Kolom

Merawat Modal Sosial Lewat Bingkisan Lebaran

Khalimatu Nisa - detikNews
Selasa, 11 Mei 2021 12:15 WIB
Hampers Natal Cantik Bisa Dipesan Online di 5 Tempat Ini
Foto: Instagram
Jakarta -

Ramadhan sudah memasuki hari-hari akhir. Saya dan suami mulai menyusun daftar nama sanak saudara dan tetangga sekitar dalam rangka persiapan weweh. Weweh (ngewehi) yang dalam bahasa Jawa berarti 'memberi', merujuk pada aktivitas memberi makanan kepada orang-orang terdekat di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Tradisi ini baru saya kenal saat berpindah domisili di sebuah kota di Jawa Timur. Biasanya para orangtua akan menyuruh anak-anak mendatangi satu per satu rumah untuk memberikan makanan tersebut. Oleh pemilik rumah, mereka akan diberi uang saku. Tak heran, momen weweh selalu ditunggu oleh anak-anak untuk dengan senang hati menjadi 'kurir'.

Banyak daerah menggunakan istilah berbeda untuk weweh, seperti ater-ater atau 'rantangan lebaran'. Semua istilah tersebut bermuara pada tradisi bertukar makanan jelang lebaran dengan kekhasannya masing-masing dan sudah berlangsung sangat lama. Seiring berjalannya waktu, weweh dan tradisi serupa tidak selalu mengambil format nasi dan lauk pauk atau makanan tradisional, tetapi ada juga yang memilih menggunakan bahan-bahan pokok.

Di area urban, tradisi saling mengirim makanan berevolusi ke dalam bentuk bingkisan yang dikenal dengan parsel atau yang lebih fancy dan kekinian: hampers. Dalam wujud parsel atau hampers, bingkisan lebaran beralih rupa jadi makin kreatif. Tidak saja makanan pokok atau kue-kue, ada pula yang berisi suvenir hingga skincare. Kemasannya pun dibuat seestetik mungkin di antaranya demi kepentingan konten di sosial media.

Namun apapun istilahnya, dari weweh hingga hampers, ada satu benang merah yang bisa ditarik. Bentuk saling memberi dan saling bertukar bingkisan yang jadi praktik jamak di segala penjuru Tanah Air ini bisa dibaca sebagai sebentuk revitalisasi modal sosial yang dijalankan secara periodik. Dan itu penting.

Modal Sosial

Modal sosial adalah nadi kehidupan masyarakat Indonesia yang harus tetap berdenyut. Di masyarakat pedesaan dengan bentuk masyarakat paguyuban (gemeinschaft) --hal ini bisa dengan mudah diidentifikasi. Solidaritas organik tercipta di tiap fase hidup masyarakat mulai dari kelahiran hingga kematian. Bagaimana misalnya ibu-ibu di kampung akan bahu membahu memasak hidangan pernikahan salah satu tetangga. Atau, bapak-bapak yang rela begadang beberapa malam di rumah orang meninggal demi memberi support moril pada keluarga yang kehilangan.

Di masyarakat perkotaan di mana ikatan tetangga tidak sekuat kelompok tradisional, modal sosial hidup dalam relasi pekerjaan hingga pertemanan. Orang-orang yang saling terhubung bersua di meja-meja kafe, kampus, komunitas daring, dan ruang-ruang publik lainnya. Modal sosial ini tidak saja memberi banyak benefit bagi kehidupan personal, tapi juga sangat mungkin berkembang menjadi gerakan yang sistematis.

Pertanyaannya, dari mana energi untuk menggerakkan modal sosial ini berasal? Salah satunya adalah melalui aksi-aksi kepedulian yang ditradisikan. Misalnya melalui bingkisan Lebaran.

