Kolom

Hafalan Teori dan Tradisi Riset Kita

Katarina Retno - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 09:40 WIB
Female student with long hair sitting in the library while writing on the book with laptop at desk
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Saat ini saya mengajar di program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Dalam perjumpaan dengan mahasiswa yang mengambil mata kuliah metodologi penelitian atau skripsi, diskusi tentang topik penelitian menjadi hal yang menarik.

Menariknya, sebagian besar (jika tidak ingin dikatakan seluruhnya) mahasiswa menentukan topik penelitian berbasis masalah. Celakanya, masalah itu sendiri terkadang terkesan mengada-ada.

Diskusi tentang penentuan topik penelitian yang bermuara dari masalah yang kerap dipaksakan itu menarik saya dalam pemikiran (setengah) mendalam. Dalam sharing para guru dan beberapa penelitian yang saya dan tim lakukan, kami menemukan fakta bahwa kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan pola yang sama.

Begini, pembelajaran di kelas masih didesain menjawab persoalan yang telah ditentukan. Persoalan itu kemudian juga hanya diselesaikan dengan menghapal dan mencocokkan teori yang relevan.

Peserta didik kita dari tingkat sekolah dasar hingga tinggi sangat jarang diajak mengidentifikasi persoalan nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan materi pembelajaran. Tak hanya itu, kita tidak sungguh-sungguh mengajak mereka mengevaluasi permasalahan itu dan mencari solusinya.

Dampaknya peserta didik terbiasa menghafal teori. Lalu mencocokkan teori itu dengan permasalahan yang diajukan. Dan persoalan yang diajukan itu kadang pula terlalu jauh dari persoalan praktis yang dihadapi sehari-hari.

Pelaksanaan pembelajaran yang demikian bukan tanpa risiko. Peserta didik kurang terbiasa menganalisis atau menemukan hal baru. Hal ini pula yang kemudian tampak pada topik-topik penelitian yang diajukan mahasiswa saya.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa akan meneliti efektivitas penggunaan metode pembelajaran bermain peran. Metode itu akan diterapkan pada materi tertentu, di kelas yang telah ditentukannya.

Topik itu bisa dikatakan tidak terlalu istimewa. Metode itu jelas bukan metode pembelajaran yang mengandung unsur kebaruan. Jika ditelusuri artikel ilmiah di Google Scholar, topik itu sudah banyak diteliti. Jadi apa istimewanya?

Dalam sesi brainstorming, saya biasanya meminta mahasiswa memikirkan alasan mereka mengambil program studi pendidikan dasar. Lalu alasan dan "curhat colongan" mulai berhamburan. Mahasiswa menceritakan beragam alasan. Mulai dari yang memang memilih jurusan sendiri, ada pula yang mengikuti saran atau permintaan orangtua. Akibatnya mereka menjalani kuliah tanpa passion.

Saya kemudian mulai memahami alasan mahasiswa menjadikan beban SKS dalam skripsi itu sebagai beban dalam arti sebenarnya. Tak heran jika selama menyelesaikan skripsi tersebut mahasiswa jadi serba tersendat-sendat. Mereka tidak terlalu antusias menyelesaikan tugas akhir ini. Apalagi ditambah bumbu-bumbu seperti dosen pembimbing yang jutek dan sulit ditemui, serta kandasnya hubungan dengan si tambatan hati. Duh, nelangsa!

Menurut saya, penentuan masalah penelitian baiknya tidak lagi karena sekolah dasar itu belum pernah diteliti. Namun, lebih pada masalah yang ada di sana dan kontribusi yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk menyelesaikan masalah itu.

Dengan demikian, orientasi penelitian mahasiswa lebih ditekankan pada solusi yang bisa dilakukan mereka untuk sekolah dasar itu. Dalam perspektif lain, kegiatan yang melibatkan sekolah tempat mereka berasal atau menjadi tujuan mereka selanjutnya bisa menjadi langkah penting. Sekolah yang bersangkutan akan mempertimbangkan untuk menerima mereka sebagai guru jika mereka melamar pekerjaan di sana.

Titik tolak penentuan masalah yang demikian, menurut saya, selain lebih memudahkan, juga bisa membantu mahasiswa untuk lebih fokus pada solusi. Permasalahan yang ada diselesaikan dan bukannya mencari masalah agar penelitian bisa dilaksanakan.

Pada diskusi lanjutan, saya menanyakan rencana. Dalam pemikiran saya, jika pilihan masuk ke prodi PGSD merupakan pilihan pribadi, maka tiap mahasiswa sudah memiliki gambaran apa yang ingin dilakukannya. Rencana itulah yang menjadi visi-misi mahasiswa.

Misalnya begini, mahasiswa memilih prodi PGSD karena menyadari pentingnya pendidikan dasar. Atas dasar itu, saya mengarahkan mahasiswa pada topik yang bersifat peningkatan kualitas pembelajaran. Hal ini bisa dilakukan dari pelaksanaan pembelajaran di ruang kelas hingga manajemen sekolah.

Menghadapi pola penentuan topik penelitian yang belum beranjak dari mencari(-cari) masalah ini sungguh melelahkan. Hal itu serupa berhadapan dengan mahasiswa yang mampu menghapal teori apa pun, tapi tidak bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kondisi demikian, tak heran jika basis riset kita kemudian hanya pada pencarian masalah yang terasa tidak pas. Para pemuda harapan bangsa ini tidak memanfaatkan tugas akhirnya sebagai sebuah karya yang merupakan pengejawantahan vis- misi dan kepedulian mereka.

Katarina Retno dosen PGSD

(mmu/mmu)