Kolom

Geliat Positif di Balik Pamer Hampers

Ria Putri Palupijati - detikNews
Jumat, 30 Apr 2021 11:30 WIB
Sejak Kapan Saling Kirim Hampers Lebaran Jadi Tradisi?
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -
Ramadhan tiba dengan beragam bentuk perayaannya. Perayaan itu terlihat riuh di kalangan artis media sosial terkhusus Instagram, kemudian lebih dikenal dengan sebutan selebgram. Dapat kita amati dari beberapa media sosial para selebgram saling mengirimi hampers. Hampers merupakan sebutan untuk keranjang anyaman untuk mengangkut barang atau makanan. Berbeda definisi dari parcel yaitu sesuatu yang dikemas menggunakan kertas.

Hampers itu bermacam-macam, tapi yang belakangan menjadi viral yaitu keranjang anyaman tradisional dari bambu untuk membungkus barang atau makanan. Isi dari keranjang itu biasanya produk-produk olahan UMKM seperti makanan atau barang tradisional. Kiriman hamper bertujuan untuk promosi jualan para selebgram sekaligus sebagai bentuk jalinan silaturahmi.

Aksi saling mempertontonkan kiriman hampers pada masing-masing akun selebgram pun akan semakin ramai menjelang Hari Raya Idul Fitri. Memang, media sosial diciptakan salah satunya untuk ruang memamerkan sesuatu. Tapi bukan itu yang saya maksud; saya tidak akan mengomentari sisi pamer hampers tersebut. Sebaliknya, ada geliat positif di balik sisi pamer hampers.

Sebenarnya, aksi saling mengirim hampers ini ada dan mulai viral sejak pandemi Covid-19 melanda. Hampers ini berisi bisnis rumahan bisa berupa makanan atau barang yang tergolong dalam UMKM yang sangat terdampak pandemi. Tidak tinggal diam, para pelaku UMKM dengan sigap memproduksi beragam kreativitas hampers, salah satu yang kemudian menjadi viral bentuk yang sangat lokal dari anyaman bambu dan ramah lingkungan.

Bisa dikatakan pandemi meluluhlantakkan sektor perekonomian, khususnya makanan cepat saji skala global. Kita pasti ingat bagaimana perusahaan-perusahaan makanan besar sekaliber Pizza Hut, Burger King, KFC, Dunkin Donuts, McD harus berjuang di masa pandemi ini. Mereka rela membanting harga, membuat berbagai promosi, bahkan ada yang menjajakannya di jalanan agar terus bisa bertahan.

Di sisi lain, saat pandemi kita melihat bagaimana sektor UMKM mulai bangkit dengan kreativitasnya. Sistem komunal di Indonesia menjadi salah satu penggeraknya, semua saling bantu usaha kolega. Kepekaan untuk membeli hasil produksi sekitar, baik itu tetangga, saudara, atau teman yang sedang berjuang dalam menghadapi perekonomian terdampak pandemi. Kesadaran inilah yang kita dapatkan secara positif dari pandemi. Pandemi mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap sekitar.

Lebih dari itu, pandemi tidak hanya memberi kepekaan sosial tapi juga kepekaan kita terhadap potensi lokal. Kesadaran mengenai keunggulan pangan dan kreativitas lokal yang ada di sekitar kita. Ke mana saja kita sebelum pandemi? Apakah kita terlalu jauh memandang? Di mana kaki kita dipijakkan selama ini? Ataukah media sosial menjauhkan kita dari yang dekat dan mendekatkan kita dari yang jauh sehingga kita lupa mempunyai keunggulan atau potensi yang luar biasa pada tiap daerah?

***

Lalu, saya teringat ucapan dari Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara dalam buku Pendidikan, "Memang kita harus kembali beberapa puluh tahun, kita amat mengingini untuk menemukan 'titiktolak', agar kita berorientasi kembali, kita telah salah jalan." Ucapan pada tahun 1938 tampaknya memiliki kesamaan dengan realitas yang terjadi sekarang. Realitas yang menyadarkan akar kita sebenarnya dan kembali menemukan titik temu untuk menetapkan arah pertumbuhan kita.

Sadar atau tidak, kita telah lama merasakan kehampaan arah dan tujuan. Hampa karena kita tidak mengerti di mana akar kita berasal sehingga tidak mengerti titik pertumbuhan yang ingin kita capai, maknai, dan perjuangkan. Kita tidak benar-benar tahu pijakan dan ke arah mana kita akan bertumbuh.

Lalu di mana letak kesalahannya? Apakah selama ini sistem pendidikan nasional kita tidak mengajarkan pijakan dan ke arah mana yang akan kita tuju? Ataukah sudah diajarkan, namun terdapat beberapa kesalahan mendasar?

Kemudahan yang ditawarkan teknologi masa kini memang bagai dua sisi mata uang. Pada salah satu sisinya menawarkan kemudahan untuk belajar lebih banyak dan cepat. Tetapi, di sisi lain belajar tidak lagi dimaknai mendalam. Hal ini tidak terlepas dari sifat manusia zaman sekarang yang ingin serba praktis dan cepat. Dampaknya luar biasa, manusia menjadi tidak sadar dia ada di mana dan dari mana.

Tidak bisa dipungkiri, zaman yang semakin maju membuat kita bisa bergerak cepat dan mudah dalam mengakses informasi. Namun, sifat yang semakin cepat ini membuat manusia tidak mampu meraih makna dan berpikir kritis. Manusia seakan dipaksa untuk bergerak cepat, namun kosong dalam pemaknaan fenomena yang terjadi.

Semua fenomena yang terjadi ini, salah satunya disebabkan adanya jurang pemisah pengetahuan antara generasi hari ini dan generasi masa lalu. Diperlukan "jembatan" yang dapat menghubungkan kearifan masa lalu, sehingga dapat digunakan sebagai kekuatan di masa kini.

***

Memahami dari viralnya hampers yang berbentuk tradisional dan memperkenalkan produk UMKM di kalangan selebgram, seharusnya menjadi salah satu momentum kita untuk berbenah. Peran pendidikan untuk terus mengeksplor keungulan lokal dan komunalitas masyarakat Indonesia. Kesadaran pentingnya pendidikan kembali ke akar.

Akar masyarakat Indonesia yang komunal mempunyai keunggulan pangan dan kreativitas pada masing-masing budaya. Bagaimana menanamkan ini kepada anak-anak di tengah penyeragaman budaya global yang saat ini terjadi? Akankah kita menjadi bangsa yang terus mengejar peringkat, sesuai dengan standar yang ditentukan bangsa lain? Ataukah kita mempunyai arah dan tujuan sendiri yang kita tentukan dari akar kita berasal?

Jika nanti pandemi ini sudah mulai berangsur seperti sedia kala, apakah kita tetap akan menjadi manusia pengejar "dunia lain" atau kita semakin sadar pada "dunia kita berasal". Kesadaran untuk kita capai, maknai, dan perjuangkan akarnya.
Ria Putri Palupijati Center for Studies on Inclusive Education Sekolah Tumbuh

(mmu/mmu)