Kolom

Ilusi Kematian Toko Buku

AP Edi Atmaja - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 11:00 WIB
Kinokuniya
Toko Buku Kinokuniya (Foto: Hendra Kusuma/detikcom)
Jakarta -

Saya suka mendengarkan siniar, siaran audio yang tenar dengan istilah aslinya, podcast. Kegemaran itu mengantarkan saya pada dua siniar masyhur dan cukup penting di Indonesia: Coming Home with Leila Chudori dan Kepo Buku. Belum lama berselang, kedua siniar ini berkolaborasi menyuguhkan diskusi bertema kematian toko buku. Penyiar kedua siniar tersebut hadir lengkap di acara kolaborasi itu: Leila Chudori dari Jakarta, Rane Hafied dari Bangkok, Hertoto Eko P dari Singapura, dan Steven Sitongan dari Ambon.

Apa yang kemudian saya ikuti dari diskusi sepanjang hampir satu jam itu adalah ratapan para pembaca buku, yang ternyata juga doyan menyambangi toko buku, namun mewek lantaran tutupnya sejumlah toko buku. Leila, misalnya, mengabarkan gulung tikarnya Toko Buku Kinokuniya di Plaza Senayan, Jakarta per 1 April 2021. Menurut penulis novel Pulang dan Laut Bercerita itu, tutupnya Kinokuniya layak ditangisi sebab toko buku impor itu telah menorehkan kenangan tidak sedikit buat para pembaca buku.

Tak ingin cuma membincang Kinokuniya, Hertoto berpendapat bahwa semua toko buku yang tutup memang mesti diratapi. Tidak cuma toko buku-toko buku besar, melainkan juga yang kecil-kecil --toko buku lokal, kios buku, dan lapak-lapak buku di pasar rakyat pun wajib diperhitungkan. Sambung Leila yang memang doyan mendominasi percakapan dalam saban episode, toko buku merupakan wujud peradaban di samping museum dan perpustakaan.

Rane dan Steven berlaku pasif dalam siniar mereka kali ini. Rane memilih berperan sebagai moderator di tengah perdebatan yang sempat memanas antara Leila dan Hertoto soal apakah pantas toko buku di Jakarta dibanding-bandingkan dengan toko buku-toko buku luar negeri yang diasumsikan sebagai "negara maju". Sementara Steven maunya diperlakukan sebagai narasumber dan bersuara seperlunya saja.

Transformasi

Buku di era kiwari memang memuat seribu satu persoalan yang tidak boleh disikapi sama belaka seperti masa-masa yang telah lewat. Zaman berubah dan teknologi terus menerus berkembang. Di era digital, buku dan dunia perbukuan perlahan bertransformasi ke arah yang barangkali sukar dipahami oleh generasi yang datang sebelum era digital.

Situasi pandemi seperti saat ini seakan-akan mengakselerasi proses transformasi tersebut. Anjuran pemerintah untuk membatasi mobilitas dan menjauhi kerumunan membuat buku-buku teronggok tanpa daya di rak-rak toko buku yang juga tengah berada dalam kondisi kembang-kempis. Fenomena ini tak melulu berlaku untuk buku, melainkan juga komoditas-komoditas lain yang diperjualbelikan secara konvensional, jika tak ingin dibilang kuno, mulai dari pemasaran, distribusi, hingga penjualan yang semata-mata masih mengandalkan lokasi dan interaksi fisik.

Pandemi pada gilirannya memaksa penerbit dan penulis buku untuk memasarkan buku mereka sendiri di internet dan media sosial alih-alih bergantung pada penjualan toko buku. Meski akan ada lapangan kerja yang hilang di balik tutupnya toko buku seperti pelayan, kasir, dan satpam, tetap bakal ada lapangan kerja pengganti seperti perancang dan administrator web, narahubung penjualan, dan pekerja pengiriman.

Oleh karena itu, meratapi kematian toko buku (baca: toko buku luring dan fisik) adalah sikap ilusif yang tidak solutif. Terlebih jika mengingat fakta bahwa contoh toko buku yang tumbang yang diratapi secara melankolis itu adalah toko buku besar yang dihidupi oleh para pemodal besar. Kurang tepat jika Leila mengatakan bahwa toko buku merupakan simbol peradaban seperti halnya perpustakaan. Siapakah yang terlayani secara signifikan dengan keberadaan toko buku besar itu? Tidak lebih dan tidak kurang hanya kelas menengah terdidik yang nyaris tak memiliki masalah dengan bagaimana cara memenuhi kebutuhan primer mereka.

Justru kondisi saat ini membuka ruang demokrasi digital yang memungkinkan keterlibatan banyak pihak untuk turut berkompetisi di dunia perbukuan. Toko buku kecil dengan modal kecil dapat bersaing di pasar buku daring dengan toko buku besar yang sejak lama menikmati status quo di dunia nyata. Dengan demikian, kunci utama untuk dapat memenangi persaingan di masa kiwari ini ialah pada kreativitas dan kepiawaian pengelola toko buku dalam mengoptimalkan potensi jagat digital.

Demokrasi digital juga membebaskan pembaca buku dari monopoli pengetahuan pengelola toko buku-toko buku besar. Pasar buku daring menawarkan keragaman pilihan buku sekaligus kemudahan memperolehnya. Buku-buku yang dianggap secara sepihak dan subjektif sebagai buku-buku "terlarang", yang ditegakkan dengan mekanisme swasensor berupa embargo atau pembakaran buku oleh pengelola toko buku besar, tidak menemukan relevansinya dalam pasar buku daring yang bebas.

Jelas keliru jika menganggap dunia perbukuan Indonesia terancam dengan tutupnya satu-dua toko buku besar, sementara "toko buku" daring bermunculan bak cendawan musim hujan di Facebook, Tokopedia, Shopee, Twitter, Instagram, dan beberapa "dunia" kita yang lain hari ini. Isu penjualan buku bajakan yang begitu marak di ceruk-ceruk maya itu adalah perkara lain. Namun, sungguh aneh meratapi kematian toko buku dengan mengesampingkan fakta bahwa toko buku tengah, telah, dan terus menerus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.

A.P. Edi Atmaja mahasiswa doktoral Universitas Indonesia, penyuka buku

(mmu/mmu)