Kolom Ramadhan

Meraih Prestasi Sejati Bulan Suci

Muhammad Radhi Mafazi - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 15:29 WIB
Umat Islam telah melakukan salat tarawih pertama bulan Ramadhan pada Senin (12/4) malam. Begini potret salat tarawih pertama di sejumlah daerah di Indonesia.
Foto: Antara Foto
Jakarta -

Ramadhan kedua kalinya di tengah pandemi kali ini, saya dibikin pusing bukan hanya karena pandemi, tetapi akibat perbedaan budaya di tanah rantau. Kalau bahasa ilmiahnya culture shock.Biasanya dialami oleh manusia yang baru saja pindah antar tempat dengan budaya yang berbeda.

Kali ini culture shock yang saya rasakan datangnya menahun, hanya saat Ramadhan. Terpancing kembali saat melihat status Whatsapp teman sejawat yang berada di bagian lain. Ia mem-posting pada hari pertama tarawih, dengan kalimat yang simpel, tetapi menarik bagi saya, "Tetap pada formasi 4-3-3," tulisnya. Ia sedang menggambarkan jumlah rakaat salat tarawih.

Statusnya membuat saya geli, hingga mendorong saya untuk bertanya, "Mas, emang ada di sana dengan formasi rakaat seperti itu?" Ia menjawab, "Adalah, Mas di sini," dengan tambahan emoticon ketawa di akhir kalimat. Seolah tahu, bahwa saya juga penganut formasi yang sama, tetapi susah mendapatkan tim dengan formasi seperti itu. Dalam hati saya timbul semangat untuk mencari tim serupa, demi melanggengkan keyakinan.

Asal Keyakinan

Atas dasar niatan tersebut, saya secara barbar bertanya kepada siapapun yang saya temui baik melalui media sosial maupun langsung. Pada umumnya saya mengajukan pertanyaan konfirmasi, "Mas, tahu tempat tarawih yang rakaatnya 4-4-3?" Mereka menjawab, "Sepertinya nggak ada, Mas."

Tidak patah arang, saya coba tanya lagi, hingga bertemu pada satu momentum. Dalam momentum tersebut, saya disadarkan dari pertanyaan. Saya mendapatkan momentum ini selepas salat dzuhur, dalam posisi tiduran di musala. Saya masih belum tahu jawabannya, kenapa karpet musala pada siang hari saat puasa nikmat sekali.

Berawal dari pertanyaan yang sama, teman saya malah balik bertanya, "Lha emang di kampungmu salat tarawihnya 4-4-3 juga?" Saya menjawab dengan anggukan kapala, lalu teman saya menjawab, "Ya mending salat tarawih di rumah, ini juga lagi pandemi."

Ketika mendapatkan jawaban singkat itu, saya lantas mengikutinya. Tetapi pertanyaan besar muncul, terdorong oleh rasa keingintahuan untuk mencoba mencari asal nilai yang saya yakini. Pikiran saya menuju pada satu kata kunci dari jawaban singkat dari teman saya yaitu "rumah". Kata kunci yang membuat pikiran saya melayang pada satu tempat, kurang lebih berjarak 1.500-an kilometer dari tanah rantau.

Di dalamnya terdapat lingkungan inti, yang membentuk nilai pada kehidupan saya hingga seperti sekarang ini. Saya seperti masuk dalam lorong waktu, dan bertanya pada diri sendiri, kenapa saya sampai sekekeh ini untuk mendapatkan tim dengan formasi 4-4-3, seolah formasi itu menjamin saya untuk meraih prestasi?

Bukan bermaksud merendahkan, atau menumbuhkan rasa intoleransi terhadap perbedaan pandangan keyakinan. Keyakinan yang saya miliki dilahirkan dari takdir yang tidak bisa diubah. Lahir dari kehidupan personal yang diukir oleh keluarga dan lingkungan sekitar penganut formasi 4-4-3 saat melaksanakan ibadah sunah salat tarawih. Bayangkan saja, pendidikan formal yang saya jalani menganut formasi serupa.

Wajar, apabila terbentuk nilai yang pada akhirnya menjadi sebuah keyakinan yang saya pegang. Mungkin juga dialami oleh beberapa manusia lain. Namun, saya mendapatkan sesuatu yang baru semenjak mencari pengalaman hidup di tanah rantau. Semua pengalaman personal yang terjadi membawa saya pada kesempatan upaya penyembuhan agar tetap menjadi pribadi yang waras.

