Kolom

"Rerasan" (di Hari) Pendidikan

Arifah Suryaningsih - detikNews
Senin, 03 Mei 2021 13:00 WIB
Pelajar membenahi masker adiknya pada hari pertama sekolah tatap muka di SD Negeri 42, Banda Aceh, Aceh, Senin (4/1/2021). Mayoritas lembaga pendidikan tingkat SD, SMP, dan SMA di provinsi Aceh mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan sistim bergiliran dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat untuk mencegah penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/hp.
Foto ilustrasi: Irwansyah Putra/Antara
Jakarta -

Saya adalah produk pendidikan dasar dan menengah zaman orde baru. Zaman ketika saya dan teman-teman sebaya mengandalkan hafalan sebagai cara belajar. Bahkan saat di Sekolah Dasar kami mampu pula menghafal nama seluruh menteri pada kabinet pemerintahan kala itu. Berasal dari produk pendidikan gaya menghafal itulah, saya kini ada di posisi terdepan dunia pendidikan. Bersama empat jutaan teman guru lainnya, membersamai, menghadapi, dan juga memfasilitasi enam puluh jutaan generasi milenial yang jauh berbeda gaya hidup, cara berpikir, dan juga cara berinteraksi dengan teman dan gurunya.

Pemerataan Guru

Secara hitung-hitungan, satu dari kami harus mengajar 16 sampai 17 orang siswa; ini adalah rasio yang kurang bagus --dibandingkan dengan negara maju di luar sana, yang rata-rata seorang guru cuma harus mengampu 6-10 siswa. Negara-negara yang dinilai memiliki rasio guru dan siswa yang terbaik di antaranya adalah San Marino 6 siswa per guru, Bermuda 7 siswa per guru, Liechtenstein 8 siswa per guru, Kuwait 9 siswa per guru, Swedia dan Polandia 10 siswa per guru.

Tapi jangan merasa tidak nyaman apalagi sengsara; rasio itu banyak berada di kota-kota besar. Sedangkan kawan guru yang berada di pelosok-pelosok negeri jauh lebih banyak murid yang harus diajar. Di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (daerah 3T) alih-alih rasio ideal, di sana beberapa guru harus mengajar dua-tiga kelas atau bahkan satu sekolah sekaligus. Artinya, pemerataan guru pada setiap wilayah ataupun satuan pendidikan masih timpang.

Ada banyak murid yang belum nyaman dalam mengenyam pendidikan pada tujuh puluh enam tahun sejak negeri ini merdeka, dan dua puluh sembilan kali berganti menteri pendidikan.

Kompetensi

Guru zaman saya dulu akan "mati gaya" jika mengajar tanpa buku. Misalkan ada enam mata pelajaran dalam sehari, maka harus ada minimal dua belas buku dalam tas sekolah, setiap hari membebani pundak kecil kami. Enam buku paket pelajaran dan enam buku tulis skrip. Sejak pukul tujuh masuk kelas hingga pukul dua siang; komando guru adalah nyawa dalam setiap kelas.

Gairah belajar akan semakin membuncah ketika bel istirahat nyaring berbunyi; saat itu adalah kebebasan lima belas menit kami untuk menghirup udara segar di luar kelas. Belum zamannya belajar di luar dinding bersekat empat. Seminggu enam hari, sehari enam hingga tujuh jam. Buka halaman sekian, mencatat, mengerjakan, menghafal, ulangan, dan seterusnya. Dua belas tahun mengulang hal-hal yang sama. Enam tahun di SD dan enam tahun di SMP dan SMA.

Sekarang saya sebagai guru tidak bisa dan tidak selayaknya begitu. Kompetensi guru menjadi kunci sebagai seorang fasilitator andal. Murid adalah sumber pengetahuan. Center of learning is learner. Pusat pembelajaran adalah sang pembelajar. Guru dituntut untuk mampu menggiring murid supaya bisa mengaktifkan segala daya yang dimilikinya. Murid diberi kail, bukan sekadar diberi ikan.

