Jeda

Kenangan yang Menyelamatkan

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 25 Apr 2021 10:15 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Saya sedang sibuk mencari kursi KRL yang masih bisa diduduki ketika mata saya menangkap sesosok perempuan yang mirip dengan kakak teman saya. Karena memakai masker dan saya tidak yakin, saya tidak berani menyapa. Akhirnya saya menemukan tempat duduk dan mulai menyenderkan kepala sambil mengingat-ingat kisah kakak teman saya. Seorang perempuan yang ditinggal suaminya pergi ke Suriah dan tidak jelas kabarnya sampai sekarang. Kakak teman saya sempat depresi sampai pindah ke rumah teman saya karena tidak tahan dengan cap istri teroris. Padahal ia hanya ditinggalkan begitu saja tanpa dinafkahi selama 5 tahun.

Saya jadi ingat dengan liputan teman saya di sebuah koran luar negeri. Liputan tersebut menceritakan tentang seorang pemilik kedai kopi di Yogya, yang tidak hanya mendirikan tempat ngopi, tapi juga sebagai tempat edukasi untuk generasi muda agar tidak menjadi ekstremis. Hal yang melatarbelakangi tersebut karena pemilik kedai punya pengalaman pahit. Adik laki-lakinya tewas menjadi martir ISIS di Suriah dalam aksi bom bunuh diri, Februari 2014 ketika umurnya baru menginjak 19 tahun.

Mencegah orang bersikap "radikal kebangetan" memang efektif dengan cara-cara menyenangkan seperti ngopi dan ngobrol bersama teman-teman. Di Sukoharjo setahu saya juga ada warung soto milik mantan seorang narapidana teroris (napiter). Meski rasa sotonya tidak ada yang khusus menurut saya, tapi saya paham pesan yang ditujukan kepada masyarakat bahwa deradikalisasi bisa dilakukan melalui pendekatan kuliner. Daripada meracik bom lebih baik meracik soto. Daripada meneror orang dengan bom, lebih baik meneror orang dengan rasa soto yang enak.

Beberapa saat lalu ada cuitan di Twitter yang direspons banyak orang, termasuk saya. Begini bunyi cuitan tersebut, "Sebutkan alasan kenapa kalian sulit direkrut teroris?" Kebanyakan balasan tweet tersebut bernada guyon. Saya sebenarnya bisa juga melakukan hal tersebut, tapi entah kenapa saya memilih membalas dengan serius. Begini balasan saya, "Sudah pernah kena paham ginian dan nggak asik banget. Jadi sudah imun karena penyintas paham takfiri."

Ternyata balasan saya tersebut dibalas lagi oleh seorang teman saya. Katanya, "Tos! Saya nyaris tersesat dalam kebodohan dan eksklusivisme ekstrem kanan pula. Kini ya bisa paham Mbak Z nekat gitu, ya karena sangat bodoh sih.".Memang waktu itu sedang ramai membahas tentang penyerangan Mabes Polri oleh seorang perempuan muda.

Saya sedih melihat video penyerangan dan surat yang ditinggalkan pelaku ke keluarganya. Saya pernah mengalami hal tersebut meski tidak sampai fatal. Saya sudah mengalami fase menyalahkan orang-orang yang tidak sepemahaman dengan saya. Semua yang tidak sama saya anggap bid'ah dan kafir.

Dulu saya semangat sekali menulis selebaran berisi ajakan jihad (dalam konteks negatif tentunya) yang saya bagi-bagi di masjid sebelum Salat Jumat. Ada penyesalan sekarang karena saya anggap itu dosa jariyah yang paling tidak termaafkan. Apakah sampai sekarang ada orang yang terpengaruh oleh tulisan saya waktu itu? Meski tidak menulis dengan nama asli, rasa bersalah itu kadang-kadang masih muncul. Betapa bodohnya saya waktu itu!

Teman-teman yang lama mengenal saya sebenarnya heran kepada saya karena saya dari kecil sudah ngaji. Seharusnya tidak menjadi orang yang kagetan. Tapi ya, begitulah, ternyata pengaruh doktrin yang saya terima dari beberapa orang waktu itu memang kuat. Segala omongan teman saya tidak ada yang masuk.

Justru titik balik saya adalah ketika perjalanan pulang dengan naik bus. Seperti biasa, di dalam bus yang saya naiki pasti banyak pengamen jilid 1-100 yang lewat, ditambah pedagang asongan yang juga hilir mudik menawarkan dagangannya. Bukan pemandangan yang aneh sebenarnya. Tapi hari itu hari yang beda bagi perjalanan hidup saya. Dahi saya mengerut ketika mendengar mas-mas pengamen yang biasanya menyanyi lagu dangdut waktu itu malah salawatan.

Ia menyenandungkan salawat asyghil dengan merdu. Tiba-tiba saya tertegun dan menitikkan air mata bahkan ketika ia selesai dengan genjrengan-nya dan memutar kantong permen untuk meminta uang dari penumpang. Alunan salawatnya membawa saya pada ingatan masa kecil dulu di kampung.

Dulu saya sering ikut bapak dan ibu ke sawah ketika panen kapas telah usai. Ketika tanaman kapas itu sudah tidak produktif berbuah dan mekar, maka kami akan mencabut, mengumpulkan, menunggu kering, lalu dibakar. Biasanya ketika membakar tanaman kapas itu bertepatan dengan waktu asar tiba, ditandai dengan berkumandangnya azan dilanjut pujian. Ada satu muazin yang gemar sekali menyenandungkan salawat asyghil dengan merdu setelah azan asar.

