Jeda

Hantu dan Ketidakadilan

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 02 Mei 2021 11:21 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Minggu kemarin saya pergi ke Yogya untuk berziarah dan menghadiri pengajian di Ponpes Kaliopak. Memang sebentar saja, jadi sengaja tidak memberi tahu banyak teman. Tapi gara-gara ada teman saya yang memasang foto saya saat di pemakaman seniman Girisapto di story IG-nya, saya jadi ketahuan kalau sedang berada di Yogya. Seorang teman lama mengirimi pesan melalui WhatsApp, "Nginep di mana?"

"Di Warungboto," jawab saya

"Nggak mau nginep di tempatku?"

"Nggak usah. Makasih. Kapok aku."

"Aku udah pindah lho, bukan di kos yang dulu lagi."

Teman saya tetap memaksa saya untuk menginap di kosnya yang baru. Tapi tetap saya tolak. Karena selain sudah mengagendakan menginap di kos teman di Warungboto, saya pernah punya pengalaman yang nggapleki ketika dulu menginap di kos teman saya itu. Begini ceritanya. Dua tahun lalu saya kemalaman ketika menghadiri acara di Yogya. Sebenarnya tidak masalah sih ketika kemalaman di Yogya, akan selalu ada teman yang membukakan pintu untuk saya. Tinggal pilih siapa yang paling mungkin untuk diinapi malam itu.

Malam itu seorang teman mengirimi pesan yang isinya menawarkan menginap di kosnya. Saya pun mengiyakan karena pengin mencoba menginap di tempatnya, karena memang belum pernah menginap di kosnya sebelumnya. Ia memberikan titik lokasi yang saya gunakan untuk memesan ojek online. Karena sudah larut, saya tidak banyak bicara ketika membonceng motor. Baru ketika titik lokasi itu berhenti, Mas ojol tersebut bertanya, "Mbak, beneran ini tempatnya? Sudah sampai nih kalau menurut maps-nya," Mas ojol itu bertanya dengan nada heran campur ragu.

Saya yang masih mengantuk berusaha mengumpulkan kesadaran, dan kantuk saya langsung hilang seketika saat melihat gapura di depan. Sebuah tempat pemakaman umum di sebuah kampung. Mas ojol itu sampai bertanya pada saya apakah saya benar-benar manusia dan langsung saja jawab dengan menginjak kakinya, "Aku menungsa, Mas!"

Saya pun menelepon teman saya sambil marah-marah karena merasa disasarkan. Teman saya ngotot kalau titiknya sudah benar. Akhirnya saya paksa teman saya untuk keluar dengan tetap menahan mas ojol untuk jangan pergi dulu sebelum saya yakin tidak salah tempat. Tidak lama teman saya keluar dari gang sebelah kuburan dan melambaikan tangannya. Saya pun minta diantar ke sana. Terlihat mas ojol sangat terburu-buru mohon diri meninggalkan tempat itu. Sial, pasti dia masih berpikir kalau saya ini dedemit.

Saya langsung mendamprat teman saya, "Mbok nek kasih shareloc itu kira-kira. Bengi-bengi diparakke kuburan!"

"Loh, wis, ya, langsung aku shareloc kok."

"Sebelum ngirim shareloc itu, ditunggu sampai titik paling mendekati akurat baru dikirim ya, Jubaedaaah..."

Saya langsung dibawa ke kosnya sebelum semakin muntab. Pertama kali masuk ke kosnya hawanya sungguh tidak enak. Saya masih berpikir bahwa mungkin itu hanya perasaan saya saja. Kos teman saya ini lumayan vintage-vintage begitulah. Kalau buat foto-foto sepertinya bagus. Saya langsung merebahkan diri ke kasur karena saking capeknya. Teman saya menunjukkan arah ke kamar mandi kalau saya ingin ke sana.

Sungguh saya heran sekali kenapa teman saya bisa tinggal di tempat yang hawanya horor seperti ini. Meski sebenarnya lampunya terang, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan hawa seram yang saya rasakan. Akhirnya saya tidak ke kamar mandi, tapi ke wastafel di dekat ruang makan untuk menggosok gigi dan mencuci muka. Saya sengaja tidak memakai kaca mata agar pandangan saya tetap blur. Soalnya kalau blur, mau ada penampakan juga tidak jelas. Jadi tidak bakalan ngeh kalau sedang ditampaki. Haha. Saya sering memakai trik ini ketika merasa hawa tidak enak padahal harus tetap keluar ruangan mengambil sesuatu.

