Kolom

Refleksi Pasca "Anomali" Bencana NTT

Jefrianus Kolimo - detikNews
Kamis, 29 Apr 2021 13:06 WIB
Atap SPBU roboh akibat badai Siklon tropis Seroja di Kota Kupang, NTT, Kamis (8/4/2021). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang mencatat sebanyak 1.264 rumah mengalami rusak berat, satu orang meninggal dunia dan tujuh orang luka berat dampak dari angin kencang pada Minggu (4/4). ANTARA FOTO/Kornellis Kaha/hp.
Pascabencana badai siklon tropis seroja di Kupang (Foto: Kornelis Kaha/Antara)
Jakarta -

Denyut bencana di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) seolah menyala secara bersahutan. Dimulai dari bencana non-alam berupa virus ASF yang menyebabkan banyak ternak mati secara tiba-tiba. Kemudian Covid-19 yang menyerang dan mematikan manusia. Belum juga usai penanggulangan dua bencana non-alam tersebut, badai seroja datang beriringan dengan menghadirkan bencana alam.

NTT seolah dikepung bencana. Tidak sedikit jumlah ternak yang mati, pergerakan manusia turut dibatasi, ribuan tempat tinggal rusak bahkan rubuh dihantam badai, ribuan hektar sawah rusak diterjang banjir, bahkan tidak sedikit yang kehilangan nyawa. Benar saja, NTT dalam kondisi darurat bencana. NTT seolah-olah sedang diuji melewati bencana di atas bencana.

Dari ketiga bencana tersebut, yang dirasakan paling meninggalkan luka adalah bencana alam sebagai akibat dari badai seroja. Tercatat 117 orang meninggal, 76 orang belum ditemukan, dan puluhan ribu rumah hingga infrastruktur publik rusak dihantam badai. Sebaran daerah yang terdampak pun tidak sedikit. Hampir semua kabupaten di NTT seperti Lembata, Flores Timur (Adonara), Alor, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Sumba Timur, Malaka, Ende, Rote Ndao, dan Sabu Raijua turut merasakan dahsyatnya terjangan badai seroja.

Kabupaten Lembata dan Adonara adalah daerah yang paling terdampak dengan mengalami kerusakan infrastruktur paling serius dan menelan korban jiwa paling banyak. Dahsyatnya badai seroja yang pergerakannya melewati NTT menimbulkan anomali. NTT yang selama ini dikenal lewat selentingan "sumber air sudah dekat" seolah menjadi sangat tidak relevan. Hampir di semua kabupaten di NTT, selentingan "sumber air sudah dekat" rasanya perlu dikoreksi menjadi "banjir bandang datang mendekat".

Bayangkan saja, daerah seperti di Kabupaten Sabu Raijua yang setiap tahunnya dianggap sebagai daerah kritis air bersih karena curah hujan yang rendah, tahun ini pun tidak luput diterjang banjir bandang. Dari catatan stasiun meteorologi Sabu, curah hujan per 4 April 2021 adalah 205 milimeter atau masuk dalam kategori curah hujan ekstrem. Padahal secara klimatologis, April pada sebagian daerah di NTT sudah masuk dalam musim kemarau ketika curah hujan sudah mulai berkurang.

Konsekuensi dari curah hujan yang ekstrem tersebut menyebabkan hampir semua bendungan yang ada di NTT seolah tidak sanggup lagi menampung air. Air meruah di mana-mana. Belasan ribu hektar lahan pertanian yang selama ini kesulitan air justru mengalami situasi yang paradoks. Tercatat sekitar 15.500 hektar lahan pertanian di 18 kabupaten/kota dari total 23 kabupaten di NTT rusak dan terancam gagal panen karena terendam banjir.

NTT yang selama ini terbiasa dengan kondisi lingkungan yang "kekurangan air" kelihatan tidak siap dengan perubahan cuaca yang ekstrem yang berakibat pada kondisi "kelebihan air".