Waktu itu saatnya saya pulang duluan untuk segera mandi dan berangkat ngaji Quran. Saya pulang ketika suara rekaman tarhim Syekh Mahmoud Khalil Al-Hussary diputar di masjid. Tarhim juga pertanda ibu-ibu akan keluar mencari anaknya karena tidak segera pulang untuk mandi. Sekarang kalau lewat kantor rekaman Lokananta di Solo, saya selalu ingat almarhum Syekh Mahmoud yang merekam suara tarhim merdunya di situ. Selain salawat asyghil dari muazin kampung saya, suara tarhim Syekh Mahmoud tidak pernah gagal membuat saya menangis.

Ternyata tidak cukup dengan mas-mas pengamen tadi. Seorang pedagang asongan menawarkan kepada penumpang rupa-rupa buku sejenis RPUL dan resep memasak. Dalam tumpukan tersebut ada juz amma. Betapa juz amma tersebut sanggup membawa saya kembali ke masa kecil lagi. Masa-masa ngaji di madrasah maknani kitab dengan aksara Arab pegon miring-miring. Kami ngaji setelah magrib dan berakhir ketika azan isya berkumandang.

Rumah saya dekat dengan masjid dan madrasah tempat kami mengaji. Sebelum guru kami datang, biasanya anak-anak ngaji itu berkumpul di rumah saya untuk menonton Power Ranger atau Beetleborg. Kadang kalau ada yang bandel, mereka bersembunyi dalam tumpukan karung-karung berisi panenan kapas yang dikumpulkan di rumah saya. Maklum, bapak saya ketua kelompok petani kapas di desa kami.

Saya juga pernah mengalami momen dilematis ketika harus memilih menonton episode terakhir Power Ranger in Space atau berangkat setoran syi'ir Kitab Mawar Putih. Akhirnya saya tidak menonton sampai akhir dan telat berangkat ngaji. Saya dihukum mengisi bak wudhu masjid sambil terus menyesali tidak mengetahui nasib Andros si ranger merah dan Astronema, musuhnya, yang ternyata adalah adik kandungnya sendiri.

Di kampung saya mengaji memang sudah menjadi kultur. Mau seabangan apapun, mau orangtuanya bandar togel atau PSK, mereka tetap menyuruh anaknya ngaji. Karena kalau sampai tidak bisa membaca Iqra atau turutan, alamat bakal dibuli teman-teman sepermainan. Tidak harus fasih membaca Al Quran, asal tidak buta huruf saja sudah mendapat tiket pergaulan. Kan tidak lucu, kami sering ledek-ledekan dengan menggunakan aksara pegon, eh yang diledek tidak paham.

Juz amma tadi mengingatkan saya kepada guru ngaji di madrasah tempat saya mengaji. Saya mengumpulkan uang saku recehan untuk saya belikan kitab. Saya tidak puas kalau hanya meminjam atau barengan dengan teman. Lebih enak punya kitab sendiri. Saya malu-malu mendekat kepada guru ngaji dan menyerahkan sekresek uang receh. "Nyuwun tulung pundhutke kitab, Kang," kata saya waktu itu.

Saya minta tolong guru ngaji saya untuk membelikan beberapa kitab seperti Mawar Putih, Tukhfatul Athfal, Jurumiyah, dan lain-lain. Ia menerima uang dari saya dan benar-benar membelikan saya kitab dengan naik sepeda onthel ke kota kecamatan. Meski banyak yang bilang ia galak, tapi keikhlasannya membelikan kitab untuk muridnya dengan naik sepeda dan tetap memakai sarung dan berpeci susah hilang dari ingatan anak kecil macam saya.

Ia juga ah di kemudian hari yang menghadiahi saya Kitab Aqidatul Awwam karena nilai imtihan saya paling bagus di antara teman-teman lain. Ia juga yang menjelaskan kepada saya arti "paskah" yang saya dengar dari televisi. Tentu saja dengan tetap meyakini bahwa Isa AS adalah nabi Allah tanpa menjelek-jelekkan keyakinan umat Kristiani.

Hal yang membuat saya sedih ketika acara pekan suci paskah tahun ini harus dinodai dengan aksi terorisme yang mengatasnamakan agama yang saya anut. Saya mungkin bisa berempati kepada mereka yang merasa was-was beribadah di tempat ibadah mereka sendiri, tapi tetap saja hanya empati, tidak bisa merasakan sendiri.

Seorang teman yang juga menjadi anggota Banser pernah curhat ketika fotonya menjaga gereja dengan Pemuda Katolik banyak dipuji sebagai foto yang indah. Katanya, "Meski kami selalu siap menjaga gereja, tapi kalau dipikir-pikir, seharusnya kan kami tidak perlu di sana ya? Seharusnya mereka bisa beribadah tanpa harus dijaga. Seperti kita yang bisa masuk masjid tanpa merasa tidak aman."

Karena dalam ingatan saya, guru ngaji saya yang hanya kiai kampung itu tidak pernah mengajarkan kami untuk mengebom, bahkan memberi pengertian paskah saja dengan cara yang baik. Bagaimana saya di waktu kemudian bisa menjadi seseorang yang berpaham keras karena termakan omongan orang-orang yang bahkan sebenarnya tidak peduli dengan hidup saya.

Saya yang waktu itu masih di bus benar-benar tidak kuasa menahan tangis karena merasa keminter dan berdosa kepada guru ngaji saya yang sudah lama tidak saya sowani. Padahal sudah diceramahi orang-orang pintar, tapi tidak ngefek. Betapa omongan teman-teman saya tidak sanggup menyadarkan saya, malah pengamen dan pedagang asongan yang sanggup membuat saya meleleh. Gusti Allah paham di mana titik lemah saya: ingatan dan kenangan.

Gondangrejo, 23 April 2021

Impian Nopitasari penulis cerita berbahasa Indonesia dan Jawa, tinggal di Solo

(mmu/mmu)