Kolom

Menjadikan Ramadhan Bulan Ketahanan Pangan

Moh Vicky Indra Pradicta - detikNews
Kamis, 29 Apr 2021 11:06 WIB
Umat Kristiani di Gereja Bukit Moria, Jakarta, bagikan takjil untuk warga sekitar. Pembagian takjil itu terapkan konsep drive thru untuk cegah penyebaran Corona
Berbagi takjil di bulan Ramadhan (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Saat perjalanan pulang dari kantor, saya melihat antrean panjang di salah satu jalan perumahan yang saya lewati. Bahkan antreannya sampai memakan separuh badan jalan. Ternyata orang-orang menunggu untuk mendapatkan giliran takjil.

Takjil yang disediakan pun beraneka ragam. Nasi kotak beserta lauk pauk, buah, dan segelas air mineral. Contoh satu set kategori makanan sehat dan bergizi.

Berbagi takjil seperti ini hanya bisa kita jumpai di bulan Ramadhan. Tidak ada di bulan lain, hanya satu-satunya selama bulan Ramadhan. Inilah salah satu nikmat berpuasa di bulan Ramadhan.

Saat ini puasa sudah berjalan, tetapi masih ada setengah bulan lagi. Jika kita memanfaatkan berbagi takjil ini di bulan-bulan lain, maka secara tidak langsung dapat terlibat dalam upaya penanganan isu terkait food security atau ketahanan pangan di Indonesia.

Ancaman

Secara definisi ketahanan pangan merupakan kondisi dimana setiap orang dapat memperoleh akses terhadap makanan bergizi setiap saat tanpa ada kesulitan secara finansial dan fisik. Singkatnya, ketahanan pangan terkait erat dalam empat pilar yakni availability, access, utilization, dan stability.

Di Indonesia, isu ketahanan pangan masih menjadi ancaman. Masyarakat yang masuk dalam kategori di bawah garis kemiskinan masih kesulitan dalam mendapatkan akses makanan yang sehat dan bergizi karena masalah ekonomi. Hal ini tentunya berdampak langsung pada kondisi anak-anak yang berakibat pada tumbuh kembang hingga malnutrisi.

Situasi ini tercermin dalam fenomena tengkes (stunting) yang masih sangat sulit diatasi. Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2019, angka prevalensi tengkes di Indonesia sebesar 27.67 persen. Meskipun mengalami penurunan dibandingkan dengan periode sebelumnya, total angka kasus tengkes ini masih jauh dari standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni 20 persen.

Selain itu, situasi pandemi saat ini juga memperlambat penanganan tengkes. Hal tersebut disebabkan pandemi berimbas langsung pada kondisi perekonomian masyarakat akibat penerapan pembatasan sosial. Alhasil, hal ini berdampak pada pemenuhan gizi dan menghambat tumbuh kembang anak. Selain itu, sekitar 86 persen program tengkes berhenti dan 60 persen posyandu setop beroperasi selama pandemi.

Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah telah meluncurkan beberapa program khusus kelompok keluarga kurang sejahtera. Adapun program tersebut antara lain bantuan pangan bagi rumah tangga miskin, Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Gizi Anak Sekolah (Progas).

Misalnya program PKH, ibu hamil dan balita yang termasuk dalam keluarga kurang mampu mendapatkan dana sosial sebesar 900 ribu per tiga bulan atau 4 juta setahun. Dana sosial tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi bagi ibu hamil dan balita. Intervensi sosial ini dilakukan agar dapat mencegah stunting sejak dini.

Lain halnya dengan bantuan pangan bergizi untuk anak-anak di sekolah, Progras dilakukan dengan cara pemberian sarapan bagi para peserta didik. Program ini bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi dan kebiasaan sarapan serta memberikan pendidikan karakter bagi siswa mengenai kebiasaan hidup bersih dan sehat.

Sayangnya program-program tersebut kurang berjalan efektif semenjak pandemi. Progras, misalnya, sudah tidak berjalan kembali ketika pembelajaran tatap muka diganti menjadi pembelajaran daring. Praktis, asupan gizi bagi anak-anak kurang diperhatikan.

Momentum

Ramadhan kali ini tentunya dapat dijadikan momentum untuk dapat berperan dalam peningkatan ketahanan pangan dan gizi anak. Bagaimana caranya? Caranya bisa dilakukan dengan mengajak keterlibatan masyarakat untuk menyediakan pangan yang bergizi pada saat takjil.

Pemerintah lokal dapat menggandeng pengurus-pengurus masjid dalam penyediaan makanan yang bernutrisi. Untuk tahap awal, pemerintah dapat memberikan sosialisasi mengenai pentingnya mengonsumsi makanan yang bergizi. Hal ini penting dilakukan agar meningkatkan kesadaran pangan yang baik bagi masyarakat.

Selain itu, monitoring penyediaan makanan takjil diupayakan agar memenuhi standar gizi. Setidaknya setiap makanan mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. Meskipun saat ini pemerintah melarang berbagi takjil karena potensi menimbulkan kerumunan, pengurus masjid dapat membagikan makanan takjil kepada keluarga kurang mampu di lingkungan sekitar.

Tentu pengurus masjid pastinya memiliki data yang lengkap mengenai hal ini jika dibandingkan dengan pemerintah. Apalagi jika setiap masjid mempunyai program anak asuh sehingga penyediaan makanan tersebut menjadi tepat sasaran.

Khusus untuk anak-anak usia sekolah, pemerintah dapat menjalankan Progras kembali. Tidak melalui tatap muka secara langsung tetapi dengan cara pengiriman bantuan makanan untuk berbuka puasa langsung ke rumah masing-masing.

Progras yang dilakukan sebelumnya untuk memastikan siswa-siswi sarapan dapat digeser menjadi saat berbuka puasa. Pemerintah bekerja sama dengan pengurus sekolah menjadi mesin penggerak untuk terlaksananya kembali program ini. Praktis, program gizi pangan bagi anak sekolah yang sebelumnya terhenti dapat berjalan kembali.

Jika kedua program dapat dilakukan selama 30 hari dan diperluas pelaksanaannya setelah Ramadhan, maka saya percaya bahwa upaya penanganan masalah ketahanan pangan dan gizi anak dapat membuahkan hasil ke depannya.

Moh Vicky Indra Pradicta dokter hewan pemerhati masalah pangan, bekerja di sektor food industry

Simak Video: Mentan soal Stok Pangan: Kita Masuki Momen-momen Panen Raya

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)