Kolom

Puasa di Negeri Empat Musim Polandia

Muhammad Rivani - detikNews
Jumat, 07 Mei 2021 10:54 WIB
Buka bersama mahasiswa Indonesia di Torun, Polandia (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan menjadi malam favorit untuk umat muslim di seluruh dunia. Pada malam ini, banyak umat muslim yang menanti datangnya malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Mereka biasanya memanfaatkan malam-malam ini dengan mengingat Allah dan melakukan amal-amal saleh lainnya. Salat Tarawih dan bahkan bermalam di masjid pun seakan menjadi pilihan terbaik.

Namun beda halnya ketika kamu berada di lingkungan yang kemungkinan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tersebut sangat terbatas.

Menjadi seorang mahasiswa di salah satu kampus di Polandia adalah suatu hal yang menantang. Dari segi agama misalnya. Mayoritas pemeluk agama di Polandia adalah Kristen Katolik dan hanya sedikit saja Muslim. Pada bulan Ramadhan kali ini, adalah kali pertama saya berpuasa di Eropa. Menurut saya, puasa di sini jauh lebih menantang dibanding di Indonesia. Pasalnya, di Indonesia pada hari-hari biasa kita hanya berpuasa sekitar 12 jam saja. Namun berbeda Ketika berada di Eropa, puasa akan terasa lama, hingga sekitar 18 jam. Tentunya ini adalah suatu hal yang sangat menantang bagi seorang yang baru menginjakkan kaki di Benua Biru ini.

Saya hidup di sebuah kota di Polandia. Di kota ini terdapat begitu banyak hikmah yang dapat diambil. Kota ini adalah Torun, yaitu sebuah kota yang berada jauh dari ibu kota Warsawa; jika ditempuh dengan kereta, akan memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Puasa di sini pun penuh dengan suka duka. Yang lebih menantang lagi adalah tidak ada masjid di tempat ini, sejauh mata memandang. Jadi jika kita ingin merasakan indahnya salat berjamaah di masjid, kita harus mencari kota terdekat yang mempunyai masjid. Tapi karena kondisi pandemi, saat ini akan jarang kita akan menemukan masjid yang terbuka untuk beribadah.

Tidak banyak orang Indonesia di kota Torun; kalaupun ada mungkin mereka adalah mahasiswa. Namun, saya bukanlah satu-satunya orang Indonesia di Torun. Ada beberapa teman juga dengan asal daerah yang sama menuntut ilmu di kota ini. Setidaknya berbuka puasa tidak sendiri dan masih bisa ditemani mereka.

Makanan Halal?

Di Indonesia, kita dapat menemukan makanan halal dengan mudah serta rata-rata kemasan sudah berlabel MUI. Namun, begitu menginjakkan kaki di tempat yang notabene Islam adalah negara minoritas, bersiap-siaplah memilih makanan secara hati-hati.

Di Polandia, tulisan-tulisan di kemasan makanannya ditulis dengan menggunakan Bahasa Polandia. Jadi untuk Musim yang berpuasa di Eropa, kalau mau membeli makanan untuk berbuka atau sahur harus dengan berhati-hati. Karena kalau salah, bisa-bisa makan bahan makanan yang mengandung daging babi. Tapi untuk mengatasinya, kita hanya perlu mengetahui kata-kata yang mungkin berarti daging babi dalam Bahasa Polandia.

Beberapa supermarket di sini pun sebenarnya menyediakan khusus tempat untuk bagian makan Asian food, seperti di Supermarket Auchan. Di toko ini kita dapat membeli bumbu-bumbu dari Indonesia. Dan khusus, ada bagian untuk bumbu Indonesia. Supermarket ini lumayan jauh dan bisa ditempuh paling cepat 15 menitan dengan menggunakan trem. Untuk makan berbuka seperti kurma tersedia juga di tempat ini. Jika malas masak bisa datang ke Zahir Kebab dan recommended.

Berapa Lama Puasa?

Saat ini musim di Polandia adalah spring dan sebentar lagi summer. Jika kita bertemu puasa pada musim-musim ini, siap-siap puasa 18 jam. Waktu untuk sahur dan berbuka kadang tak tentu, dan boleh jadi setiap hari berbeda. Di sini, untuk mengetahui kapan waktu berbuka dan sahur, kita menggunakan aplikasi, atau menggunakan jadwal yang telah ditetapkan oleh masjid setempat.

Dan, untuk yang berada di kota Torun, karena di sini tidak ada masjid sama sekali, akhirnya hanya berpedoman pada aplikasi di smartphone. Biasanya untuk imsak itu sekitar jam 3 pagi dan berbuka itu jam setengah 9. Memang untuk musim-musim ini waktu malam sangatlah sedikit.

Untuk Salat Tarawih, saya salat sendiri dan waktunya agak malam karena untuk Salat Isyak sekitar jam setengah 10 malam. Kadang untuk menghindari telat bangun sahur, saya tidak memejamkan mata hingga pagi. Karena untuk Salat Tarawihnya saja kadang sampai jam setengah 12. Jadi buat kamu yang berpuasa di Indonesia banyak-banyak bersyukur.

Muhammad Rivani Gunawan mahasiswa Master Nicolaus Copernicus University, Polandia; anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Awardee Beasiswa NTB

(mmu/mmu)