Kolom

Ramadhan dan Penguatan Kesehatan Mental

Fajar Ruddin - detikNews
Senin, 26 Apr 2021 11:21 WIB
Berburu Takjil Enak di Pamulang, di Sini Tempatnya
Menyambut Ramadhan dengan sukacita (Foto: Zahrah Zayyan Layalia)
Jakarta -

"Ayam habis, Yah" keluh istri saya. "Sudah dicari ke mana-mana kosong semua." Keluhan itu dia sampaikan sehari sebelum Ramadhan. Sebagaimana keluarga lain, keluarga kami pun ingin menyambut sahur pertama dengan hidangan yang spesial. Berharap dengan begitu menambah semangat puasa kami.

Tapi seperti yang sudah-sudah, beberapa kebutuhan pokok menjelang Ramadhan dan Idul Fitri selalu langka. Wajar, karena yang menyajikan hidangan spesial di momen tersebut bukan hanya keluarga kami. Mayoritas umat muslim melakukannya sebagai bentuk unjuk kegembiraan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memang menganjurkan umat muslim agar berbembira menyambut bulan puasa karena ada begitu banyak kebaikan di dalamnya. Potensi amal baik meningkat karena ganjaran pahala yang dilipatgandakan. Sebaliknya, potensi perbuatan dosa menurun seiring dibelenggunya setan.

Bagi dunia yang sudah dilanda pandemi lebih dari setahun ini, kegembiraan yang mengiringi Ramadhan amat mencerahkan. Bulan mulia ini dapat menjadi jeda yang begitu berharga untuk merestorasi kesehatan mental kita yang babak belur dihajar pandemi.

Mungkin kata "babak belur" dirasa begitu berlebihan bagi sebagian orang. Tapi merujuk pada fakta yang muncul, ancaman Covid-19 terhadap kesehatan mental nyatanya memang tidak bisa diremehkan.

Penelitian terbaru oleh Taquet, dkk (2021) yang dipublikasikan di Lancet Psychiatry melaporkan bahwa satu dari tiga penyintas Covid-19 didiagnosis dengan masalah mental dan neurologis enam bulan setelah terinfeksi. Di antara kondisi kejiwaan yang paling banyak mengintai adalah gangguan cemas (17 persen) dan gangguan mood (14 persen).

Selain itu, laporan Barcelona Institute for Global Health (ISGlobal) awal April 2021 menyebutkan bahwa masalah kesehatan mental yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 akan menjadi pandemi berikutnya. Akan ada peningkatan biaya ekonomi global satu triliun dolar AS setahun yang berkaitan dengan masalah kesehatan mental.

Sejak awal, Covid-19 memang diprediksi tidak hanya menyerang fisik. Stres, depresi, kesepian dan isolasi, kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai adalah rangkaian serangan mental yang menyertai pandemi ini. Tetapi, kesehatan mental yang merupakan perkara intangible membuatnya tidak begitu dipedulikan. Hingga kita tak sadar bahwa kondisinya sudah memprihatinkan.

Ramadhan menjadi momen yang sangat tepat untuk memperbaiki kondisi semrawut tersebut karena di bulan mulia ini manusia terkondisikan untuk semakin dekat dengan Penciptanya. Puasa, salat tarawih, tadarus Al-Quran, hingga zakat adalah rangkaian ibadah yang dapat membuat manusia sejahtera psikologis.

Di bulan ini, kita akan semakin sering mendengar kultum (kuliah tujuh menit) yang biasa disampaikan para penceramah menjelang berbuka dan salat tarawih. Terkait hal ini, Ali (2016) dalam Journal of Muslim Mental Health meyakini bahwa kalangan akademisi, klinisi, dan agamawan dapat berkolaborasi mengingat pentingnya peran para agamawan bagi kesehatan mental masyarakat.

Selain melalui ibadah, proses penguatan kesehatan mental selama Ramadhan juga terwujud dalam berbagai aktivitas dan tradisi yang menyertainya. Sukacita menyambut kedatangan bulan suci dengan menyiapkan hidangan spesial seperti yang dituliskan di atas menjadi salah satu contohnya.

Bagi anak-anak, Ramadhan adalah waktu intensif untuk bergerak aktif (sebagai penghalusan kata 'bermain') dan bersosialisasi. Malam hari, terutama ketika tarawih, biasanya anak menjadi begitu energik. Seperti gawai yang baru diisi dayanya, anak-anak belingsatan ke sana kemari ketika orang dewasa berusaha khusyuk dalam tarawihnya. Hal ini merupakan terapi tersendiri bagi anak-anak yang belakangan dilanda kejenuhan karena harus memelototi layar HP untuk belajar daring setiap harinya.

Bagi orang dewasa, bulan puasa adalah bulan bonus. Biasanya ada Tunjangan Hari Raya (THR) yang mereka terima di akhir bulan, baik berupa uang maupun makanan. Pun kalau tidak memiliki pekerjaan, masih ada zakat yang berhak mereka terima. Yang demikian setidaknya cukup membantu mengendurkan himpitan ekonomi.

Di samping itu, Ramadhan juga mempererat ikatan antaranggota keluarga. Momen makan sahur, buka puasa, hingga salat tarawih bersama membuat kelekatan di antara anggota keluarga bertambah kuat. Momen-momen tersebut membuat kita semakin sadar bahwa ada orang-orang yang menyayangi kita dan bersedia membersamai kita menjalani hidup.

Belum lagi kalau kita pulang ke kampung halaman untuk bertemu orangtua dan keluarga besar. Luapan kasih sayang orangtua menjadi terapi natural untuk menghadapi berbagai permasalahan psikologi yang disebutkan di atas.

Terapi yang sama juga berlaku bagi orangtua kita sendiri yang kerap dilanda kesepian karena jauh dari anak dan cucunya. Walaupun mudik tahun ini kembali dilarang, tapi terapi natural tersebut setidaknya tetap dapat dilaksanakan melalui video call.

Hebatnya, rupa-rupa sukacita yang saya sebutkan tadi tidak hanya dirasakan oleh umat muslim saja, tapi juga umat yang berlainan agama. Karena sekali lagi Ramadhan di Indonesia memuat tradisi yang tidak dibatasi oleh keyakinan transendental. Lebih dari itu, ada tradisi penyerta yang melekat di masyarakat seperti pulang kampung, liburan, THR, dan sebagainya.

Kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Oleh karena itu, di bulan yang penuh berkah ini, mari kita isi perbekalan mental kita sebanyak-banyaknya. Semoga dengan begitu kita tidak limbung akibat guncangan corona.

Fajar Ruddin, M.Sc akademisi psikologi klinis

(mmu/mmu)