Narasi Solusi

Sepekan setelah badai itu berlalu, bantuan berdatangan dan pembenahan kehidupan mulai dilakukan. Tentunya memberikan bantuan pada para korban dan membangun kembali daerah yang terdampak adalah prioritas pertama yang harus dilakukan. Beriringan dengan itu, beragam narasi solusi mulai digaungkan semisalnya program mitigasi bencana, membangun kerentanan sistemik, membangun wilayah tangkapan air (hutan), serta beradaptasi dengan alam.

Dari sekian banyak solusi tersebut, beradaptasi dengan alam agaknya lebih mudah untuk secepatnya diimplementasikan. Hal ini mengingat solusi yang lain masih membutuhkan anggaran negara yang tidak sedikit dan lobi-lobi politik yang implementasinya tidaklah sesederhana seperti yang dibayangkan.

Belajar dari bencana non-alam yaitu virus ASF dan Covid-19, tindakan manusia yang perlu dilakukan pada situasi bencana yang belum pasti ujungnya adalah dengan melakukan tindakan adaptif untuk melindungi diri. Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak adalah contoh rangkaian tindakan adaptif yang dilakukan manusia sebagai salah satu upaya melawan Covid-19.

Sehubungan dengan badai seroja yang menurut perkiraan adalah akibat dari perubahan iklim, beradaptasi dengan alam adalah cara yang paling sederhana yang mesti harus dilakukan. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, pada 1981 kejadian cuaca ekstrem di Indonesia hanya sekitar 10 kejadian, kemudian pada 2020 terdapat 40 kejadian cuaca ekstrem. Situasi ini mencerminkan bahwa ancaman bencana seperti banjir, banjir bandang, dan longsor sangat mungkin meningkat dari tahun ke tahun. Maka dari itu, berpijak dari catatan BMKG tersebut, beradaptasi dengan alam melalui pola tingkah laku sudah tidak boleh lagi ditunda.

Pola tingkah laku pemerintah dan masyarakat NTT selama ini hanya siap untuk situasi ekstrem kering. Misalnya tindakan adaptif dari pemerintah berupa pembangunan bendungan yang terjadi di hampir semua Kabupaten di NTT. Sedangkan pada situasi ekstrem basah kelihatannya kita belum mampu beradaptasi seperti halnya ekstrem kering.

Karenanya badai seroja yang sudah berlalu tidak saja meninggalkan duka tetapi juga meninggalkan pelajaran bahwa adaptasi dengan alam sebagai bagian dari menyongsong perubahan iklim sudah mesti sudah harus dilakukan. Adaptasi bisa dimulai dari perencanaan pembangunan tempat tinggal (rumah) dengan harus sudah memperhatikan jalur air agar pada situasi ekstrem basah maka fungsi air adalah untuk mendukung kehidupan dan bukan malah sebaliknya merusak kehidupan.

Ketinggian air maksimal yang tergenang pada ekstrem basah harus menjadi salah satu indikator pembangunan untuk menghindari terjadinya banjir. Selain jalur air, kemiringan tanah pada kondisi tertentu dapat menimbulkan terjadinya longsor menjadi daerah yang harus dihindari untuk ditempati menjadi hunian masyarakat.

Demikian pun halnya dengan pembangunan infrastruktur publik. Pembangunan sudah harus mengantisipasi perubahan iklim untuk 25 tahun hingga 50 tahun ke depan agar masa pakai infrastruktur bisa tahan bukan hanya terhadap cuaca ekstrem kering tetapi juga basah.

Pascabencana, NTT ibarat menekan tombol reset; harus memulai kembali pembangunan dari awal. Karenanya bencana yang terjadi di NTT tidak perlu terlalu lama diratapi. Badai itu sudah berlalu tetapi kehidupan masih terus berlanjut. NTT harus kuat melewati badai ini. Masa lalu biarlah menjadi pelajaran untuk berbenah. Ada masa depan lain yang perlu digapai provinsi ini. Marilah mulai beradaptasi dengan alam dan bergandengan tangan mengejar ketertinggalan.

Jefrianus Kolimo guru di Sabu Raijua, NTT

Tonton juga Video: Tanggap Darurat Bencana NTT Berlaku Hingga 5 Mei 2021

[Gambas:Video 20detik]




(mmu/mmu)