Kolom

Seurgen Apa Mudik bagi Kita?

Bhagaskoro Pradipto - detikNews
Kamis, 06 Mei 2021 14:51 WIB
Kendaraan dari Jakarta mengarah ke Merak terpantau padat merayap saat melewati di Gerbang Tol Cikupa, Banten, Kamis (5/5/2021). Kondisi ini bertepatan dengan Hari pertama pembatasan kendaraan mudik 2021.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Tahun ini, Pemerintah telah resmi melarang kegiatan mudik Lebaran demi mengentaskan pandemi. Sebagian orang menggerutu karena gagal pulang kampung. Sebagian lainnya sudah lama mengikhlaskan untuk tidak mudik, karena toh situasi dan (terutama) kemampuan finansialnya belum memungkinkan akibat pandemi.

Semua berhak ribut dengan opini masing-masing, tapi yang jelas palu sudah diketok: tidak ada mudik Lebaran tahun ini. Tapi jika sampai ada yang ribut, seurgen apa sih memangnya, mudik bagi kita?

***

Saya meyakini bahwa aktivitas mudik massal yang kita kenal sekarang adalah hasil dari sebuah konstruksi sosial yang terjadi pasca-kemerdekaan. Setelah bangsa ini merdeka, kota-kota besar perlahan tumbuh, menyediakan berbagai lapangan untuk bidang kerja yang sama sekali baru. Desa mulai ditinggalkan, karena "peradaban" dan berbagai impiannya ada di kota. Pembangunan yang cenderung sentralistik membuat banyak orang meninggalkan desa menuju kota.

Nah, mereka yang baru datang ke kota tentu berkutat dengan sesuatu yang sama sekali berbeda dari yang ada di desa. Irama hidup yang serba cepat, kerasnya persaingan, serta bisingnya jalanan di kota, dalam titik tertentu akan memberikan perasaan teralienasi dari kehidupan mereka di desa.

Karena kepenatan dan keterasingan di kota adalah niscaya, maka upaya penyegaran juga menjadi keharusan, setidaknya setahun sekali. Mudik cocok memenuhi kebutuhan ini, ia bahkan menjadi solusi atas kebutuhan rekreasi dan pulang kampung sekaligus. Inilah yang kemudian membentuk tujuan mudik dalam bayangan kita pada umumnya, yakni untuk refreshing sembari menyambung silaturahmi dengan keluarga.

Namun apakah tujuan-tujuan tadi benar-benar bisa tercapai melalui mudik? Akankah gairah atas mudik suatu hari nanti juga akan surut, sebagaimana tradisi-tradisi lain pada umumnya?

Saya curiga, makin ke sini, gairah untuk mudik justru semakin berkurang. Kaum milenial sebagai kelas menengah baru, setidaknya mulai merasakan gejala bahwa mudik saat Lebaran terasa semakin tidak efisien.

Generasi milenial umumnya adalah generasi ketiga atau bahkan keempat setelah generasi pertama yang melalui peristiwa proklamasi kemerdekaan. Generasi pertama ini biasanya masih tinggal di daerah yang sama dengan keluarga besarnya. Generasi kedua, mulai terpengaruh pembangunan sentralistik, sebagian masih tinggal dekat dengan keluarga, namun banyak yang mulai beranjak ke kota.

Sementara itu, generasi ketiga dan keempat mulai merasakan dampak dari prasyarat kerja "bersedia ditempatkan di mana saja", sehingga banyak yang ditempatkan hingga ke pelosok negeri. Hal ini membuat pandangan mereka atas mudik berbeda dari generasi sebelumnya.

Beberapa kawan dari lingkar pertemanan berbeda menyampaikan keluh kesah yang sama perihal mudik ini. Salah satunya, seorang kawan yang bekerja untuk perusahaan asing di Samarinda. Ketika Lebaran tiba, ia mesti mudik ke rumah orangtuanya di Malang. Sementara itu, orang tuanya di Malang ingin mereka semua mengunjungi keluarga besar kakek-neneknya yang berada di Banyuwangi.

Karena Lebaran adalah waktu berkumpul dengan keluarga dan tidak baik menolak permintaan orangtua, maka mudik maraton Samarinda - Malang - Banyuwangi menjadi rutinitas tahunan yang dilakukannya dalam satu kesempatan libur hari raya.

Kawan ini mengeluhkan betapa mudik Lebaran selalu memerasnya habis. Perjalanan mudik seperti yang ia lakukan membutuhkan alokasi waktu yang besar dari cuti bersama yang tidak panjang-panjang amat, energi ekstra untuk melakukan perjalanan panjang, juga tentunya biaya yang membuat THR-nya hanya numpang lewat. Saking kesalnya, ia bahkan bersyukur ketika situasi pandemi tahun lalu membuat mudik tak mungkin dilakukan.

