Kolom Kang Hasan

Tiadanya Pendidikan Dasar yang Sederhana

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 03 Mei 2021 09:56 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Pendidikan di Jepang dimulai dari hal-hal sederhana. Sejak TK anak-anak dibiasakan untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Mereka membawa sendiri tas sekolah, tidak boleh dibawakan oleh siapa pun. Tiba di sekolah mereka mengganti sepatu dengan sepatu yang khusus dipakai dalam ruangan, untuk menjaga kebersihan. Sepatu yang tadi dipakai di luar ruangan ditempatkan dalam kotak sepatu; tempatnya berbeda dari tempat sepatu dalam ruangan, agar kotoran sepatu luar tadi tidak mengotori sepatu untuk dalam ruangan. Guru memastikan anak-anak menempatkan sepatu secara benar.

Selanjutnya seluruh kegiatan sekolah mengacu pada hal yang sama, yaitu menempatkan sesuatu secara patut. Anak-anak usia dini di Jepang tidak diberi beban pelajaran. Mereka hanya diajak bermain dalam suatu lingkungan yang tertib dan patut tadi. Ambil alat untuk bermain, pakai secara patut, lalu kembalikan ke tempat semula dengan penataanyang patut. Sederhana, bukan?

Mungkin ada yang bertanya, kenapa urusan sederhana itu mesti jadi bagian dari pelajaran sekolah? Jawabannya, karena sekolah itu tempat mendidik orang. Tujuan pendidikan paling dasar adalah membekali anak-anak dengan keterampilan dasar untuk hidup sebagai anggota masyarakat yang punya tata krama. Meletakkan barang di tempat yang patut adalah salah satu bentuk tata krama tadi.

Seberapa pentingkah hal itu? Kalau kita berkunjung ke pabrik-pabrik milik perusahaan Jepang, kita akan menemukan kebersihan dan keteraturan yang luar biasa. Barang-barang ditata secara rapi. Tak hanya sedap dipandang. Efek terpenting dari penataan itu adalah efisiensi. Apa berada di mana, sejumlah berapa, diketahui dengan mudah, sehingga tidak menghabiskan waktu untuk mencarinya. Barang juga mudah dikeluarkan saat hendak dipakai.

Terlebih, penataan yang rapi dapat mencegah terjadinya kecelakaan. Penataan rapi itu dalam bahasa Jepang disebut seiri-seiton. Ditambah seiso, yaitu kegiatan membersihkan, ia menjadi 3S. Ini adalah dasar penataan tempat kerja yang kini jadi model yang diterapkan secara global. Banyak perusahaan di Indonesia mencoba menerapkan sistem ini. Saya punya pengalaman mendampingi pabrik yang ingin menerapkannya. Terasa benar kesulitannya, karena orang-orang tidak terbiasa. Di sekolah mereka tidak dididik dengan hal sederhana tadi.

Contoh lain aktivitas belajar adalah dengan pergi bersama naik kendaraan umum. Anak-anak diajak pergi naik kendaraan umum. Sebelum pergi, guru menjelaskan tata caranya. Selama bepergian anak-anak mengikuti tata cara itu. Ketika mereka menggunakan kendaraan umum sendiri, mereka tetap mengikuti tata cara itu.

Lagi-lagi hal yang sederhana. Tapi sesungguhnya ini bukan tanpa substansi. Kendaraan umum, khususnya kereta, adalah urat nadi kehidupan di Jepang. Kalau ada kekacauan di situ maka kehidupan masyarakat secara keseluruhan akan kacau. Sekadar salah tangga di stasiun kereta pada jam-jam ramai dapat menimbulkan kekacauan, bahkan kecelakaan. Sistem itu hanya bisa berjalan kalau setiap orang berperilaku tertib.

Hal-hal sederhana ini tidak ada dalam sistem pendidikan kita. Sejak masuk TK anak-anak sudah harus memikul beban ambisi para orang dewasa yang ingin mencerdaskan mereka. Anak-anak dijejali dengan berbagai pelajaran yang harus mereka ingat dengan otak semata. Bahkan banyak pula yang harus mereka hafalkan.

Presiden Jokowi mengangkat Nadiem Makarim, seorang pebisnis start up yang sukses. Berulang kali Jokowi menekankan pentingnya sekolah menyiapkan anak-anak untuk unggul dalam teknologi, agar mereka kelak piawai dalam mengembangkan bisnis serupa yang dibangun Nadiem. Jokowi ingin lebih banyak unicorn lahir dari Indonesia.

Begitulah Indonesia. Kita sedang menatap ke dunia angan-angan, sedangkan kaki kita tidak dijejakkan di tanah dengan benar. Gambaran produknya di masyarakat adalah, kita punya ojek online, memakai teknologi maju, tapi pengendaranya bergerak melawan arus, naik ke trotoar, dan melakukan hal-hal tidak tertib lainnya.

(mmu/mmu)