Kolom

Sekolah dan Tatanan Sosial Baru

R. Mustofa - detikNews
Senin, 03 Mei 2021 15:04 WIB
Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) berbagai elemen masyarakat terus mendorong guna terciptanya sekolah dasar yang aman dan lebih baik.
Mendorong pendidikan dasar yang lebih baik (Foto ilustrasi: dok. Yappika)
Jakarta -
Tidak berlebihan jika saya percaya bahwa pendidikan merupakan faktor determinan penyelesaian masalah sosial dalam kehidupan. Namun pertanyaannya adalah pendidikan seperti apa dan bagaimana? Apa yang dapat dilakukan sekolah untuk menciptakan demokrasi sosial dan ekonomi?

Kesalahan terbesar yang selalu kita buat adalah berpikir kita menghadapi tantangan baru hanya karena kita menghadapi dekade baru. Kita harus melanjutkan perjuangan antara kekuatan demokrasi dan kultur feodalisme yang sangat hegemonik.

Pada tahun 1932 George Counts menerbitkan sebuah pamflet yang berjudul Dare the Schools Build a New Social Order?. Sebagai seorang sosialis yang blak-blakan pada saat itu, Counts menantang para guru Amerika untuk memberikan kepada siswanya visi masa depan Amerika yang egaliter yang menyadari prinsip-prinsip ekonomi dan sosial demokrasi.

Dia menekankan bahwa "menolak untuk mengambil tugas menciptakan visi masa depan Amerika yang jauh lebih adil, mulia, dan indah adalah untuk menghindari tugas pendidikan yang paling krusial, sulit, dan penting." Bagi Counts, seperti Dewey sebelumnya, sekolah memiliki potensi untuk menjadi kekuatan untuk perubahan sosial tanpa kekerasan di Amerika Serikat. Pendidikan untuk setiap orang akan mengarah pada kemakmuran dan kehidupan yang layak untuk semua.

Mengubah Masyarakat


Banyak dari kita berharap masalah sosial dan ekonomi yang sulit seperti sekarang ini dapat diselesaikan tanpa konflik atau kekerasan. Karenanya, generasi baru yang terbebaskan yang harus kita latih adalah sumber harapan. Mereka akan menciptakan tatanan baru tanpa gesekan dalam sistem.

Anak-anak tumbuh dalam konteks kelas, ras, ekonomi, dan gender, dan konteks itu akan memiliki kekuatan yang besar atas bagaimana mereka bertindak dan apa yang akan mereka lakukan. Oleh karena itu, peran sekolah dan pendidikan sangat penting.

Saya tidak percaya bahwa tatanan sosial baru dapat dibangun melalui sekolah an sich. Saya percaya bahwa sekolah akan menjadi bagian penting yang dibangun melalui upaya kolaboratif dari kita semua; guru, siswa, penambang, pekerja pabrik, profesional --semua yang percaya pada keharusan sosial dan moral dalam berjuang menuju masa depan yang lebih baik.

Oleh karenanya, saya pikir pertanyaan krusialnya bukanlah apakah sekolah memiliki kekuatan untuk mengubah masyarakat, namun kekuatan kecil apa yang dapat kita gunakan untuk bekerja sama untuk mengubah masyarakat? Dan, jika kita mulai mengubah masyarakat, apa peran kita sebagai guru dalam membangun masa depan yang lebih baik?

Hal penting untuk diingat adalah bahwa kita bukan hanya guru; kita adalah warga negara dan oleh karena itu tidak memiliki kekebalan dari tanggung jawab yang menjadi bagian dari menjadi anggota masyarakat demokratis. Kita harus bertindak sebagai tanggung jawab warga dan kemudian menghadapi tambahan peran kita sebagai guru.

Saat ini, menurut saya sekolah harus bisa menjadi 'pengganti keluarga', dan yang menarik adalah dalam iklim yang berorientasi 'pasar', sekolah, dan secara implisit negara sebagai pengelola sekolah, dipaksa untuk berperan lebih aktif di ranah kesejahteraan dan moral.

Kita dapat melihat saling ketergantungan antara pendidikan, demokrasi, dan pembangunan yang berimplikasi pada otonomi sekolah dan juga menimbulkan pertanyaan baru yang berbeda tentang bagaimana nilai-nilai universal dan relatif dipertimbangkan dalam kurikulum. Ini memiliki arti khusus di negara berkembang seperti Indonesia yang berjuang antara ekonomi global dan mempertahankan identitas budayanya sendiri.

Peran Penting Guru


Sekolah harus menciptakan visi masa depan, dan guru harus bisa 'mendesain' siswanya dengan jelas. Sudut pandang ini secara implisit berpendapat bahwa kualitas guru tidak dapat ditawar. Oleh karenanya, kita berharap besar terhadap kebijakan 'guru penggerak' yang digagas oleh Kemendikbud. Jika kebijakan tersebut diselenggarakan secara efektif, maka sangat membantu meningkatkan profesionalitas guru.

Di sisi lain, guru adalah warga negara sehingga ada tugas sosial dan politik. Guru memiliki tanggung jawab moral dan harus mengambil sikap dalam permasalahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Guru harus mempunyai cita-cita untuk membangun peradaban bahkan mereka memiliki hak istimewa dan tanggung jawab sebagai warga negara. Oleh karena itu, guru atau pendidikan tidak boleh absent dari permasalahan sosial yang dihadapi oleh masyarakat.

Salah satu tujuan pendidikan adalah memungkinkan orang untuk memikirkan suatu masalah, menimbang dengan informasi faktual, dan membuat keputusan yang tepat tentang masalah yang mereka hadapi dan komunitas tempat mereka tinggal. Artinya, guru sebagai komunitas terpelajar dituntut memiliki kepekaan intelektual dan sosial yang tinggi.

Penting untuk menerjemahkan tanggung jawab kewarganegaraan ke dalam komunitas menjadi pekerjaan seseorang di kelas maupun di masyarakat. Oleh karenanya kurikulum dan pembelajaran harus bersifat kontekstual yaitu tidak boleh ada gap dengan isu-isu sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, guru memiliki kewajiban kepada siswa untuk mengekspos evolusi perkembangan demokrasi guna memberikan pencerahan tentang negara-bangsa. Guru juga harus aktif mewujudkan demokrasi sosial dan ekonomi serta menyingkirkan feodalisme, karena feodalisme merupakan kendala utama untuk mencapai pendidikan dan masyarakat modern.

Kembali ke pertanyaan awal, pendidikan seperti apa dan bagaimana? Pendidikan yang demokratis, memiliki kapabilitas dan kemampuan untuk mewujudkan visi masa depan yang lebih adil, setara, dan rasional dengan kualitas guru yang unggul. Unggul bukan hanya dari segi intelektual; di satu sisi memiliki imajinasi untuk mendidik siswa menghadapi kehidupan di masa depan, di sisi lain memiliki integritas, yaitu peka terhadap perkembangan sosial yang terjadi.

Memang, kita perlu bekerja sama untuk berkolaborasi mewujudkan tugas berat ini. Namun, sejauh mana pendidikan mampu mendorong dan menjadi tekad dari semua keinginan tersebut?

R. Mustofa dosen Ilmu Pendidikan Unusa; mahasiswa S3 Hua-Shih College of Education, NDHU, Taiwan R.O.C


(mmu/mmu)