Kolom

Refleksi Strategis KRI Nanggala-402

Jannus TH Siahaan - detikNews
Minggu, 25 Apr 2021 19:07 WIB
Kapal selam RI dikabarkan hilang kontak di perairan utara Bali. Kapal selam yang hilang itu adalah kapal selam TNI AL KRI Nanggala-402. Seperti apa potretnya?
KRI Nanggala-402 / Foto: ANTARA FOTO/Syaiful Arif.
Jakarta -

Musibah yang menimpa Kapal Selam KRI Nanggala-402 adalah musibah nasional yang mendapat perhatian secara internasional. Hampir semua media arus utama dunia ikut memberitakan apa yang dialami oleh salah satu kapal selam kebanggaan Indonesia itu. Walhasil, simpati dan bantuan dari berbagai negara pun dengan cepat mengalir ke tanah air. Sementara di sisi lain, secara terselubung juga mencuatkan kekhawatiran kita tentang apa tanggapan dunia atas sistem pertahanan laut nasional Indonesia. Setidaknya, disadari atau tidak, peristiwa ini akan mengekspos kondisi dan fakta pertahanan laut Indonesia ke level Internasional

Terlepas dari apapun sebabnya, bagaimanapun, apa yang dialami oleh KRI Nanggala-402 sudah seharusnya menjadi isu strategis bagi Indonesia, yang sepatutnya ditanggapi secara strategis pula. Apalagi pemberitaannya sudah massif secara internasional. Untuk itu, jika diperlukan, tidak hanya kementerian luar negeri dan kementerian pertahanan yang ikut memberi pernyataan pendukung, tapi juga istana, sebagai tanda bahwa kepemimpinan nasional stand-up dan berkepentingan dengan musibah yang dialami oleh kapal selam Indonesia, mengingat strategisnya isu yang disertainya, yakni isu pertahanan nasional.

Sebagai pembanding, kita bisa melihat bagaimana Iran dalam menanggapi peristiwa kecelakaan yang terjadi pada sumber energi reaktor nuklir Iran di Natanz baru-baru ini. Supreme Leader Iran, Ayatolllah Ali Khamenei, dan Menteri Luar Negeri Iran langsung stand up di hadapan media-media internasional untuk memberikan konfirmasi dan tanggapan. Konteksnya memang berbeda, karena faktor geopolitik yang juga berbeda antara Iran dan Indonesia.

Tapi yang harus dilihat adalah logika reaksinya bahwa jika sudah terkait dengan isu kepentingan strategis dan pertahanan nasional yang sudah terlanjur menjadi konsumsi masyarakat global, maka yang turun untuk memberikan konfirmasi dan komentar sebaiknya adalah figur-figur puncak kepemimpinan nasional, untuk memberi sinyal bahwa Indonesia memang sangat serius dan fokus pada peristiwa yang dialami Kapal Selam KRI Nanggala-402.

Mengapa? Karena dengan demikian, peristiwa ini akan menjadi justifikasi strategis yang masuk akal untuk melakukan pembenahan sistem pertahanan laut Indonesia secara komprehensif ke depannya, alias bukan hanya dianggap sebagai persoalan teknis yang akhirnya menyalahkan salah satu figur, semisal Kepala Staf Angkatan Laut, lalu isu berlalu begitu saja tanpa ada pembenahan secara strategis. Dengan kata lain, jika peristiwa ini memang merupakan persoalan penting nasional dan ditanggapi secara serius oleh kepemimpinan nasional, maka langkah pembenahan ke depannya akan semakin mudah, karena perintah datang langsung dari panglima tertinggi nasional.

Misalnya pembenahan masalah integrasi sistem informasi alusista, mulai dari informasi umum berkala yang dikelola secara profesional sampai pada analisis informasi untuk mendapatkan preemptive indication atas proyeksi penggunaan alusista. Dengan begitu, bisa didapat informasi akhir yang dihasilkan dari kerja sistem informasi yang akurat dan terpercaya.

Apalagi, jika mengacu pada jadwal maintenance KRI Nanggala-402 yang terakhir dilakukan tahun 2012 d Korea. Pertama, boleh jadi KRI Nanggala terawat dengan baik di Indonesia, sehingga dianggap belum perlu untuk dikirim kembali ke Korea, meskipun sudah 8 tahun belum melakukan perawatan. Kedua, boleh jadi juga memang para pihak tak terlalu memperhatikan jadwal perawatan ini, yang nyatanya sejak 2012 belum lagi dilakukan perawatan dan upgrade ke Korea. Jadi tak menutup kemungkinan informasi-informasi semacam ini tak terintegrasi dan teranalisis dengan baik sehingga tak menjadi acuan dalam pengambilan keputusan strategis di level atas (preempitive indication).

Lantas mengapa peristiwa ini layak dianggap sebagai isu strategis nasional, sehingga harus ditanggapi secara serius oleh panglima tertinggi? Karena Indonesia adalah negara maritim, yang mau tak mau, bertumpu kepada ketangguhan dan kemumpunian sistem pertahanan laut dalam menjaga kepentingan nasional dari berbagai macam ancaman eksternal dan internal.