Bahkan murid dituntut untuk bisa berbagi pengetahuan yang bahkan gurunya pun mungkin belum juga mengetahuinya. Tapi sayangnya kondisi murid seperti itu pun nyatanya belum mencapai titik ideal. Tidak usah jauh-jauh mencari ke pelosok negeri, bahkan di kota-kota besar pun banyak murid masih enggan membaca, memahami, apalagi menghafal. Hingga tidak heran jika kita pun masih berada posisi jauh di bawah pada ranking berliterasi menurut Survei Programme for International Students Assessment (PISA) 2018 yang dirilis pada 3 Desember 2019 --Indonesia berada pada peringkat 74 dari 79 negara.

Kesejahteraan

Guru zaman saya dulu pakaiannya hanya itu-itu. Boro-boro gonta-ganti sepatu, keringat bau pun tidak menjadi hal tabu. Tidak heran saya dan teman-teman seangkatan enggan menuliskan profesi guru menjadi sebuah cita-cita. Dokter, hakim, polisi, pilot, tentara, diplomat seolah menjadi hal yang paling tepat untuk diimpikan sebagai gambaran masa depan.

Guru identik dengan pengabdian, yang tidak bakal mampu mengantarkan menjadi orang gedongan. Berbekal keihklasan atau bisa juga karena tidak ada pilihan, sarjana-sarjana guru terlahirkan. Siap mengabdi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Hal itulah yang kemudian mendorong peningkatan kesejahteraan guru. Dengan sebuah silogisme, jika gurunya sejahtera, maka pendidikan anak bangsa juga sejahtera. Berangsur-angsur profesi guru mengalami "demitologi", guru kini bukan lagi Oemar Bakri. Profesi guru kini banyak diburu juga karena sertifikasi.

Namun hingga hampir satu setengah dasawarsa bergelimang sertifikasi, kualitas pendidikan kita tidak juga terakselerasi. Padahal halaman-halaman sekolah sudah seperti garasi taksi, datang siang sedikit "harap parkir mobil pak guru dan bu guru di halaman warteg depan sekolah." Namun demikian masalah kesejahteraan juga masih menyisakan paradoks yang menyesakkan, ratusan ribu guru honorer pun menunggu pemberian kesejahteraan yang menyamankan.

Banyak kemajuan dan kenyamanan yang nyatanya justru menjadi jebakan. Bahwa sejak zaman dulu hingga sekarang pendidikan kita belum secara signifikan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia secara merata. Tepatlah yang disampaikan Bapak Iwan Syahril, guru harus mau nyaman dalam ketidaknyamanan, guru harus berjuang dan selalu melakukan perubahan. Jika tidak, kita akan terus berkutat dalam permasalahan yang sama.

Kita semua perlu sadar bahwa pendidikan bukan sekadar memindahkan konten bergiga-giga byte dalam hitungan menit dari ruang-ruang penyimpanan ke dalam kepala-kepala yang berjiwa. Pendidikan bukan sekadar topik perbincangan, tapi realitas untuk dikerjakan secara barengan. Pendidikan adalah tentang hubungan, tentang perasaan, tentang ikatan, dan juga tentang kemanusiaan.

Tidak mudah mengelola jutaan manusia dengan keunikan masing-masing. Semua butuh proses. Dibutuhkan ikhtiar kolektif dari seluruh bangsa Indonesia untuk mengurai setiap benang kusut pendidikan, sehingga ditemukan ujung pangkalnya, dirapikan dan siap menenun sesuai pola yang (seharusnya) telah ditetapkan. Sehingga siapapun pemimpinnya, semua tetap akan menghasilkan mahakarya "lembaran-lembaran kain keindonesiaan" generasi penerus bangsa.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2021. Serentak bergerak, wujudkan Merdeka Belajar.

Arifah Suryaningsih, S.Pd, MBA Guru SMK 2 Sewon Yogyakarta, PP Bidang Literasi Ikatan Guru Indonesia

(mmu/mmu)