Secara teoritis konsep modal sosial mulai diperkenalkan sejak awal abad ke-20. Ilmuwan politik Amerika Robert D. Putnam (1993) secara sederhana mendefinisikan modal sosial sebagai seperangkat hubungan horizontal antara orang-orang. Ia menyebut, ada dua asumsi dasar dari modal sosial yaitu jaringan keterkaitan dan seperangkat norma-norma.

Bertukar bingkisan jelang Lebaran memenuhi dua asumsi dasar itu. Pertama, ia menghidupkan kembali jejaring antaranggota masyarakat. Dalam setahun barangkali kita jarang bertegur sapa dengan tetangga, rekan, maupun kerabat, terlebih di tengah pembatasan pandemi. Melalui momentum berkirim makanan atau bingkisan, relasi tersebut kembali menguat, menciptakan kedekatan personal yang menjadi penanda bahwa masing-masing masih saling peduli.

Kedua, ada norma yang disepakati bersama. Bagi internal umat Islam kegiatan memberi dikaitkan dengan konsep sedekah dan silaturahmi yang mengandung banyak keutamaan. Selain itu, riwayat hadis juga menyebutkan bahwa saling memberi hadiah akan menghilangkan kebencian.

Berkirim bingkisan jelang Lebaran terkadang juga melibatkan kelompok non-muslim. Dalam hal ini ada kesepakatan terhadap konsep berbagi sebagai bentuk kepedulian dan persaudaraan. Di samping itu, hal ini juga dapat menjembatani jurang pemisah antara kelompok-kelompok yang berbeda.

Kekuatan jejaring sosial dan norma yang berlaku, menurut Putnam, akan memungkinkan koordinasi dan komunikasi yang menumbuhkan rasa saling percaya (mutual trust) antaranggota masyarakat. Rasa saling percaya tersebut membawa implikasi positif pada penguatan norma untuk saling bekerja sama dan saling membantu.

Selanjutnya, keberhasilan kerja sama di satu waktu akan mendorong keberlangsungan kerja sama di waktu selanjutnya. Begitulah kolaborasi sosial akan terus terbentuk demi mendukung kepentingan bersama. Putnam bahkan menyebut modal sosial merupakan prakondisi bagi perkembangan ekonomi dan tata pemerintahan yang baik.

Pandemi Covid-19 telah menunjukkan bagaimana modal sosial menjadi kekuatan masyarakat menghadapi bencana. Riset Pusat Penelitian Politik LIPI misalnya, mengungkap banyak kisah altruisme warga selama masa pandemi. Tidak saja ketika pandemi, tingginya solidaritas masyarakat Indonesia juga tampak dalam setiap bencana yang terjadi.

Laporan CAF World Giving Index 2018, A Global View of Giving Trends yang dipublikasikan pada 2018 bahkan menempatkan Indonesia pada urutan pertama negara paling dermawan. Skor Indonesia untuk membantu orang lain sebesar 46%, berdonasi uang 78%, dan melakukan kegiatan sukarelawan 53%.

Kembali ke persoalan bingkisan Lebaran, tidak berlebihan jika menyebut tradisi ini adalah praktik merawat solidaritas di lingkup terkecil. Satu waktu dalam setahun kita mengalokasikan waktu untuk 'mengetuk rumah' tetangga, sahabat, juga kerabat terdekat sambil bertukar kabar dan bingkisan kecil untuk mempererat ikatan.

Modal sosial tentu saja tidak bekerja dalam satu hari. Oleh karena itu, praktiknya harus senantiasa dirawat secara berkala. Dan Ramadhan memberi kesempatan itu.

Dengan saling berbagi bingkisan, secara tidak disadari, kita sedang berinvestasi. Barangkali manfaatnya tidak langsung terasa. Tetapi ada kalanya kita menghadapi hal-hal yang tidak bisa diatasi dengan modal ekonomi maupun modal budaya. Di situlah modal sosial dibutuhkan kehadirannya.

Khalimatu Nisa alumnus Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada

(mmu/mmu)