Saya kembali merebahkan diri di kasur. Ngobrol sebentar karena sudah lama tidak berjumpa dengan teman saya sejak lulus kuliah. Lama-lama saya tertidur. Ternyata saya harus terjaga lagi karena suara berisik membangunkan saya. Suara orang mengetuk pintulah, gedebag-gedebug-lah, orang nangis, lalu tertawa. Lampu kamar juga byar-pet macam lampu disko. Herannya, teman saya bisa tidur dengan pulas.

"Eh, ini lampumu korslet apa ya? Terus berisik sekali sih di luar! Teman kosmu kok ya nggak tahu waktu orang istirahat sih?" kata saya sambil membangunkan teman saya.

"Ah biasa, ngajak kenalan mereka," kata teman saya tanpa membuka matanya.

Asem tenan! tidak perlu waktu lama bagi saya untuk paham kejadian apa yang baru saya alami. Saya ini berasal dari Jawa bagian utara, yang malah wagu kalau tidak percaya klenik dan perdemitan. Percaya hal-hal gaib bukan berarti apa-apa selalu dikaitkan dengan kegaiban. Percaya babi ngepet bukan berarti mendukung orang "dibabingepetkan".

Saya tumbuh dalam kultur kirim-kiriman santet adalah hal biasa. Bangun pagi disambut beras kuning dan segala uba rampe kembang kemenyan itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Bahkan kalau ada teman yang mencandai bahwa jalan menuju desa saya itu layak ditanami pohon pisang karena saking jeleknya, akan saya balas begini, "Jangankan jalan, perutmu aja bisa ditanami paku atau varian lain seperti silet dan makhluk hidup seperti kelabang."

Bahkan saking dekat dengan dunia klenik, ketika ada konten Tiktok yang membahas cara mengenali lukisan karya para pesohor seperti Picasso, Salvador Dali, Da Vinci, dan lain-lain bagi orang awam, dengan polosnya saya komen, "Oh, kalau saya tahunya lukisan yang modelnya setan-setan itu lukisan karya Solehpati." Ya, dulu memang ada acara pemburu hantu di televisi yang menampilkan pelukis yang melukis hantu yang ada di sekitar area perburuan dengan mata tertutup ketika melukis.

Saya pun mencoba membaca ayat kursi dan surat-surat dalam Al Quran apa saja yang saya bisa agar lebih tenang dan gangguan itu mereda. Tapi ternyata suara-suara itu masih saja mengganggu. Seperti prihatin dengan saya, teman saya berteriak, "Jancuk, isa meneng gak?" dan ajaibnya suara itu langsung berhenti. Kata teman saya, mereka sudah tidak mempan diperlakukan dengan cara halus. Kalau jengkel tinggal pisuhi saja.

Setengah heran setengah pengin ngakak saya jadi ingat cerita teman saya, seorang ning (putri kiai) di sebuah pondok pesantren di Mojokerto. Dia sering melihat kasus kesurupan santri dan biasanya dia misuh-misuh menyuruh jin itu untuk keluar. Sampai ada wali santri yang nggrundel, "Ning-ning kok misuhan." Saya ngakak dengan cara bertutur teman saya itu. Kata teman saya, jin-jin di pondok sudah pintar-pintar soal bacaan Quran, bahkan lebih pintar dari santri-santri situ. Kadang malah jin-jin itu ngece kalau makhraj dan tajwid kita salah. Cara mengeluarkannya sudah tidak hanya dengan cara dibacakan ayat suci, tapi dipisuhi saja.

Paginya saya diajak sarapan sebelum pulang ke Solo. Kesempatan untuk ngomel-ngomel. "Kamu ini lho kok betah banget tinggal di kos horor macam itu. Gek motivasimu ki apa ngono lho," kata saya dengan serius.

"Ya ampun. Pertanyaan kok bodoh banget. Ya jelas karena aku miskinlah. Kamu kan sudah tak kasih tahu betapa murahnya harga sewa kosku itu. Cenderung tidak wajar malah untuk harga sewa kamar di kota ini," dia menjawab dengan agak sewot.

