Kolom

Ramadhan dan "Food Waste"

Sahara - detikNews
Senin, 26 Apr 2021 14:21 WIB
Pasar takjil yang terletak di Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, selalu ramai saat menjelang buka buasa, Kamis (17/5/2018). Begini potret keramaiannya.
"Lapar mata" saat buka puasa (Foto ilustrasi: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Fenomena lapar mata kerap menimpa konsumen terutama di bulan Ramadhan ini. Di siang hari kita terkadang bingung menentukan makanan apa yang akan disantap ketika berbuka nanti mengingat semua makanan dan minuman seolah-seolah terlihat lezat dan layak disajikan sebagai menu buka puasa. Kondisi ini pada akhirnya mendorong konsumen untuk membeli atau memasak makanan yang beraneka ragam.

Mengingat kapasitas lambung yang terbatas, ketika berbuka puasa tidak semua makanan yang telah dibeli atau dimasak bisa dikonsumsi sehingga berakhir pada pembuangan makanan dan menyebabkan food waste semakin besar.

Food waste mengacu kepada kehilangan pangan yang terjadi di tingkat konsumen (restoran, catering, dan rumah tangga) dan konsep ini berbeda dengan food loss yaitu kehilangan pangan sebelum sampai ke tangan konsumen.

Dewasa ini fenomena food waste and loss menjadi perhatian baik di tingkat nasional maupun internasional. Berdasarkan data FAO, kurang lebih 1/3 dari pangan yang diproduksi terbuang percuma sehingga menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Sayur dan buah merupakan komoditas yang menempati urutan kehilangan tertinggi yaitu sebesar 45% dari total produksi atau setara dengan 6.3 triliun buah apel, disusul secara berturut-turut oleh komoditas ikan dan seafood (35% kehilangan atau setara 11 miliar ekor salmon), komoditas beras, gandum, dan jagung (30% kehilangan atau setara dengan 1.4 triliun kotak spageti), dan daging (20% kehilangan atau setara 75 juta ekor sapi).

Angka-angka kehilangan tersebut sangat ironis terutama jika dibandingkan dengan masih banyaknya penduduk di dunia yang mengalami kesulitan dalam mengakses pangan. FAO mencatat, ada sekitar 750 juta penduduk dunia yang masih mengalami kesulitan dalam mengakses pangan.

Belum lagi isu lingkungan yang ditimbulkan oleh food waste yaitu berupa peningkatan gas metana yang sangat berbahaya bagi atmosfer bumi. Oleh sebab itu, isu food loss and waste dimasukkan ke dalam Sustainable Development Goals (SDGs) 12 yaitu Responsible Consumption and Production.

Bagaimana dengan Indonesia? FAO mencatat, penduduk Indonesia membuang makanan sekitar 300 kg per kapita per tahun, suatu kondisi yang kontras dengan adanya sekitar 20 juta penduduk Indonesia yang masih kesulitan mengakses pangan dengan kualitas dan kuantitas yang mencukupi.

Di tengah wabah korona yang masih melanda dunia diperkirakan akan semakin banyak penduduk yang kesulitan mendapatkan bahan pangan mengingat tingginya angka PHK dan rendahnya pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu upaya pengurangan food waste perlu dilakukan.

Momentum pengurangan food waste menjadi sangat tepat dilakukan terutama di bulan Ramadhan. Seperti yang telah diuraikan pada bagian awal, fenomena kehilangan pangan yang besar di tingkat konsumen terutama terjadi di bulan Ramadhan.

Beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan oleh konsumen untuk mengurangi food waste adalah merencanakan menu sahur dan berbuka (misalnya selama seminggu), kemudian membuat daftar belanja berdasarkan menu yang telah dibuat tersebut.

Ketika berbelanja, patuhilah daftar belanja yang telah dibuat tersebut. Jika kita membeli bahan makanan di luar daftar belanja tersebut, kemungkinan bahan tersebut tidak terpakai sangat besar dan berujung pada food waste.

Susun hasil belanjaan tersebut di lemari penyimpanan berdasarkan prinsip first in first out. Simpan bahan makanan tersebut dalam kemasan dan container kecil sehingga ketika dikeluarkan untuk diolah langsung bisa dihabiskan.

Siapkan bahan makanan untuk berbuka puasa dan sahur sesuai menu harian yang telah disusun sebelumnya. Ambillah makanan untuk dikonsumsi sesuai kebutuhan dan hindari menyisakan makanan di dalam piring.

Jika masih menyisakan makanan di meja makan, simpanlah makanan tersebut di kulkas atau berikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan, misalnya asisten rumah tangga, tukang sayur keliling, atau satpam. Memberikan makanan kepada pihak lain sangat relevan dengan semangat berbagi di bulan Ramadhan ini.

Melalui upaya-upaya sederhana tersebut angka food waste di tingkat rumah tangga dapat dikurangi. Kata kuncinya adalah bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ketika lapar mata, keinginan konsumen untuk mengkonsumsi beragam menu di saat berbuka puasa sangat tinggi. Memikirkan menu berbuka di siang hari bagaikan mendengar soundtrack film kartun Doraemon: ingin ini, ingin itu, banyak sekali.

Faktanya, kebutuhan konsumen tidaklah setinggi keinginannya. BPS mencatat kebutuhan kalori minimum per orang untuk melaksanakan kebutuhan sehari-hari hanya sebesar 2100. Jadi kebutuhan makan untuk berbuka dan sahur tidaklah sebesar seperti yang kita bayangkan di siang hari.

Sahara Ketua Departemen Ilmu Ekonomi FEM-IPB dan Associate Professor Adelaide University

(mmu/mmu)