Mudik dengan menggunakan pesawat terbang biasanya menjadi pilihan jika kita ingin menghemat waktu dan tenaga. Biaya tiket pesawat yang relatif lebih mahal dari sarana transportasi lain dipertukarkan dengan waktu yang lebih panjang untuk beristirahat dan melakukan kegiatan lain yang lebih berkualitas. Sayangnya, pilihan ini jadi kurang masuk akal ketika mudik Lebaran.

Kenyataannya, saat mudik, harga tiket pesawat bisa naik tiga hingga empat kali dari normalnya. Belum lagi jika sudah berkeluarga, jumlah kepala otomatis menjadi unsur pengali atas semua biaya yang mesti dikeluarkan.

Sementara itu, perjalanan darat jelas sangat melelahkan. Apalagi jika mesti menyeberang antarpulau, tentu lebih banyak menyita waktu dan tenaga. Tujuan mudik untuk refreshing jelas sulit terwujud karena badan pasti pegal-pegal setelah melakukan perjalanan panjang pulang-pergi. Belum lagi pikiran stres membayangkan tabungan yang terkuras atau tagihan kartu kredit yang membeludak.

Terkait tujuan mudik untuk menyambung tali silaturahmi, saya sangsi tujuan ini bisa secara mangkus dan sangkil dapat terakomodasi melalui mudik. Bahkan, mudik rasanya telah menjadi sekadar formalitas yang menjemukan.

Setidaknya dari apa yang dialami banyak saudara, sepupu, teman-teman seusia, juga saya sendiri, mudik tidak cukup mampu membuat kita mengenal secara pribadi satu sama lain. Bahkan untuk sekadar mengingat nama.

Saat mudik kita biasanya juga mengunjungi rumah saudara-saudara jauh, atas nama menyambung tali silaturahmi. Biasanya kegiatan seperti ini dilakukan beramai-ramai dengan keluarga besar. Dalam momen ini, tidak jarang ada anggota keluarga yang lebih muda tidak tahu atau tidak ingat siapa yang sedang mereka kunjungi, baik dalam hal nama maupun statusnya dalam silsilah keluarga mereka.

Sebaliknya, pihak yang dikunjungi juga jarang yang mampu mengingat atau mengetahui si A yang berkunjung itu namanya siapa, anaknya siapa, cucunya siapa, dan sebagainya. Mudik ke sanak famili hanya menjadi ajang perkenalan yang berulang setiap tahun, dan dengan demikian jadi sulit membayangkan silaturahmi akan terus terjalin hingga ke anak cucu nanti.

Situasi seperti sebenarnya ini lumrah saja. Pada dasarnya hanya ada dua hal yang bisa membantu kita mengingat dan mengenal seseorang. Pertama, kita "dipaksa" untuk mengenal seseorang karena memang selalu bertemu dalam kegiatan sehari-hari. Interaksi rutin membentuk kedekatan yang memungkinkan kita untuk mengenal secara personal. Kedua, perkenalan bisa terjadi ya semata-mata karena ada kepentingan, entah itu pekerjaan, bisnis, atau yang lainnya.

***

Saya percaya, persepsi generasi muda mengenai mudik perlahan-lahan akan bergeser dari para pendahulunya. Situasi pandemi yang menyebabkan larangan mudik tahun ini bisa jadi turut andil dalam mengubah persepsi ini.

Untuk mengekspresikan rasa sayang dan peduli kepada sanak saudara, teknologi telah memungkinkan kita untuk bisa terhubung setiap saat. Dengan teknologi, kita bisa tetap menjalin silaturahmi tanpa mesti menunggu Lebaran. Bagi kawan di Samarinda tadi contohnya, ia bisa melepas rindu serta mengekspresikan perhatian dan rasa sayang kepada orang tuanya melalui video call yang bisa ia lakukan setiap saat.

Tidak mudik toh bukan berarti tidak sayang keluarga atau durhaka kepada orangtua. Miris jika ada yang menganggap mudik sebagai takaran kepedulian terhadap keluarga. Mengunjungi orangtua mestinya bukan kesempatan yang hanya bisa dilakukan ketika mudik.

Sayang sekali apabila silaturahmi hanya jadi rutinitas tahunan saat mudik. Bukankah esensi silaturahmi adalah kepedulian dan kesediaan kita membantu apabila dibutuhkan? Jika mudik dianggap sebagai kewajiban, maka kewajiban yang kehilangan manfaatnya hanya akan menjadi beban. Apakah mungkin, jika tidak harus jadi rutinitas wajib setahun sekali, mudik menjadi lebih syahdu dan tidak sekadar jadi formalitas?

(mmu/mmu)