"Iya ngerti. Tapi kan horor banget sih!" saya belum mau kalah

"Horor mana sama kondisi finansialku?" jawaban pamungkasnya ini membuat saya tidak berkutik.

Saya paham, UMR di kota dia tinggal memang terkenal rendahnya. Sudah begitu, biaya hidup semakin tinggi. Dia yang bekerja sebagai buruh pabrik sering mengeluhkan harga-harga yang semakin naik. Saya biasanya hanya mendengar. Kalau ikut protes, bisa-bisa saya ditanya KTP. Dia bilang, kondisi kepepet membuat dia berani menghadapi hantu-hantu dan segala keangkerannya itu, karena baginya hidupnya lebih angker daripada tempat kosnya yang sebelah kuburan itu. Daripada menumpang atau tidak terjangkau ongkos, lebih baik dia mencari kos yang murah meski angker.

Saya sebenarnya masih ingin menyela. Seingat saya, ada teman saya yang ngekos di Nologaten dan mengklaim bahwa tempat kosnya adalah kos termurah di Yogya. Memang fasilitas minim, tapi setidaknya bukan sarang hantu. Tapi setelah membandingkan, memang kos teman saya yang angker itu murahnya kebangetan.

Saya hampir lupa dengan episode paling legend dalam hidup teman saya saat kami masih berada di tingkat tiga bangku perkuliahan. Dulu saya dan teman-teman lain mengobrol tentang acara semacam uji nyali yang akan diadakan di salah satu tempat yang katanya angker di Solo. Yang punya acara tersebut sedang mencari talent untuk menjadi peserta. Tentu saja ada duitnya. Kami pun bercanda soal itu. Tapi teman saya tadi malah menanggapi dengan serius, "Cara ikutannya gimana ya? Aku pengin ikut."

Kami pun bengong. Pada akhirnya kami menemaninya mengikuti acara itu, dan dia berhasil melewati malam uji nyali tersebut dan tentu saja dia mendapatkan hadiah. Ketika ditanya motivasi ikut acara itu, dia menjawab bahwa butuh uang untuk membayar SPP. Ya, maklum saja, kampus kami salah satu kampus swasta mahal di kota Solo. Jadi soal kepepet butuh lalu menaklukkan rasa takut terhadap hantu, teman saya sudah berpengalaman.

Ngomong-ngomong, kalau saya perhatikan kok yang horor-horor begini seringnya ada ketidakadilan yang melatarbelakanginya ya, meski tidak selalu. Coba tonton film-film horor yang dibintangi Suzanna, seringnya ada kejahatan atau ketidakadilan sosial. Dari yang dirampok sampai diperkosa. Terus, perhatikan film Pengabdi Setan; tokoh ibu sampai mengadakan perjanjian dengan iblis agar punya anak. Pasti kan sebelumnya dia digunjing keluarga dan tetangga karena belum punya anak.

Tempat-tempat bekas pembantaian zaman geger dulu itu juga jadi seram seringnya. Saya tidak tahu kos teman saya kenapa menjadi angker. Yang jelas saya melihat ketidakadilan yang dirasakan teman saya soal upah yang ia terima. Begitu pun dengan teman-teman sekosnya yang bahkan upahnya di bawah UMR.

Saya jadi curiga, penghuni kos teman saya ini adalah orang-orang yang digaji Rp 4.000/jam seperti yang sedang ramai di Twitter akhir-akhir ini. Orang-orang yang tidak punya pilihan; jika mau sambat pasti akan dibuli. Gaji UMR saja harus ngirit sekali, bagaimana hidup dengan upah Rp 4.000/jam? Wajar sekali kalau siasat ngirit adalah ngekos di tempat horor.

Alih-alih rajin ikut demo buruh, teman saya lebih memilih berdamai dengan hantu-hantu. Setidaknya hantu-hantu itu hanya suka iseng menampakkan rupa dan suara, tidak sampai meneror ketika dirinya bersuara menuntut kenaikan upah.

Gondangrejo, 29 April 2021

Impian Nopitasari penulis cerita berbahasa Indonesia dan Jawa, tinggal di Solo

(mmu/mmu)