Kolom Ramadhan

Puasa dan Bulan Madu Kesunyian

Akhmad Faozi Sundoyo - detikNews
Jumat, 30 Apr 2021 15:00 WIB
Pemerintah telah menetapkan 1 Ramadhan 1442 Hijriah Selasa besok. Malam ini, Masjid Istiqlal menggelar salat tarawih berjamaah dengan kapasitas terbatas.
Foto ilustrasi: Grandyos Zafna
Jakarta -
Dari yang hilang selalu ada ruang kosong untuk diisi. Dari yang terisi, dipilahi lagi mana yang sungguh berarti. Sedemikian Ramadhan kali ini. Kehadirannya yang masih bersisian dengan pandemi membuat kita menelisik lebih 'ke dalam', mencari celah sekaligus memilah-milah 'isi' yang didapati dari puasa kita.

Tahun ini, berpuasa tidak serumit tahun kemarin. Ketakutan dan kekhawatiran akan Covid-19 tidak semencekam tahun lalu. Kendati senyatanya masih saja 'abu-abu' sejauh mana pandemi mesti diperlakukan.

Ada satu pepatah menarik dari Korea Selatan, "Seorang tukang kayu yang ditinggal pergi kekasihnya, masih harus melanjutkan kerjanya sebagai tukang kayu, menebang kayu, walau sembari digelayuti kesedihan." Seorang muslim pun semisal itu. Semencekam apa suasana, pandemi atau tidak, puasa adalah kewajiban baginya.

Puasa adalah satu bentuk praktik olah diri (tirakat) yang berusia purba, sebagaimana telah dulu-dulu dilakonkan oleh generasi lampau (QS.2: 183). Hampir di setiap agama, terdapat disiplin olah diri ini, yang bagi Islam diwakili oleh puasa dengan bulan Ramadhan sebagai mercusuarnya.

Dua Dimensi

Puasa di bulan Ramadhan memiliki dua dimensi penting. Yakni kehadirannya sebagai ruas sambung keimanan dari tradisi kepurbaan dan kekinian. Pada dimensi lain, puasa adalah ruang 'ultra-privat' yang menandai hubungan seorang beriman kepada Tuhan. Dua dimensi ini dapat dimaknai semacam dualitas: sosial dan personal.

Saya sendiri lebih nyaman memandang dimensi tersebut sebagai skala bentang pemaknaan. Bentangan pertama adalah cakrawala kebudayaan manusia. Orang-orang bijak (filsuf) kerap menyebutnya makrokosmos atau 'semesta di luar diri'. Pada bentangan lain, puasa adalah cakrawala pergulatan batin manusia yang personal, khas dan subtil. Bolehlah disebut mikrokosmos atau 'semesta di dalam diri'.

Bukan lagi perkara musykil, bila Ramadhan sangat berdampak pada geliat sosial. Terkhusus ketahanan dan peluang ekonomi. Berapa banyak penjual kolak dadakan bermunculan, di pinggir jalan dan di gang-gang? Atau penjual-penjual lain, kembang api misalnya. Semua muncul, berbaris-baris mengiringi datangnya Ramadhan.

Ramadhan tidak termungkiri, telah mapan sebagai tradisi. Ada ketersambungan, keberulangan pada puasa yang menjadikannya sebentuk 'tradisi'. Pengaruhnya masuk meresapi setiap ruas persendian sosial. Selama paling minim sebulan penuh, kita disuguhi life style religius. Walaupun setelah momen ini berlalu, kita pun sama mafhum, bahwa gaya hidup agamis tersebut akan ditanggalkan kembali. 'Yang suci-suci' menjadi tidak lagi diminati. "Kebanyakan orang sibuk meminati sisi luar kehidupan, dan mengabaikan perkara yang mendalam." (QS. 30: 7).

Satu-Satunya Ibadah

Di seberang lain, puasa adalah satu-satunya ibadah yang bersifat face to face dengan Tuhan. Tuhan sendiri yang memaklumatkan melalui satu hadis qudsi, "Semua pahala ibadah kembali kepada pengamalnya, kecuali puasa. Ibadah ini, khusus untuk-Ku."

Pada wilayah ini, puasa adalah sebentuk ibadah yang bersifat ultra-privat. Sebagai ibadah yang berdimensi ultra-privat, puasa adalah penanda hubungan intim seorang muslim kepada Allah. Merujuk kepada Imam Al Ghazali dalam al-Adabu fid Din, salah satu etika puasa mengharuskan berkonsentrasi hanya kepada Allah melalui pembersihan pikiran dan ketenangan batin. Masih pada rujukan yang sama, puasa sebaiknya dilakukan tanpa motivasi pamer (riya').

Boleh jadi sebagai tradisi, puasa Ramadhan yang terbatasi serentetan protokol sosial (pandemi), terasa kurang memuaskan. Tetapi justru di tengah batas-batas seremonial yang ditekan, mengemuka 'ruang sunyi' yang lebih lapang. Puasa menjadi lebih leluasa dihayati karena jarak kerumun yang terpangkas.

Ruang sunyi yang lebih longgar menjadikan orang yang sedang berpuasa memiliki peluang lebih besar untuk memberesi pikiran dan hatinya. Potensi untuk memamerkan kesalehan puasa juga ikut terbatasi. Ini kabar baik.
Saya melihat, Ramadhan adalah ruang hening yang menyembunyikan diri di balik keriuhan acara-acara "marhaban ya, Ramadhan". Di ruang ini, berhuni kekasih yang mengajak bertemu kekasihnya melalui undangan rahasia. Ia hanya rela ditemui sendiri. Tak masalah berapa lama, berapa sering, asalkan kekasihnya mau bernirmala dengan basuhan kesunyian terlebih dahulu, lestarilah bulan madu kesunyian mereka.

Tentu semua yang indah tidak mudah. Apalagi jika menyimak tren tipisnya kesetiaan di era sekarang yang cukup membiak. Apakah penantian kekasih di kesunyiaannya, akan abadi? Ataukah Ia bersua pasangannya segera, untuk mengisi sepanjang Ramadhan ini dengan indahnya bulan madu kesunyian? Sisa hari-hari dan malam-malam Ramadhan yang akan merekamnya. Dalam rekaman yang sekali lagi 'sunyi'.

(mmu/mmu)