Namun kemudian fakta pertahanan laut kita tiba-tiba dihiasi oleh peristiwa yang terjadi pada Kapal Selam KRI Nanggala - 402. Karena itulah mengapa panglima tertinggi semestinya stand up dan memberikan jaminan kepada publik bahwa peristiwa ini akan menjadi bahan koreksi menyeluruh pada sistem pertahanan laut nasional, untuk membangun sistem pertahanan laut yang lebih mumpuni ke depannya, yang juga akan disegani oleh semua negara di dunia. Karena bagaimanapun,pernyataan dari panglima tertinggi akan menjadi garansi bagi para pihak di dalam jajaran sistem pertahanan laut nasional untuk segera berbenah dan mengajukan berbagai rencana perbaikan/ pembenahan kepada pemerintah dan parlemen.

Sayangnya, meskipun pemberitaan soal KRI Nanggala-402 sudah mendunia, pihak istana, kementerian pertahanan, dan kementerian luar negeri, justru terkesan memilih bungkam. Kesan yang muncul di tataran internasional bahwa peristiwa ini bukanlah hal yang penting dan strategis bagi pemerintahan Indonesia saat ini, sehingga tak muncul satu kata pun dari panglima tertinggi soal bagaimana rencana pembenahan ke depannya, agar kredibilitas sistem pertahanan kelautan Indonesia tak serta merta ambruk di mata dunia.

Padahal, Indonesia telah terlanjur memiliki reputasi sistem pertahanan laut di Asia tenggara sejak lama. Indonesia menjadi negara Asia Tenggara pertama yang mengoperasikan kapal selam dengan dua kapal selam Whiskey yang dibeli dari Uni Soviet melalui Polandia pada 1959, RI Tjakra (S-01) dan RI Nanggala (S-02). Baru tahun 1962 sepuluh kapal selam kelas Whiskey menyusul seiring modernisasi TNI AL sepanjang kurun waktu 1950-1960-an.

Jadi KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402 adalah dua kapal selam pengganti kapal selam kelas Whiskey buatan Uni Soviet, yaitu RI Tjakra SS-01 dan RI Nanggala SS-02, yang sudah dipensiunkan. Kedua kapal selam baru merupakan Tipe U-209/1300 kelas Cakra buatan Jerman Barat. Kapal itu dipesan pada tahun 1977, melalui Tim Proyek Pengadaan Kapal (Yekdakap) yang dipimpin langsung oleh Laksamana Pertama TNI Mochtar.

Pembuatan kapal dimulai Maret 1978. Dikutip dari Deutsche Welle, pembuatan kapal selam itu sempat tersendat, karena perusahaan Howaldt Deutsche Werke mengalami kesulitan keuangan. Lalu pengerjaan proyek diambil alih dua perusahaan kakap Thyssen dan Krupp yang merger menjadi Thyssenkrupp.

Akhirnya, kapal selam selesai diproduksi dan diserahkan kepada pemerintah Indonesia pada 6 Juli 1981. Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata, Jenderal TNI Andi Mohammad Jusuf Armin (M Jusuf) meresmikan dan memberikan nama KRI Nanggala-402 di Dermaga Ujung, Surabaya, Jawa Timur, pada 21 Oktober 1981. Sementara KRI Cakra-401 sudah terlebih dahulu diresmikan satu tahun sebelumnya.

Kemudian, yang tak kalah penting juga diingat adalah bahwa musibah yang dialami KRI Nanggala 402 semestinya mempertebal kesadaran kita pada signifikansi rotasi jabatan panglima TNI untuk ketiga angkatan. Pemerataan anggaran belanja pertahanan di ketiga angkatan, termasuk belanja alusista dan perawatannya, hanya mungkin terjadi jika ada rotasi secara adil jabatan panglima TNI di antara ketiga angkatan.

Dengan demikian, ada jaminan keberpihakan kepada setiap angkatan dalam berbagai hal karena ada kepastian pemerataan dalam rotasi jabatan panglima TNI. Sayangnya, rotasi ini mulai terganggu di saat Moeldoko digantikan oleh Gatot Nurmantyo yang sesama angkatan darat. Untuk itu, selain perhatian soal anggaran dan pembenahan sistemik di sektor pertahanan laut, kepastian soal rotasi jabatan yang memberi rasa adil bagi ketiga angkatan juga sangat perlu dikedepankan. Artinya, setelah masa jabatan Hadi Tjahjanto yang berasal dari angkatan udara selesai, semestinya Jokowi sebagai panglima tertinggi dengan sadar dan adil mengalirkan ke angkatan laut.

Akhirnya, 53 putra terbaik bangsa awak KRI Nanggala-402, kalian adalah patriot sejati bangsa ini yang pengabdiannya akan selalu dihati dan pikiran saya sebagai salah satu warga bangsa ini.

"Of all the branches of men in the forces there is none which shows more devotion and faces grimmer perils than the submariners."(Sir Winston Churchill)

Jannus TH Siahaan, Pengamat Pertahanan dan Keamanan

(imk/imk)