli celana baru, si Bapak memang sengaja memilihkan celana baggy warna krem yang ujung pipanya di atas mata kaki.

Tapi, sayup-sayup saya mendengar nada ragu dalam penjelasan Madiyo. Meski dia yakin bahwa kebenaran ke-baggy-an itu sudah dia terapkan, faktanya celana baru yang dipakai teman-temannya tidak ada yang se-cingkrang miliknya. Dan tentu di masa itu belum musim hijrah-hijrahan, sehingga celana sirwal anti-isbal seperti yang sekarang dipakai Teuku Wisnu dan Arie Untung belum dikenal. Cingkrang di masa itu adalah kekurangan bahan atau kekecilan, tak ada alasan lain. Sialnya, Madiyo berada pada situasi mencemaskan itu.

Bagaimana tidak cemas? Celana baru tidak bisa dibeli tiap tiga bulan sekali. Hanya di hari Lebaran baju baru ada. Itu pun orangtua kami pasti menabung dengan keras dulu selama setahun sebelumnya, lebih-lebih untuk keluarga dengan anak banyak seperti keluarga Madiyo.

Pakde Loso, bapaknya Madiyo, memang punya anak paling banyak di kampung kami. Yang sulung Prayitno, teman main saya tapi umurnya jauh lebih tua. Kemudian Ngatirah, hampir sebaya dengan kakak kandung saya. Baru kemudian Madiyo, disusul Harno, lalu yang buncit si kembar Jito dan Topo.

Bayangkan, dengan enam orang anak, betapa effort profesional Pakde Loso harus dikerahkan habis-habisan demi mempersiapkan baju Lebaran untuk semua anaknya. Lantas bagaimana perasaan Madiyo ketika hasil kinerja terpuncak bapaknya itu hanya menghasilkan celana baggy yang salah beli?

Saya menyimak semua adegan itu. Betapa Madiyo tampak diam, mendung menggantung di langit hari Lebarannya. Sementara, teman-teman saya lainnya yang tadi melontarkan diskursus tentang khittah celana baggy tiba-tiba dengan enaknya melanjutkan senda gurau mereka, menikmati panampilan keren dengan baju dan celana baru mereka, dan seketika lupa bahwa ada korban yang jatuh nelangsa gara-gara celetukan mereka.

Namun, saya tidak bisa lama-lama turut berperih hati menyaksikan ekspresi Madi. Sejak pertama kali datang tadi, sudah muncul sedikit rasa kecewa di hati saya sendiri. Sebab ternyata, sandal kulit Neckermann saya tidak sekeren yang saya duga. Waktu Emak membelikan sandal itu di Pasar Beringharjo beberapa hari sebelum Lebaran tiba, saya memilih warna hitam. Itu warna template tiap kali saya memilih warna sepatu atau tas sekolah. Tapi begitu saya melirik sandal Mulyono alias Piko yang modelnya persis sama dengan punya saya, saya tahu bahwa warna coklat muda jauh lebih keren.

***

Apakah kesulitan-kesulitan adalah sumber dari ingatan akan keindahan? Apakah aneka kemudahan justru membuat kita lepas dari banyak potensi kegembiraan, romantisme, juga kenangan?

Saya tiba-tiba bertanya seperti itu, karena mozaik-mozaik indah hari Lebaran itu berkelebat susul-menyusul di sudut memori saya. Bukan cuma tentang sandal Neckermann hitam itu. Juga celana jins kasar warna biru tua yang akhirnya berhasil saya miliki, setelah bertahun-tahun saya cuma mengenal sarung untuk Salat Idul Fitri. Juga baju hijau dengan kerah lebar, dibelikan ibu saya di pasar amal Ramadhan yang digelar seorang kakek-kakek Jerman yang datang ke kampung saya. Tak ketinggalan beberapa pernik lainnya, semuanya masih terang benderang dalam ingatan saya.

Kenapa saya bisa mengingat semuanya sedetail itu? Jawabannya sederhana: sebab barang-barang itu sulit didapatkan pada masa itu. Saya tidak tahu apa sebab persisnya. Sempat saya menduga kemiskinan alasannya. Tapi saya ingat-ingat, keluarga kami tidak miskin-miskin amat. Bisa jadi, alasannya karena memang suplai barang-barang tidak sebanyak sekarang, atau kesenjangan antara penghasilan dan nilai barang masih sedemikian lebar.

Yang pasti, secara umum saat ini kita sudah jauh lebih mudah mengakses barang-barang. Ibaratkan dulu makan ayam seminggu sekali, sekarang tiap sore makan ayam kriuk yang digoreng dengan minyak jelantah di warung pinggir jalan juga sudah sangat terjangkau. Demikian pula baju-baju. Kalau dulu gajian PNS tiap bulan mustahil dialokasikan untuk belanja baju, sekarang tinggal buka marketplace, dan pilihan outfit murah tersebar di mana-mana.

Saking mudahnya, maka kita, lebih khusus lagi anak-anak kita, tidak lagi merasa itu sebagai sesuatu yang istimewa. Dan karena tidak istimewa, ia tak akan membekas dalam romantisme ingatan-ingatan mereka.

Ketika saya mengetik paragraf kedua di atas tadi, anak saya yang gede melintas di belakang saya. Umurnya sekarang sebelas tahun, masa menjelang abege. Iseng saya bertanya kepadanya, "Ndhuk, kalau kamu nggak dibelikan baju Lebaran gimana? Nggak papa, kan?"

Dia cuma mengangkat bahu sambil bibirnya nyengir sedikit dalam ekspresi "emang gue pikirin?". Jelas, itu ekspresi yang mustahil saya berikan kepada emak saya pada saat saya seusianya.

Tiba-tiba, saya kasihan melihat anak saya. Tiba-tiba, saya kasihan melihat anak-anak segenerasinya. Bagaimana mereka akan membentuk masa depan kenangan-kenangan mereka? Bagaimana mereka akan menghargai masa kecil mereka, jika bahkan tak ada yang mereka anggap istimewa, sebab tak banyak hal yang didapatkan dengan susah payah dan datang setahun sekali saja?

Mereka sudah mendapatkan kemudahan sedemikian rupa. Mereka tumbuh di masa impor tekstil China menggila, baju-baju murah berlimpah, tapi justru artinya cuilan romantisme-romantisme Lebaran tak akan pernah membekas di kepala mereka.

Kasihan sekali mereka. Kasihan sekali.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)