Sambil baring-baring di mushola, saya merefleksikan diri, pada akhirnya mendapatkan sebuah pemahaman bahwasanya nilai yang saya anut datang dari keluarga dan lingkungan. Momentum culture shock kali ini justru menambah ketertarikan saya pada banyaknya jalan menuju sebuah prestasi pensucian jiwa pada bulan Ramadhan tahun ini. Kalau kata orang bijak, banyak jalan menuju Roma", tapi kali ini saya memodifikasinya kalimat itu menjadi "banyak jalan menuju rida-Nya".

Substansi Tak Penting Lagi

Saya jadi teringat pada sebuah buku yang dimiliki ayah, jumlah halamannya tidak begitu banyak, dan berisi cerita inspiratif, dibalut dengan kisah jenaka yang sopan. Karya Sukriyanto AR berjudul Anekdot dan Kenangan Lepas Tentang Pak AR .

Ada satu bagian cerita yang menarik, saat AR Fachruddin setelah kultum ba'da isya, ia ditawari sesepuh masjid untuk menjadi imam pada saat salat tarawih di salah satu masjid daerah Jawa Timur. Karena Pak AR tidak mau memaksakan keyakinan yang bersifat substansi, ia bertanya pada jamaah salat isya dan tarawih, "Kalau masjid sini jumlah rakaatnya berapa?" Jamaah secara kompak menjawab, "Dua puluh tiga rakaat!"

AR Fachruddin akhirnya mengimami sesuai keinginan para jamaah. Pak AR, sapaan akrab pimpinan Muhammadiyah itu, mengimami hampir 1,5 jam. Setelah rakaat ke delapan, AR Fachruddin bertanya kepada para jamaah, yang sudah tidak khusyuk karena terlalu lama, "Mohon maaf, apakah ini tetap melaksanakan 23 rakaat, atau langsung salat witir?" Seperti mendapatkan angin segar, para jamaah menjawab secara kompak, "Witir!"

Kabar tersebut sampai pada telinga Gus Dur. Setelah perjamuan buka, kemudian salat magrib, ia berbincang-bincang dengan Presiden Soeharto. Soeharto yang menginginkan salat tarawih diimami oleh Gus Dur bertanya, "Gus Dur sampai malam di sini?"

Karena ada acara Gus Dur menjawab, "Tidak, Pak saya harus pergi ke tempat lain." Menyadari hal tersebut, Soeharto meminta agar salah satu kiai NU tetap tinggal di Istana agar menjadi imam salat tarawih. Pada perjamuan tersebut ada salah satu kiai NU dari Betawi bernama Kiai Asrowi.

Karena Gus Dur sudah mendengar kabar dari salah satu masjid di Jawa Timur, yang salat tarawihnya 11 rakaat dengan formasi 2-2-2-2-3, menawarkan pada Soeharto, "Mau salat ngikutin NU baru atau lama?" Singkat cerita Soeharto memilih pakai cara NU baru yang lebih singkat, karena punggungnya capek.

Candaan ala ulama di masa silam begitu cair, mendamaikan dan sopan. Secara sadar dua ulama besar di atas bersepakat bahwa perihal substansi berbentuk formasi rakaat salat tarawih tidak lagi penting, yang paling inti adalah rida Allah, yang harus diraih sebagai sebuah inti.

Kembali ke Inti

Pengalaman hidup dari culture shock yang datangnya menahun akhirnya mengantarkan saya pada sebuah pemahaman. Jadi selama ini saya hanya menganggap substansi sebagai inti, yang berakibat fatal pada bergesernya inti keyakinan, hingga saya dibuat sibuk dengan urusan substansi saja.

Maka dari itu prestasi sejati pada bulan suci dapat kita raih dengan kembali ke inti keyakinan. Sehingga manusia dapat meraih prestasi sejati dengan cara saling menghargai keyakinan.

Semenjak itu saya tumbuh satu keyakinan, bahwasanya selama dasar tidak lenyap, mau dikasih bermacam formasi yang sifatnya substansi, asalkan memiliki landasan yang kuat dan akurat, jiwanya akan mampu menyesuaikan.

(mmu/mmu)